Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
bintang lima


__ADS_3

"Kesempatan, ye, kan!" ejek Dira, tertawa-tawa seorang diri.


"Ah, tapi Jefri itu senior yang baik. Ya, walaupun kejam di awal-awal! Hehe!" tambah Jenny, menertawai tingkah Carol terus-menerus.


"Awas loh, awal-awal benci, lama-lama jadi suka!" desah Dira, saat mengingat pengalaman dirinya sendiri yang akhirnya jatuh cinta pada sang suami.


"Hmm ... itu sih, kau!" kekeh Carol, menepuk pundak Dira.


****


Shinta baru menyelesaikan makan siang bersama teman sekelas. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk berbincang-bincang pada seniornya.


"Abang, sudah punya pacar?" cetus Shinta, to the point, Panja pun langsung menoleh padanya.


"Sudah."


"Hah? Pacarnya yang kemarin ketemu di kantin?" cecar Shinta, menatap penuh sesal.


"Kok tahu?" Panja membalas tatapan Shinta, keduanya pun sudah selesai makan, hingga melanjutkan dengan obrolan ringan.


Namun, ada beberapa orang yang masih melanjutkan makan siang, menghabiskan mie goreng hasil buatan tugas bersama selama ospek hari ini.


"Nggak sengaja lihat sih!" tambah Shinta.


"Pupuslah harapanku," lanjutnya lagi.


"Harapan apa?" Panja, terdiam sejenak, memikirkan maksud kata-kata Shinta.


"Hehe ... lupakan sajalah! Besok terakhir ospek, ya, bang! Kita nggak sering jumpa lagi dong?" balas Shinta, menatap lekat pria yang berada di sebelahnya.


"Masih tetap jumpa, kan satu kampus!" Panja terkekeh kecil.


"Iya, sih! Tapi nggak seperti semasa ospek! Sudah berapa lama hubungan abang terjalin?" ujar Shinta, mengembalikan topik pembicaraan tersebut.


"Baru satu bulan kok." Panja hanya tersenyum tipis, membalas tatapan Shinta.


"Oh, baru! Masih ada kesempatan buatku, ya? haha!" gurau Shinta, seraya tertawa kecil.


"Entahlah!" sahut Panja, yang sudah menyadari tentang perasaan Shinta yang sesungguhnya.


Obrolan berakhir, sesi ospek berlanjut. Semua maba duduk kembali di kursi. Para senior tengah memikirkan tugas apalagi yang harus diberikan pada anak jurusan hukum.


****


Carol bersama Dira dan Jenny berpisah setelah menyantap makan siang di kantin. Dengan nafas yang berat, Carol kembali ke dalam kelas.


Bsgitu pula dengan Jenny dan Dira. Mereka merasa jenuh untuk melanjutkan penataan karya tas dan name tag.


Hiruk pikuk di dalam kelas mulai terdengar. Semua mahasiswa sibuk melanjutkan karya tangan hasil ciptaan sendiri.

__ADS_1


"Jen, sudah berapa persen progres pembuatan name tag?" tanya Dira, mengedarkan pandangan, teman-teman lainnya sudah mengerjakan hampir setengahnya.


"50 persenlah, kalau tas punya kita?" balas Jenny, menatap tas hasil karya Dira yang begitu unik.


"Udah kubereskan satu tas, tinggal punyamu aja nih!" sahut Dira, mengangkat satu tas hasil buatannya.


Bentuknya unik, tas itu cukup lebar seperti sebuah totebag tapi dibuat dengan bahan plastik yang dieratkan dengan jahitan tangan dan lem.


"Cantik, ya!" puji Jenny, membuat lengkungan lebar di sudut bibir.


"Iya, dong! Dulu kan cita-citaku mau jadi seorang designer! Tapi malah berkecimpung di dunia kedokteran!" sesal Dira, menatap kelas yang terdengar berisik lantaran suara riuh antar mahasiswa.


"Ehm ... aku tahu!" sahut Jenny, melanjutkan keterampilan tangannya membuat name tag untuk Dira.


****


"Jun, pekan depan sudah lanjut sidang kasus korupsi. Apa ada kabar dari Jaksa?" tanya Defan, sembari menyantap mie ayam yang dibelikan oleh asistennya.


"Belum ada, pak tapi dari berita dikabarkan gubernur itu akan ditetapkan sebagai tersangka!" terang Juni.


