Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
masalah baru


__ADS_3

"Ada apa, pak?" tanya Defan, tanpa basa-basi pada CEO S.N.G Lawfirm yang fokus menandatangani tumpukan berkas di meja.


Saat mendengar anaknya masuk, Desman langsung menoleh, menatap anaknya dengan datar. Namun, ia tiba-tiba berdiri, lalu bertepuk tangan mengapresiasi kinerja anaknya.


Prok... Prok...


Suara tepuk tangan memecahkan kesunyian ruangan. Defan menatap tajam, belum mengerti maksud sang bapak hingga melakukan hal itu.


"Bagus! Dalam sebulan kemarin, kau berhasil memenangkan 60 kasus sekaligus!" ucap Desman, merangkul anak lelakinya dengan bangga.


"Kok banyak kali, pak?" Defan bahkan tak pernah menghitung jumlah kasus yang ditangani.


Beberapa kasus harus mencapai hingga puncak penggelaran sidang. Namun, beberapa kasus perdata ditangani dengan waktu yang singkat, melalui mediasi dan negosiasi.


Oleh karena itu, Defan berhasil menuntaskan sebanyak 60 kasus dalam sebulan penuh. Itu juga berkat bantuan asistennya, yang ikut membantu menangani berbagai kasus.


"Berdasarkan data yang bapak terima memang segitu jumlahnya. Jadi kau sudah siap untuk menggantikan posisi bapak?" celetuk Desman, mendudukkan tubuh Defan di sofa, bersebelahan dengan dirinya.


Defan hanya diam tak berkutik seraya mencerna kata-kata yang dimaksud oleh CEO tersebut. Sebab, beberapa bulan lalu, saat Desman meminta Defan pindah ke ruangan teratas, bersebelahan dengan ruangannya. Desman tetap mengakui belum sanggup untuk melepaskan jabatannya.


Apalagi menyerahkan pada putra semata wayangnya. "Apa maksud bapak?" tandas Defan, menatap penuh selidik.


"Kau seharusnya sudah mampu menjadi pemimpin. Bapak sudah tua, ingin istirahat!" imbuh Desman, tersenyum lebar saat mengungkapkan permintaannya.


"Hah? Bukannya bapak dulu bilang belum siap menyerahkan jabatan ini? Padahal waktu itu aku juga sedang bercanda loh!" sahut Defan, mencebikkan bibirnya.


"Ya, kalau sekarang sudah lain ceritanya! Bapak juga sudah rindu sama mamamu! Lebih baik bapak menikmati masa tua bersama mama! Bisa bepergian kemanapun!" ungkap Desman sembari larut dalam pikirannya sendiri.


Huft ...


Defan menarik, lalu mengeluarkan nafas kasar. Entah mengapa, pikiran yang menghantui adalah pikiran buruk. Saat orang tuanya meminta untuk menggantikan posisi, Defan curiga kalau ada sesuatu yang terjadi pada sang bapak.


"Bapak nggak lagi kritis kan? Terus menyerahkan semua jabatan ini padaku?" hardik Defan, memicingkan mata.


"Hahaha! Kau sudah gila, ya? Sudah kayak cerita sinetron-sinetron yang ditonton mamamu!" kekeh Desman, tertawa terbahak-bahak.


"Ah, bapak bisa saja! Aku serius bertanya?" timpal Defan lagi, menatap penuh serius.


"Nggak! Bapak nggak sakit parah apalagi keadaan kritis! Kau lah yang enak, tinggal menerima warisan," canda Desman seraya terkekeh.

__ADS_1


*****


Dira akhirnya menuntaskan karya tangan hasil pembuatan tas dari daur ulang plastik. Ia menjadi orang terakhir yang mengumpulkan tugas tersebut.


Karena terlambat, Dira mendapatkan hukuman dari senior. "Kau lelet! Sudah seharian kami suruh kerjakan, malah masih ada yang terlambat! Kau besok harus dihukum!" beber Tika, dengan ketegasan yang tidak seperti biasanya.


Hah ... tumben ada hukuman segala?


Dira berbicara dalam batin, larut dalam pikirannya sendiri. Ia menatap sengit wajah Tika yang akan memberikan hukuman padanya.


"Hukuman apa, kak?" tantang Dira, begitu penasaran.


Selama empat hari ospek berlangsung, jurusan kedokteran adalah jurusan yang paling santai. Tidak pernah ada hukuman, hanya sekedar memberikan tugas dan kuis.


"Besok saya pikirkan!" ucap Tika, kemudian membawa seluruh hasil tugas para maba.


