
"Ke Danau Toba, bang? Tapi katanya abang harus ikut," sambung Dira.
"Abang, kan kerja, sayang!" Defan mengecup pucuk kepala Dira. Perlakuannya sangat romantis, membuat Dira benar-benar ketagihan dengan kecupan hangat itu.
"Waktu abang libur kan bisa berangkat. Sabtu ini, gimana?" Dira melingkarkan satu tangan ke perut Defan, memeluk pria itu dengan lembut.
"Ehm ... sabtu ini, ya? Abang, lihat dulu, kalau nggak ada kerjaan dadakan sih, oke aja!" Kali ini Defan mendaratkan ciuman hangat di bibir tipis milik Dira.
"Kok lihat dulu sih? Kan biasanya juga abang libur hari sabtu! Pokoknya harus bisa dong, mau aku merajuk lagi, ya?" Ancaman Dira membuat Defan ketar-ketir.
"Iya, iya! Abang, kan harus pastikan semua kerjaan aman dulu, sayang! Mudah-mudahan nggak ada halangan, ya," kata Defan menenangkan.
"Terus, satu lagi, bang. Aku mau minta izin, besok ke rumah mamak, bapak. Mereka mau pindah. Abang, kan besok kerja tuh, aku aja sendiri kesana," ujar Dira, menatap lekat pria itu.
"Pindah ke mana?" Defan tampak berpikir, yang ia tahu, rumah Dira yang lama itu adalah peninggalan dari keluarga mamaknya Dira, Rosma.
"Aku juga belum tahu, ke mana pindahnya. Besok aku ceritain lagi," tutur Dira, entah mengapa matanya terasa begitu lelah, seperti sudah diambang batas lima watt.
"Lalu, nasib rumah lama bagaimana? Bukannya itu rumah peninggalan opungmu?" Defan menatap mata istrinya yang sudah sayu.
"Katanya mau dijual bang. Uangnya buat biaya sekolah ito-itoku." Tanpa terasa, Dira sudah menutup mata saat menjawab pertanyaan itu.
Defan pun hanya bisa tersenyum. Melihat gadis itu telah pulas tertidur. Lalu, ia pun ikut memejamkan mata, mulai mengarungi dunia alam mimpi seraya mendekap gadis itu dalam pelukan.
*******
Ting Tong
Suara bel rumah membangunkan kedua pasutri yang tengah tertidur pulas. Dira, perlahan mulai membulatkan kedua bola mata. Memastikan kalau pendengarannya tak salah.
Ting Tong
Suara bel kedua kali akhirnya menyadarkan Dira, ia mulai mebelalakkan kedua mata, lalu mendudukkan tubuhnya agar tersadar secara penuh. Ia mengucek bola mata, lalu menyisir rambut dengan jemari agar tampak rapih.
Defan yang masih pulas di dunia mimpi bahkan tak terganggu meski Dira sudah beranjak.
__ADS_1
Gadis itupun berjalan gontai mengarah ke daun pintu. Sebelum membukakan pintu, ia memastikan jam di dinding. Ternyata baru jam 6 pagi.
"What? Siapa pagi-pagi gini udah bertamu!" sesal Dira menggerutu.
Ia menarik daun pintu, di depan wajahnya ada inang simatua bersama Anggi berdiri mematung menanti tuan rumah menyambut mereka.
"Inang, kok nggak kabarin dulu mau kesini?" ucap Dira, mempersilahkan mertuanya itu masuk ke dalam rumah, sebelumnya ia mencium punggung tangan sang mertua dan pipi kiri-pipi kanan secara bergantian dengan Anggi.
"Iya, rindu kali aku samamu, nggak pernah kalian datang ke rumah kami!" tandas Melva, mengedarkan pandangan mencari sosok putra semata wayangnya.
"Duduklah, Inang ... Sebentar aku bangunkan Bang Defan dulu." Dira berjalan ke arah kamar, sedangkan Melva dan Anggi duduk di ruang tamu.
"Mak, apa nggak heboh kali mamak pagi-pagi gini ke rumah bang Def?" tanya Anggi menatap tajam ke arah sang mama.
"Nggaklah! Namanya juga rindu, kapanpun datang bisa aja!" kilah Melva.
Nyatanya, Melva sangat penasaran bagaimana nasib rumah tangga sang anak pasca menantunya itu lulus SMA. Rencana menimang cucu ingin segera terealisasi.
