Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
seorang penyanyi


__ADS_3

"Sini kau!" titah Jefri, menunjuk Carol dengan jari telunjuk.


Carol berjalan seraya menunduk, lalu ia menghela nafas, mengeluarkan nafas kasarnya yang begitu berat.


Hufttt


Carol berdiri di depan Jefri tanpa mengucap apapun. Ia menunggu perintah apalagi yang akan disuruh oleh seniornya.


"Keliling lapangan sebanyak—"


Belum juga Jefri menuntaskan ucapannya, sudah dipotong oleh Carol.


"Jangan keliling lapangan, bang! Nggak lihat kakiku sakit karena kau suruh kemarin keliling lapangan!" tandas Carol, bernada ketus.


"Berani kau, ya!" ucap Jefri, kesal tapi ia memikirkan hukuman apa lagi yang pantas diterima Carol.


"Ya, kakiku pegal-pegal karena keliling lapangan! Sekarang abang suruh lagi aku keliling lapangan, emangnya ini lagi pelatihan militer!" ketus Carol, mengernyitkan alis.


"Oke, kalau gitu, kau dikasih hukuman nyanyi lagu batak!" sambung Jefri, opsi terakhir selain kegiatan fisik, ia sudah memikirkan matang-matang tentang hukuman itu.


"Oke!" sahut Carol menerima tantangan.


****


Di dalam kelas, Dira dan Jenny bosan memainkan 'game putar barang'. Meski alibi para senior kalau permainan itu untuk menjalin keakraban satu sama lain, tetap saja membosankan bagi mereka.


Bagaimana tidak, game itu hanya seputar bertanya jawab, saat barang yang digunakan yaitu sebuah pensil berputar, berhenti menunjuk ke orangnya, para senior hanya sekedar menanyakan cita-cita, umur berapa, hasil nilai rapor, dan seputar akademik saja.


"Jen, bisa nggak sih ospek kita diskip aja," keluh Dira yang bosanan setiap melakukan kegiatan yang tidak seru.


Saat itu, mereka sedang beristirahat, Jenny dan Dira duduk di ruang kelas. Sementara, Angga sedang dikerumuni para mahasiswi. Benar-benar sesuai dugaan, Angga menjadi pujaan para wanita di kelas.


"Udah jalani aja, Dir! Di luar sana banyak orang yang mengeluhkan soal ospek. Apalagi si Carol, nggak kau lihat kemarin dia keliling lapangan," cetus Jenny.


"Apa, iya? Nggak kulihat pula kemarin. Kasian kali dia." Dira memelototkan matanya lantaran terkejut.


"Iya, banyak pula, 10 kali kurasa. Capek kali dia itu, kau tanya aja nanti sama dia," papar Jenny.


"Udah bisa istirahat belum sih kita?" gerutu Dira, dengan malas menatap sekitar. Para seniornya juga masih duduk-duduk tidak ada kerjaan, bahkan tak peduli dengan maba yang asik mengobrol sendiri.


...****...


Carol mulai bernyanyi di depan maba dan senior. Jefri memberikan sebuah pulpen, sebagai pengganti mic.


"Lagu apa kau nyanyikan?" cecar Jefri, sebelum Carol mulai melantunkan lagu.


"Mardua Holong."


"Waw! Apa kau diduakan?" kekeh Jefri tertawa terbahak-bahak, diikuti tawa renyah dari yang lain.

__ADS_1


Carol hanya diam saja saat diejek oleh senior. Belum bernyanyi sudah mendapat cibiran, padahal ia hanya ingin menyanyikan meski tak pernah mengalami apa yang terjadi dalam lirik dalam lagu. Lagi itu hanya terdengar enak di telinga.


"Kita sambut penyanyi di kampus jurusan arsitektur, Carol!" teriak Jefri berpura-pura sebagai pembawa acara.


Riuh tepuk tangan membuat Carol semakin kikuk. Ia jadi malu ditonton oleh teman sekelas.


"Ehmm ..." Carol berdehem sebelum memulai bernyanyi untuk sekedar test suara. Tak berselang lama, suaranya mulai didengarkan oleh orang-orang di sana. Termasuk para dosen yang saat itu melintas.


Denggan do nian ito


Hita na mamukkah padan


Denggan ma nian molo tung ikkon sirang


Unang pola be hita mardongan-dongan hasian


Holan na mambaen haccit ni rohai


Semua maba termasuk senior bertepuk tangan, memuji suara emas Carol. Untuk urusan bernyanyi, tak salah selama SMA, dirinya bersama ketiga sahabatnya sering bernyanyi ditempat karaoke.


