
"Kalau soal itu, nggak mau janji ah!" Defan beranjak, lalu menggendong wanitanya dengan penuh kelembutan.
Dira hanya pasrah, entah mengapa suaminya terlalu perhatian. Bahkan, ia tak menolak untuk membersihkan tubuh Dira. Lelaki mana yang mau meluangkan waktu hanya untuk membersihkan area keintiman sang istri usai mendapatkan kemauannya?
Mungkin, dari 1000 laki-laki di dunia ini, salah satunya hanya Defan yang mau melakukannya. Setelah menggendong istrinya dengan kemesraan, Defan pun mencuci area keintiman sang istri.
Dira hanya terdiam, kala lelakinya itu sibuk meluangkan waktu, menunduk ke bawah, membersihkan miliknya penuh ketelatenan.
"Ingat loh, bang! Jangan nafsu," kecam Dira, sembari mengelus pucuk kepala suaminya.
"Iya, sayang. Mau di sini nggak?" canda Defan mengajak istrinya untuk melakukan penyatuan di kamar mandi.
"Enggak ah, capek! Baru juga 10 menit yang lalu terpuaskan. Udah minta lagi, tuh kan nggak tepat janji," keluh Dira, menundukkan kepala, menatap tengkuk Defan.
"Yaudah, tapi nanti kalau ronde kedua pengen, boleh, ya?" pinta Defan, menengadahkan kepalanya, menatap gadis kecil itu.
"Hmm ... lihat nanti ajalah." Dira akhirnya berjalan gontai dari kamar mandi setelah area bawahnya bersih sempurna.
Sementara Defan, ia juga mencuci area bawah miliknya. Meski tak ditunggu oleh Dira, ia sibuk saja membersihkan dalam waktu singkat.
"Sayang, tunggu!" Defan berlari mengejar kepergian Dira.
Dira lebih dulu sibuk memakai piyama yang berserakan di lantai, disusul oleh Defan, ia langsung memakai piyama miliknya.
"Abang, aku lapar lagi," rengek Dira, menghentakkan kaki ke lantai.
"Hah? Baru 30 menit yang lalu loh, yang. Kau makan sebanyak itu! Lupis juga kau habiskan sendiri," protes Defan.
"Nggak tahulah! Lagian udah mau makan malam juga!" ucap Dira bernada manja.
"Hmm ... yaudah siap-siap aja, mau makan di luar atau pesan online?" tawar Defan.
"Kalau di luar harus ganti baju lagi, ya?" Dira masih memikirkan tawaran suaminya.
__ADS_1
"Yaiyalah, masa pakai piyama makan malam di luar sih," sindir Defan, kemudian merebahkan diri di atas ranjang karena jawaban Dira masih ambigu.
"Hmm ... pesan online aja deh. Aku malas mau siap-siap lagi, ribet kalau mau keluar juga. Badanku capek!" tampik Dira.
"Yaudah, apa sih yang enggak buat sayang abang ini, mau makan apa?" Defan memeluk sang istri yang baru saja ikut merebahkan diri di ranjang.
"Ehmm ... itu ya, kalau pesan online cuma bisa pesan satu jenis makanan aja? Aku tuh pengen makan banyak bang. Kayak tadi yang ku bilang itu loh, soto medan, nasi padang, ayam bakar, apalagi ya ...?" Dira kembali memikirkan keinginannya.
"Yaampun, sayang! Apa habis semua itu! Udah malam loh, nanti kau jadi gendut," ledek Defan seraya mengacak-acak rambut istrinya dengan gemas.
"Ih, aku pengen semua itu loh bang. Bisa pesan nggak? Kan bisa pesan sekaligus juga, bang! Cek deh aplikasinya," ujar Dira sembari terkikik geli dengan permintaannya sendiri.
"Oh, gitu ya? Tapi pasti habis semua kan?" cecar Defan, meraih ponsel di atas nakas, membuka aplikasi pemesanan makanan online sesuai perintah istrinya.
"Habislah! Udah abang pesan, cepat! Perutku udah bunyi-bunyi dari tadi," beber Dira.
Di atas ranjang, Defan memilih-milih makanan yang hendak ia pesan. Sesuai permintaan Dira, ia memesankan soto medan, nasi padang, ayam bakar bahkan martabak untuk cemilah wanita itu bila kelaparan tengah malam.
