Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
mandi bersama


__ADS_3

"Ada-ada ajalah pertanyaan kau Dir. Ya kau usahalah gimana cara meluluhkan hati suamimu. Kalau kau tanya sama kami yang tua-tua ini, udah beda zamannya. Caranya pun nggak sama lagi," kekeh Melva yang saat ini sibuk memasak dibantu oleh besannya.


Padahal pembantunya banyak, tetapi ia ingin menyajikan makanan yang dimasak dengan tangannya sendiri.


"Coba kau tanya sama kawan sebayamu. Cara dekat sama laki-laki bagaimana," sambar Rosma tak mau kalah.


"Ah kawanku pula yang ditanya. Mana ada pengalaman orang itu," beber Dira tertunduk malu.


"Oh iya-ya, lupa mamak hahahha." Rosma tertawa terbahak-bahak diikuti oleh Melva. Tawa keras mereka saling bersahut-sahutan membuat Dira semakin salah tingkah.


"Udah sana kau mandi dulu. Istirahat bentar sebelum mulai makan malam," pungkas Rosma.


"Iya sayang, mandi dulu sana. Sekalian bangunin si Defan, tidur kayaknya dia," lontar Melva yang sedang mencicipi masakannya.


Dira mengangguk, kemudian beranjak dari kursinya. Ia berjalan gontai menuju kamar Defan di lantai dua.


Setelah tiba di depan pintu, ia menarik daun pintu kamarnya. Ternyata Defan sedang tertidur pulas di ranjang empuknya.


Mumpung abang masih tidur, aku mandi dulu ah! Gerah kalipun!


Dira bergumam seorang diri. Berjalan santai menelusup kamar. Perlahan ia masuk ke dalam kamar mandi. Melepaskan semua bajunya secara perlahan.


Kayanya enak nih berendam dulu. Mumpung sudah sore, badan juga lengket kali!


Dira mengisi air di dalam bathup. Menggunakan air hangat, menambahkan sabun ke dalam bathup tersebut agar ia bisa bermandikan busa.


Kemudian menggulung rambutnya ke atas kepala. Mencepol rambut dengan sederhana. Ia berjalan pelan menuju bathup yang telah terisi penuh dengan air hangat.


Perlahan kakinya masuk ke dalam bathup, ia menduduki bathup itu lalu menenggelamkan tubuhnya. Kepalanya disandarkan pada sisi bathup, kemudian memejamkan matanya perlahan.


Pemandiannya sangat dinikmati. Tak terasa mata itu terpejam sangat lama. Dua puluh menit berlalu, Dira tak kunjung membuka matanya.


Suara langkah kaki yang lebar mengisi ruangan kamar itu. Defan ternyata telah bangun dari tidurnya, menoleh ke atas, melihat jam dinding yang ada di kamarnya.


Ternyata sudah jam setengah enam sore. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi. Menarik handel pintu serta masuk ke dalamnya.


Sebelum mandi, ia tak melihat seisi ruangan, disana ada Dira yang sedang berendam dan tertidur pulas.

__ADS_1


Sementara Defan melepaskan bajunya satu-persatu hingga tak berbalutkan kain. Ia kembali mendekati pintu, lalu menguncinya.


Klek


Pintu terkunci dengan kencang. Defan melihat dada bidangnya ketika melewati cermin diatas wastafelnya. Kemudian berjalan gontai tanpa memakai sehelai benangpun ke arah bagian bathup.


Kamar mandinya cukup luas, ketika masuk dari pintu, hal yang pertama ditemukan adalah wastafel beserta cerminnya. Disana tertata rapih gelas kecil serta sikat gigi beserta odolnya, disamping cermin ada lemari kecil berisikan handuk.


Untuk masuk ke pemandian, Defan harus berjalan lagi ke depannya bathup dan shower di tempat terpisah. Tanpa pikir panjang, Defan membasuh tubuhnya dibawah shower yang tak jauh dari posisi bathupnya. Tak ada suara apapun saat Defan masuk ke kamar mandi, jadi ia pun berpikir tidak ada orang di dalamnya.


Defan membasahi rambutnya dan mengaliri air ke seluruh tubuhnya. Menggosok badannya secara perlahan, membalurkan sabun merata ke tubuhnya. Tak lupa ia mencuci mukanya yang tanpam.


Muka itupun penuh dengan sabun, ia mematikan sejenak air showernya. Menggosok-gosok secara perlahan busa yang ada di wajahnya.