Jefri yang mendengar suara indah Carol sangat takjub dan terpukau. Ia mendengarkan lantunan lagu dengan serius. Masuk dibait kedua, Carol menghayati nyanyinya seolah-olah dia benar-benar seorang penyanyi.


Arian nang borngin i sai busisaon rohakki


Boha do ujungi hubunganta hasian


Sai hurippu do ito setia ho saleleng on


Tarsongon bunga naung malos diladangi


Songoni ma rohakki nunga malala


Dang hurippu songoni


Di bahenho holonghi gabe meam-meammu


Sae ma ito, sai ma sude


Sae ma holan au na gabe korbanmu


Marisuang ari manang tikki i


Holan alani cinta palsumi


Sae ma ito, sai ma sude


Sae ma holan au na gabe korbanmu


Marisuang ari manang tikki i

__ADS_1


Holan alani cinta palsumi


Holan alani cinta palsumi


Usai menyanyikan lagu, Carol menunduk penuh hormat karena diberikan kesempatan untuk menghibur teman-temannya. Seluruh maba dan senior memberikan standing applause pada Carol atas aksi yang memukau.


"Waw! Luar biasa suaramu, dek!" puji Gembi sembari bertepuk tangan meriah.


Jefri juga mengakui suara Carol yang bagus. Meski ada nada yang meleset, wajar saja untuk anak yang tidak sengaja fokus les vokal memiliki suara bagus, bakat Carol hanyalah otodidak semata.


...***...


Saat istirahat, Dira dan ketiga sahabatnya berkumpul di kantin kampus. Keempat wanita itu mulai menceritakan kisah yang mereka alami semasa ospek.


"Bosan kali aku masa ospek ini," keluh Dira, menyantap makanan untuk mengisi perut saat makan siang.


"Iya, nggak seru ospek kami," tambah Jenny, seraya menyesap es teh manis.


"Kalau aku capek kali!" keluh Carol, mendapat perhatian tajam.


"Aku sih seru-seru aja, ada babang yang kutaksir pula," sambar Shinta, mulai heboh.


"Betul kau, Rol, keliling lapangan kemarin?" tanya Dira mengalihkan pembicaraan, teringat pada perkataan Jenny saat ospek tadi.


"Hu'um, kejam kali seniorku bah!" desah Carol, mengunyah makanan, lalu menggulum dengan cepat.


"Terus hari ini kau diapain lagi? Jangan takut kau, lawan aja kalau udah ditindas," ucap Dira, sok tahu memberikan nasihat.


"Oh, jangan kau tanyalah soal lawan-melawan. Udah kulakukan itu sejak hari pertama, tadi juga kulawan dia, masa aku disuruh lagi keliling lapangan, siapa yang nggak kesal coba?" timpal Carol, berbicara menggebu-gebu.


"Terus kau keliling lagi, Rol?" Jenny semakin geram mendengar cerita sahabatnya, ingin saja ia melabrak senior jahat tersebut.


"Enggak!"


"Jadi gantinya apa?" sahut Shinta, penasaran.


"Jadi disuruh nyanyi," ucap Carol datar.


"Terus, kau nyanyi di depan mahasiswa?" Jenny menyilangkan tangan di dada, setelah menghabiskan es tehnya.


"Iyalah, kalau nggak nyanyi apalagi? Untung aku bisa nyanyi," tandas Carol seraya manggut-manggut.


"Oh, kalau soal nyanyi, si Carol lah jagonya, jangan dilawan, iya, nggak, Rol?" Dira berdecak kagum karena ia tahu kemampuan Carol soal bernyanyi, begitupun dengan Jenny dan Shinta.


"Tepuk tangan semua orang itu! Ramai kalilah pokoknya." Carol berdiri seraya bertepuk tangan menirukan yang dilakuman para penonton usai ia menyelesaikan nyanyiannya.


"Wih, mantap kali!" Shinta mengacungkan jempol, memuji Carol yang sangat percaya diri menyanyi di depan khalayak ramai.


...***...

__ADS_1


Ospek berlanjut lagi, seperti biasa keempat wanita itu membubarkan diri dari kantin kampus.


Beberapa jam berlalu, semuanya pulang dengan semangat. Dira dan Jenny berjalan keluar kampus bersamaan. Di halaman, bertemu dengan Shinta dan Carol yang sengaja janjian untuk pulang bersama.


__ADS_2