"Kalau itu sih, saya juga baca! Masalahnya kita hanya tinggal menunggu hasil akhir saja. Pembelaan untuk pak yadi sudah selesai di awal. Kita hanya perlu mendampingi selama masa sidang dan pemeriksaan lanjutan," jelas Defan, mengakhiri makan siangnya, sebab sudah habis mie ayam di dalam mangkok tersebut.


Ia berjalan gontai setelah meneguk air mineral, berjalan kembali ke kursi kebesarannya. Meja kerja pun terlihat berantakan, ia sedikit merapihkan tatanan letak berkas yang berada di atas meja.


****


Carol masuk ke dalam kelas, semua mahasiswa sudah duduk dengan rapih. Menunggu kedatangan senior mereka.


"Cieeee! Carol, udah makin akrab kau sama bang jefri, ya!" celetuk Grite, iseng meledek temannya.


"Hussh!!" Carol ingin membungkam mulut Grite tapi sudah tidak sempat karena semua anak mendengar ejekan tersebut.


"Cieee!" yang lain ikut berteriak.


"Udah jadian rupanya kelen, Rol?" tambah Anak lain, menimpali.


"Nggak!" jawab Carol singkat.


"Nanti juga lama-lama jadian!" timpal Mahasiswa lainnya.


Senior kembali masuk, para maba ditegur. "Heh! Jangan berisik, kita lanjut ospek lagi. Semua keluar lapangan!" titah Jefri, berteriak agar seluruh mahasiswa mendengar.


"Huuuu," seru seluruh Maba.


Semuanya mengikuti perintah Jefri, termasuk Carol, dengan malas ia keluar dari ruangan. Namun, tangannya di cekal saat berada diambang batas pintu.


Jefri menyodorkan sebuah coklat silverqueen pada Carol seraya berbisik serta melayangkan senyum yang lebar. "Ini untuk ratu."


Carol terdiam sejenak, menatap coklat yang digenggam Jefri, lalu mengarahkan pandangan pada wajah Jefri seperti pria polos yang sedang jatuh cinta.

__ADS_1


Tak terasa, jantungnya berdegup dengan kencanf. Hati itu terasa bergetar, kala mendapatkan perhatian kecil dari sang senior.


"Astaga! sadar, Carol!" gumamnya, seraya membuyarkan lamunan.


"Nih! Ambil!" ucap Jefri, memajukan uluran tangan agar diraih oleh Carol.


Tanpa mengucap apapun, Carol menerima pemberian Jefri. Ia bergegas pergi menjauhi seniornya. Menatap coklat yang sudah berpindah tangan.


"Apa sih maksudnya ini?" tandas Carol membatin, menatap lekat coklat pemberian seniornya.


Grite dari belakang menghampiri, ia memang tidak melihat kejadian tadi. Sebab, Jefri secara sembunyi-sembunyi memberikan coklat tersebut.


"Ada apa, Rol?" sambar Grite, berdiri di samping Carol.


Namun, Carol segera memasukkan coklat ke dalam tas. "Nggak apa-apa kok!" jawab Carol, menoleh pada teman satu kelasnya.


"Oh ... kukira ada yang kau sembunyikan!" kekeh Grite, menatap lekat wajah Carol seraya berjalan mengekori anak-anak lain dan seniornya.


****


Ting ...


Satu notifikasi masuk di ponsel Dira. Pesan dari suaminya, mengabarkan bahwa hari ini mereka akan makan malam diluar.


My Husband ...


Yang, nanti kita makan di resto ya? Abang sudah reservasi restoran yang berada di dalam hotel bintang lima.


Tak lama kemudian, Dira membalas pesan dari suaminya walau hanya sekedar pesan singkat, sebab ia masih sibuk menyelesaikan karya tas untuk diserahkan sebelum jam ospek berakhir.


****


Ting...


Suara ponsel Defan berdenting, ia buru-buru membaca pesan masuk dari sang istri.


Dira


Oke!


Alis Defan mengkerut, ia menatap dalam-dalam pesan dari sang istri. Tidak biasanya sedatar itu.


"Apa dia lagi sibuk?" batin Defan, menatap ponselnya begitu lama.


Flashback ...


Setelah makan siang, Defan menatap laptop yang ada di hadapan. Ia mencari rekomendasi hotel persiapan menginap pekan depan, setelah Dira menyelesaikan masa nifas.


Namun, untuk memastikan hotel itu sesuai keinginannya, ia berniat untuk mencoba makan malam pada resto yang berada di dalam hotel bintang lima tersebut.

__ADS_1


"Cocoklah ini!" kata Defan bergumam.


__ADS_2