
"Langsung saja, bang. Kita bisa mandi di sana, lagi pula banyak baju ganti kok di kamar abang yang lama," ujar Dira, menatap lekat suaminya yang fokus menyetir.
"Oke deh!" Defan melajukan mobil. Menuju kediaman kedua orangtuanya. Ia ingin mengunjungi bapak dan adiknya yang dirindukan.
Meski Defan dan Niar se-kantor tapi mereka tak pernah bertemu ataupun berpapasan. Niar juga sedang masa pendidikan untuk mendapatkan gelar sebagai pengacara. Ia bahkan sudah magang di S.N.G Lawfirm tapi tidak dibawah perintah Defan.
Niar memilih pengacara lain sebagai pembimbing untuk melengkapi pendidikan pengacara. Bahkan, niar sendiri yang meminta kepada sang bapak.
*****
Defan dan Dira tiba di kediaman Desman Sinaga. Namun, sudah terparkir banyak mobil di halaman rumah. Pasangan suami istri itu, semakin penasaran siapa tamu yang datang hingga meramaikan halaman rumah yang sangat luas.
"Bang, ada acara apa?" tanya Dira, mengedarkan pandangan, menatap sekeliling halaman yang dipenuhi mobil mewah.
"Engga tahu! Nggak ada kabar juga dari bapak!" sahut Defan, berjalan gontai menuju pintu utama, Dira pun mengekorinya.
Keduanya saling bergenggaman tangan, memasuki koridor rumah yang sepi tetapi terdengar obrolan dengan suara khas orang batak yang besar dan menggelegar.
"Bang, aku kayaknya kenal suara itu!" ucap Dira, menguatkan pendengarannya.
"Iya, kayak suara yang kita kenal!" sahut Defan, hendak menarik handel yang tertanam di daun pintu.
"Opung!" ucap keduanya dengan kompak.
"Astaga! Itu benar opung yang datang?" tandas Dira, merasa khawatir dipertanyakan tentang status kehamilannya.
"Udah, ayo masuk dulu!" Defan menarik handel pintu, semua orang menatap kehadiran Defan dan Dira.
Sontak, keduanya terdiam kaku, semua mata tertuju pada wajah mereka. Termasuk orang tua Dira juga berada di kediaman Desman Sinaga.
"Masuk, masuk!" titah Opung Matua Tampubolon, membuat lengkungan lebar di sudut bibir, merasa bahagia kedua cucunya hadir di rumah itu.
"Ah, pas kali kalian berdua datang! Bapak baru mau menghubungimu, Def!" tandas Desman.
Di ruang tamu, keluarga besar tampubolon telah berkumpul. Acara arisan keluarga yang rutin digelar setiap enam bulan sekali. Arisan itu untuk menjalin hubungan keluarga agar tetap dekat dan harmonis.
__ADS_1
Defan dan Dira berjalan beriringan, duduk di karpet yang digelar di ruang tamu yang luas. "Acara apa ini, pung?" tanya Defan, menoleh ke kanan dan ke kiri, mengedarkan pandangan.
"Masa kau nggak ingat? Acara ini rutin kok kita adakan, setiap enam bulan sekali!" sahut Opung Matua.
"Loh, ini bukan acara dadakan?" timpal Defan, seraya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
Desman pun menggeleng, lalu melayangkan senyuman tipis pada anak lelakinya. "Ini sudah dijadwalkan loh, Def! Dari tahun kemarin! Udah tiga kali kau mangkir acara ini, alasannya selalu sibuk bekerja!" tambah Sahat.
"Hah? Tiga kali? Rasaku, bapak maupun amang nggak pernah ngajak ke acara seperti ini," tutur Defan, duduk bersebelahan dengan sang istri.
Meski Melva sedang tidak berada di rumah, acara arisan tetap berlangsung. Pasalnya, keluarga pun tak perlu khawatir, di rumah Defan sudah ada 10 pembantu yang akan mengerjakan persiapan hingga melayani saat acara berlangsung.
"Ah, kau aja yang nggak pernah mau ikut acara-acara seperti ini," tambah Desman, melanjutkan acara arisan yang sempat terhenti.
Pengumpulan uang arisan pun di mulai, biasanya uang hasil yang dikumpulkan akan diberikan kepada yang menang tapi sebagian uang arisan akan disisihkan, digunakan untuk acara liburan, makan di restoran mewah ataupun lainnya.