Tiba-tiba, Dira terbangun dari tidurnya. Matanya terbuka dengan cepat. Ia baru menyadari kalau saat ini masih berendam di air yang sudah tak terasa hangat lagi.


Kemudian Dira beranjak, berjalan gontai menuju ruang pemandian shower. Menarik daun pintu yang terbuat dari kaca bening itu. Karena banyak embun di kaca, ia tak melihat ada jejak orang lain disana.


Setelah masuk, betapa terkejutnya Dira, ada seorang pria yang sedang asik menggosok wajahnya dengan pelan.


"Aaaaaaaaaaa..!!!" pekik Dira berteriak karena terkejut setengah mati.


Loh siapa juga yang mandi di rumah sendiri pakai baju? 🤣


Setelah berteriak, Dira meneliti dari bawah kaki hingga keatas. Tubuh gagah Defan sudah ternistakan.


Ia melihat tubuh kekar Defan, bokong hingga yang menggandul disana dengan rambut tipisnya. Belum lagi dada bidangnya yang aduhai membuat mata Dira terbebalak lebar.


"Heh ngapain kau disitu," pekik Defan yang juga terkejut dengan kehadiran Dira tanpa menggunakan sehelai benang pun sedang diam mematung. Tubuh itu yang ketiga kalinya dipelototi meski tak bisa tersentuh.


Mereka masih belum sepenuhnya tersadar, Dira yang baru saja terbangun dan pikirannya masih diawang-awang, sedangkan Defan yang tidak tahu-menahu dan diserang dengan kehadiran Dira yang begitu saja ada dibelakangnya, tiba-tiba saat ini mendapatkan pemandangan aneh yang luar bisa.


Setelah benar-benar sadar, keduanya kompak berteriak.


"Aaaaaaaa..."


Dira langsung berlari keluar dari dalam ruangan shower. Ditutupnya dengan rapat pintu berbahan kaca itu.

__ADS_1


Dira mengambil sebuah handuk dari lemari yang ada atas samping cermin. Membalutkan tubuhnya dengan handuk putih itu.


Sementara didepan pintu kamar mandi, sudah ada kehadiran Rosma dan Melva. Mereka mendengar teriakan hingga dua kali, langsung menyambangi asal-musal suara teriakan.


Rosma dan Melva sudah mencoba membuka pintu tetapi pintunya terkunci. Di depan pintu mereka berdua kebingungan.


"Gimana nih dak? Apa kita buka paksa?" ucap Rosma khawatir mendengar teriakan Dira.


"Apa mungkin mereka sedang mandi berdua?" sambung Melva dengan polosnya.


"Ah masa sih dak? Mereka kan belum boleh melakukan hal itu," beber Rosma memicingkan matanya, mendapat balasan tatapan tajam dari Melva.


"Iya juga sih! Apa ada sesuatu yah?" tutur Melva seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Ceklek


Sura pintu terbuka. Dira keluar dari kamar mandi juga dibuat terkejut karena kehadiran mertua dan mamaknya.


"Astaga! Inang, Mamak? Ngapain ada disini?" sungut Dira tak habis pikir dua kali mendapatkan kejutan tidak terduga.


Rosma dan Melva langsung mendekati Dira, karena penasaran dengan teriakan tadi.


"Kenapa tadi teriak-teriak? Siapa yang teriak?" cecar Melva penasaran.


"Iya kau kenap—"


Belum juga Rosma menyambungkan pertanyaannya, Dira langsung menyambar kedua perempuan yang tengah mati penasaran itu.


"Enggak! Enggak ada apa-apa kok Nang, Mak," jawab Dira bergetar. Ia tak mungkin memberitahukan kebenaran yang terjadi saat itu.


Sementara Defan baru saja menyudahi ritual pemandaiannya. Setelah wajahnya dan tubuhnya bebas dari sabun, ia berjalan gontai seolah tidak ada yang terjadi. Mengambil handuk dengan santainya, menggulungkannya dibagian pinggangnya.


Ceklek


Defan keluar dengan wajah datarnya. Sementara Dira, mertua dan mamaknya menoleh ke arah pintu, dimana Defan berada dan berdiri dengan polosnya.


"Hah? Kok keluar kau dari situ Def?" teriak Melva histeris.

__ADS_1


Baru saja ia melihat Dira keluar dari kamar mandi yang sama, kini anaknya juga keluar dari kamar mandi itu.


"Apa kalian mandi bersama?" pekik Rosma kehilangan akalnya.


__ADS_2