"Bang, Bangun! Ada, inang datang ke rumah!" ucap Dira setengah berteriak. Membangunkan pria yang tengah tertidur begitu lelap.
"Abang!" Dira menggoyangkan tubuh pria itu. Namun, Defan malah menarik lengan Dira hingga ia terhempas ke atas ranjang. Mencium bibir istrinya dengan lembut pagi itu.
Dira terdiam sejenak, menatap lelakinya yang baru saja membulatkan kedua bola mata. Sedari tadi, pria itu tak mendengar ucapannya mengenai kedatangan sang mertua ke rumah ini.
"Ada, inang di ruang tamu!" bisik Dira genit.
Sontak saja, Defan langsung terperanjat. Ia beranjak dari kasur, meski tubuhnya tak sepenuhnya sadar. "Ngapain?"
"Mana aku tahu ... tanyalah sama Inang, sana! Buruan udah ditungguin, pagi-pagi gini anaknya belum bangun. Ck!" decak Dira memelototi pria itu.
"Bentar, abang cuci muka dulu!" Defan langsung ke kamar mandi, membasuh wajah yang tampak sedikit bengkak.
Di depan cermin, ia melakukan senam wajah dengan huruf vokal AIUEO. Kemudian, menyugar rambut dengan sedikit membasahinya dengan air. Tak lama kemudian, Defan langsung keluar dari kamar mandi.
Mencari keberadaan istrinya tapi wanita itu sudah bersama mama dan adiknya di ruang tamu tengah mengobrol santai.
__ADS_1
"Mam, kok nggak bilang-bilang mau datang?" Defan meraih punggung tangan, mencium dengan lembut lalu mengecup pipi sang mama. Dilanjutkan dengan mengulurkan tangan ke adik bungsunya.
"Mama, rindu sama kalian! Kenapa kalian nggak pernah berkunjung ke rumah?" kilah Melva menatap sengit putra kesayangannya.
"Loh, baru dua hari lalu kami ke rumah. Yang acara kelulusan Dira itu, kok dibilang nggak pernah berkunjung!" Defan memperhatikan ke arah jam di dinding, memastikan kalau ia tidak akan terlambat untuk bekerja.
"Astaga! Lupa mama! Hehe ... kau nggak kerja?" cecar Melva penasaran.
Menurutnya, anaknya itu bangun terlalu siang, semenjak tinggal di rumah sendiri, Defan memang selalu bersantai. Tidak seperti di rumah kedua orangtuanya, bangun subuh karena harus sarapan tepat waktu.
"Kerja mak, nanti berangkat jam 7 atau jam 8. Mamak kok pagi-pagi kali kesini?" keluh Defan, merasa terganggu dengan tidur pagi ini.
"Udah dibilang, mamak rindu. Apalagi sama menantuku! Udah sana, kalau kau mau kerja, siap-siap!" titah Melva.
"Yaudah, ngobrol lah mamak sama istriku. Aku mandi dulu." Defan berpamitan, lalu meninggalkan mama, adik dan istrinya yang melanjutkan pembicaraan kita.
"Nggi, keluarkan semua makanan yang dibungkusan tadi. Biar sarapan sama-sama kita!"
Anggi pun langsung sigap berdiri mendengar perintah sang mama. Begitu juga dengan Dira, ia merasa tak enak diam saja. Saat hendak berdiri, menyusul kepergian Anggi ke arah dapur, Melva mencegahnya.
"Sini aja kau, Dir! Biarkan si Anggi yang urus itu," jelas Melva, melemparkan senyum lebar pada menantu kesayangan.
"Iya, Inang."
Dira langsung duduk di samping wanita paruh baya itu, menatap lekat kedua manik indah. Saling tatap dan tersenyum ramah.
"Jadi kayak mana tanda-tanda kehadiran cucuku?" Melva menggegam tangan Dira begitu lembut.
"Astaga! Baru dua hari kami melakukan itu, sudah ditodong cucu!" batin Dira, dalam lamunan.
"Dir?" panggil Melva penuh kelembutan.
"Iya, Inang. Ehmm ... Dira juga nggak tahu," jawab Dira, dengan kikuk.
"Tapi ... kau sama Defan sudah itu kan?" tanya Melva, penuh selidik.
__ADS_1
Dira terdiam sejenak, mencerna ucapan mertuanya itu. Meski sebenarnya ia langsung menangkap maksud pertanyaan yang dilontarkan.
"Sudah, Inang!" Dira malu-malu, menundukkan kepala, lalu memberanikan diri menatap mertuanya.