"Kita mulai pengocokannya!" ucap Desman, mengangkat sebuah botol berisi gulungan kertas yang tertera nama masing-masing keluarga.
Ia menjatuhkan satu potongan kertas kecil ke karpet. Lalu, mengambil dan membacakan nama kertas yang tertera di dalam sana.
Prok ... Prok ...
Semua yang hadir bertepuk tangan meriah, menyambut kemenangan keluarga Dira yang berhasil mendapatkan arisan.
"Jadi apa yang mau kalian siapkan, Lae? Liburan, makan di restoran, atau kegiatan lain?" cecar Desman, menatap lekat besannya.
"Pak, apa yang bapak mau di usia senja ini?" ungkap Sahat, meminta pendapat orangtuanya.
"Liburan lah kita sekeluarga, ke Toba!" celetuk Opung Matua, mengingatkan Dira akan hal tragis yang baru-baru ini dialami.
Defan menggenggam kuat tangan istrinya, ia tahu Dira telah diingatkan kembali pada kejadian kelam beberapa tempo lalu.
Sepertinya, Defan harus mencari alibi untuk tidak ikut berlibur dalam acara besar keluarga. Sebab, Dira masih trauma pada tempat tersebut.
"Bapak ingin ke sana? Yaudahlah, minggu ini kita rencanakan liburan ke sana!" papar Sahat, tersenyum bangga.
__ADS_1
Jumlah nilai arisan itupun bukan kaleng-kaleng. Satu keluarga diminta mengumpulkan 10 juta. Sementara, ada 9 keluarga dari anak opung matua dan opung tiur, semuanya ikut hadir karena tidak boleh ada satupun yang terlewat ataupun tidak hadir dalam acara sepenting itu.
Total uang yang dikumpulkan pun mencapai 90 juta. Paling hanya berkisar 50 juta yang akan habis digunakan untuk berlibur pada keluarga besar Tampubolon.
"Jadwalkan lah minggu ini, ya, pak Dira!" tegas Opung Tiur.
"Iya, mak!" jawab Sahat, lugas.
Setelah acara pengocokan arisan selesai, acara makan-makan pun berlangsung. Dalam persiapan makan malam, Opung Matua mulai membuka pembicaraan mengenai cicit mereka.
"Kayak mana Defan, Dira, kapannya kalian punya anak? Sebelum opung mati," kata Opung Matua, mendramatisir waktu kematiannya, seraya menunggu penyajian makanan yang dihidangkan oleh para maid.
"Ya, sabarlah, pung! Jangan mati dulu opung," jawab Defan, menyelipkan candaan untuk opungnya, semua keluarga pun hanya tertawa.
"Haha! Kau ada-ada aja! Jadi kira-kira kapan rencananya kalian kasih kami cicit!" cecar Opung Matua, tak sabaran menanti nini dan nono dari cucunya.
"Ck! Entaah, biar Tuhan yang mengatur, pung! Kita hanya bisa berencana saja," tandas Defan, mengerutkan keningnya.
"Halah, harus kalian rencanakan dari sekarang lah!" pungkas Opung Matua.
Namun, tiba-tiba orang tua Dira angkat bicara. "Baru keguguran si Dira, Amang!" sambar Rosma, mengagetkan seluruh pihak keluarga.
"Ssstt!" Sahat berbisik, memberi kode pada istrinya agar tak membeberkan kejadian itu.
"Kok bisa kau keguguran, pung?" tanya Opung Tiur, semakin khawatir pada kondisi cucunya.
"Jatuh aku waktu itu, pung!" balas Dira, tertunduk dengan raut wajah yang penuh kekecewaan.
"Cemananya kau, Def! Kok nggak kau jaga istrimu!" sesal Opung Matua.
"Namanya juga kejadian tidak terduga, Amang," sahut Desman, membela anaknya yang tak ingin disalahkan sendirian.
"Kapan rupanya kau keguguran?" Uda Sohit menimpali.
"Sudah tiga minggu yang lalu, uda!" jawab Dira, menutupi kesedihannya. Namun, suaminya tetap terus berada di samping, menguatkan dirinya dengan genggaman tangan yang menghangatkan.
__ADS_1
"Oalaaah! Kok bisa itu terjadi!" ujar Devi—Bou Dira, alias adik bapaknya yang paling bungsu.