"Oke, semuanya! Hari ini, kita selesai, kalian boleh pulang," timpal Gamal, memberikan izin pada seluruh maba bisa pulang lebih cepat dari biasanya.


*****


Para mahasiswa di jurusan hukum baru saja menyelesaikan lomba makan kerupuk. Shinta berada di urutan terakhir dalam lomba tersebut.


"Semuanya! Perhatian! Terima kasih untuk hari ini. Kalian rekan yang baik untuk melakukan tugas. Nah, tiga terbawah yang kalah lomba hari ini, besok akan mendapatkan hukuman!" jelas Panja, disambut tepuk tangan yang meriah oleh seluruh maba.


"Kalau begitu kalian boleh pulang!" sambung Panja lagi.


***


Menunggu hampir satu jam, mahasiswa yang pingsan tersebut tak kunjung bangun. Jefri dan teman-temannya khawatir kalau mahasiswa itu akan membuat mereka terancam mendapatkan hukuman dari dosen maupun rektor.


Apalagi, jika kasus itu mencuat ke media sosial, akan menimbulkan masalah baru. "Gimana nih, Jef? Pusing aku jadinya!" keluh Judika, menggerutu.


Baru kali ini, kejadian seperti itu terjadi. Jefri pun sebenarnya khawatir. Tetapi ia menutupi perasaan tersebut.


"Udah, tenang aja! Bentar lagi dia sadar!" terang Jefri, menenangkan dua teman seangkatannya.


"Waduh, kalau sakitnya serius, bisa dituntut kita sama orangtuanya!" tambah Gembi, semakin tak berkutik.


Saat mengobrol, tiba-tiba mahasiswa itu terbangun. Disisi lain, ketika senior sibuk mengurus maba yang pingsan, seluruh maba di jurusan arsitektur lolos begitu saja tanpa pamit pada seniornya.

__ADS_1


Maba di jurusan arsitektur membubarkan diri sendiri. Termasuk Carol, ia sedang menunggu kedatangan teman-teman lainnya di halaman kampus.


"Baguslah, jadi bisa aku pulang cepat! Untung aja ada kejadian tidak terduga!" batin Carol, semakin kegirangan kalau seniornya mendapatkan masalah baru.


Eh, tapi kasihan juga si Enjep! Nanti dia malah ditegur oleh dosen atau rektor!


Carol larut dalam pikirannya, membayangkan kalau seniornya itu akan terkena amukan dari pihak kampus. Ia jadi tak tega meski sebenarnya ia juga merutukki tingkah Jefri yang semena-mena pada juniornya.


*****


Jenny dan Dira berjalan keluar ruangan. Dengan rasa penasaran, keduanya memikirkan apa yang akan dilimpahkan sebagai hukuman untuk Dira.


Namun, Jenny merasa bersalah lantaran membuat Dira terlambat serta akan dikenakan hukuman.


"Dir, harusnya tadi kau kumpulin aja tugasmu!" sesal Jenny, bibirnya pun mengerucut.


"Lah! Kenapa? Kalau aku kumpulkan punyaku yang kukasih samamu, aku nggak bisa lanjutin pembuatan tas aslimu!" terang Dira, merangkul sahabatnya agar menghilangkan rasa sungkan.


"Ya, gara-gara itu, kau besok akan dihukum senior!" lirih Jenny penuh penyesalan.


"Halah! Paling seberapalah hukuman dari senior di jurusan kedokteran!" ledek Dira, seraya menjentikkan jarinya, menyepelekan sang senior.


"Takutnya malah memberatkanmu loh, Dir!" tampik Jenny, mengernyitkan alis.


"Udah, nggak usah kau pikirkan itu. Sekarang kita pulang dulu!"


Jenny dan Dira akhirnya menghampiri Carol yang masih melamun memikirkan nasib Jefri. Dengan kesempatan itu, jiwa kejahilan Jenny pun muncul.


Perlahan-lahan ia ingin mencoba mengagetkan sahabatnya yang sibuk melamun, larut dalam pikirannya sendiri.


"Duaaaar!" teriak Jenny, menghentakkan tangannya di pundak Carol.


"Aish! ck!" decak Carol sebal, lamunannya seketika buyar.


"Mikirin apa sih!" goda Dira, menoel dagu Carol.


"Biasalah!" sahut Carol dengan datar.


"Ehm ... pasti lagi-lagi tentang seniornya tuh!" cetus Jenny, menatap penuh selidik.

__ADS_1


"Sok tahu!" jawab Carol mengalihkan pembicaraan meski Jenny dan Dira terus menatap dirinya dengan sengit.


__ADS_2