"Tuh, udah abang pesan semua!" Defan menunjukkan layar ponsel, dalam sekali pesan ada beberapa driver yang menerima orderan.
"Awww, sakit yang!" pekik Defan mengelus pipinya yang terasa perih.
"Upss! Maaf!" Dira langsung membalas dengan ciuman di pipi bekas cubitan tadi.
Setelah menunggu hampir 30 menit, para pengantar makanan pun berdatangan. Membawakan pesanan Dira dan Defan. Dengan sigap, Defan yang mengambil semua pesanan itu.
Dira langsung duduk di meja makan karena merasa tak sabaran. Ia sudah menyiapkan dua piring berisi nasi untuk dirinya dan suaminya. Lengkap beserta sendok dan minuman mereka.
Saat melihat Defan menenteng beberapa kantong plastik, Dira langsung mendekati pria itu. Merampas satu kantong karena sangat tak sabar untuk menikmati.
"Yaampun, yang, udah kelaparan kali kau," lirih Defan seraya menggelengkan kepala.
"Udah cukup sabar aku menunggu 30 menit, bang!" keluh Dira, lalu membongkar kantong plastik yang dia pegang.
__ADS_1
Ternyata, dalam kantong plastik itu adalah soto medan. Dira mengambil mangkok dari dalam lemari. Menuangkan soto medan itu ke dalamnya.
Kemudian, kuah santan itupun langsung dia seruput. Lalu, menyantap mihun dan telor serta sayuran-sayuran yang ada di dalamnya.
"Nggak pakai nasi, yang?" tawar Defan, menyodorkan nasi yang ada di piring.
"Enggak ah, nanti makan ayam bakar aja pakai nasi," tolak Dira seraya menghabiskan soto medan di mangkok tersebut.
Sementara, Defan menyantap ayam bakar dan nasi. Keduanya masing-masing sibuk menghabiskan makanan yang ada di depan.
Punya Dira pun habis dalam sekejap, tiba-tiba ia mengambil ayam bakar yang sudah dibuka oleh suaminya. Lalu, meletakkan ke atas piring yang berisi nasi.
Dira langsung melahap ayam bakar itu dengan semangat. Satu porsi nasi dan satu potong ayam bakar bahkan habis lebih dulu dari pada punya suaminya.
"Astaga!" Defan hanya menatap histeris ke arah istrinya.
Dira membalas dengan cengiran kuda. Lalu, ia membuka nasi padang terakhir pesanannya. "Habis nggak itu, sayang? Kalau udah kenyang, nanti kan bisa dilanjut loh!" desah Defan sebelum menyuapkan nasi terakhir miliknya.
Dira dengan cuek saja tanpa menjawab pertanyaan suaminya, membuka bungkusan terakhir. Dengan lahap, ia memakan nasi padang berisi rendang dan rebusan daun ubi. Tak lupa, sambal hijau pun ia habiskan.
Defan hanya bisa bergeleng-geleng melihat istrinya yang kalap menghabiskan semua makanan. Hanya tertinggal martabak manis di meja makan.
Karena bukan keinginan Dira, martabak itu tidak ia cicipi. Dira mencuci tangannya yang kotor setelah menghabiskan nasi padang itu. Lalu, berselonjoran di ruang keluarga bersama suaminya.
"Duh, mau meletus perutku, bang!" ucap Dira mendramatisir, mengelus perut yang mulai membucit karena kebanyakan diisi makanan.
"Gimana nggak meletus perutmu? Makanmu aja banyak kali. Udah kayak orang kesetanan," cibir Defan.
"Namanya juga lapar! Hehe," gurau Dira sembari menunjukkan cengiran kuda.
"Oia, bang! Tadi aku udah siapkan barang bawaan kita, jadi lusa mau berangkat jam berapa? Kawan-kawanku ngusulin berangkat subuh, nah kalau jadi subuh, mereka mau menginap di sini dulu," ucap Dira saat teringat permintaan ketiga sahabatnya.
"Oh gitu, subuh? Kenapa nggak pagi aja?" tandas Defan.
__ADS_1
"Kalau berangkat subuh, kita sampai di sana pagi, bang! Terus kita bisa lanjut jalan-jalan, ke wisata yang ada di sana lah! Masa cuma ke danau toba doang!" hardik Dira.