Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
image rumah tangga


__ADS_3

Ketika semua pergi, hanya tinggal Rosma dan anak bungsunya yang berada di rumah. Lalu Rosma pun berniat untuk menghubungi Boru panggoarannya untuk mengabarkan kalau suaminya sudah menghabiskan uang tabungan dan sisa uang arisan yang raib di gondol penipu investasi.


"Apa aku harus mengatakan ini pada Dira? Jujur, aku tidak ingin membuatnya khawatir," terang Rosma, saat mondar-mandir di ruang tamu menatap ponsel jadul yang berada di genggaman.


****


"Yang, aku pergi dulu, ya, hati-hati di rumah. Jangan lupa kabarin kalau nanti mau berangkat kuliah," pesan Defan, setelah menyantap sarapan paginya dan bersiap untuk berangkat ke kantor.


Dira mencium tangan dan bibir suaminya. Kemudian, melambaikan tangan di ambang batas pintu pada pria itu, sembari mengulas senyum di kedua sudut bibirnya.


"Hati-hati, ya, Bang," teriak Dira seraya melambaikan tangan.


"Iya, sayang! Masuklah! Aku berangkat dulu," ujar Defan, lalu masuk ke dalam lift, tak lama pintu lift pun tertutup.


Dira masuk ke dalam rumah. Kemudian, Dira mengambil ponsel yang berada di atas nakas di dalam kamar.


Ting...


Saat Dira menatap ponselnya, ada satu notifikasi yang masuk. Baru saja, Angga membuat grup chat baru untuk dirinya dan Jenny yang tergabung dalam tugas kelompok.


Entah dari mana Angga bisa mendapatkan nomor ponselnya. Dira hanya menatap pesan yang ada di dalam grup chat WhatsApp tersebut.


Angga


Kalian mau kapan ngerjain tugas itu? Mumpung kita masuk agak siang apa mau mengerjakan pagi ini?


Belum ada jawaban dari Jenny, Dira berusaha membalas pesan Angga untuk menolak ajakan tersebut. Sebab, karena jarak rumah mereka terlalu dekat tentunya akan membuat Dira berduaan dengan Angga di rumahnya.


Jenny pun tak merespon hingga beberapa menit yang lalu. Sehingga Dira segera mengirimkan chat untuk menolak ajakan Angga.


^^^Dira^^^


^^^Tunggulah, lihat kabar si Jenny bisa apa enggak? Aku nunggu kepastian si Jenny aja. ^^^

__ADS_1


Angga


Oh ... ya udah tungguin aja tapi ingat dua hari lagi kita harus beres tugas loh! Karena dosen itu bakalan ngajar dalam dua hari lagi.


^^^Dira^^^


^^^Iya ... tenanglah kau pokoknya! Udah pasti beres makalah kita itu. Kalau nggak kita kerjain di kampus aja sama-sama nanti. Biar lebih simple nggak perlu ke rumahmu segala.^^^


Angga


Oke!


*****


Rosma melakukan satu panggilan untuk anaknya setelah optimis mengabari tentang permasalahan di dalam rumah tangganya. Bahkan Rosma berniat untuk meminta uang dari Dira agar bisa membantu kebutuhan rumah tangga untuk sebulan ini.


"Aku coba dulu siapa tahu si Dira punya uang sendiri. Dia juga pasti nggak tega lihat mamanya menderita dan sedih seperti ini. Apalagi selama ini dia merasakan kesusahan seperti sekarang yang aku alami," ujar Rosma saat menunggu teleponnya diterima oleh boru panggoarannya.


****


Dira langsung mengangkat panggilan telepon mamanya karena kebetulan sedang memegang ponsel lantaran membalas chat dengan Angga di dalam grup WhatsApp.


"Halo, Mak," sapa Dira, dalam sambungan telepon.


"Halo, Boru ... apa kabarmu? Sehatnya kau?" tanya Rosma, sembari merasakan degupan jantung yang kencang dan suara bergetar karena khawatir ingin mengungkapkan konflik rumah tangganya yang baru terjadi.


"Sehat aku, Mak. Mamak apa kabar? Ada perlu apa? Tumben mamak nelepon aku pagi-pagi gini," tambah Dira, duduk di tepian ranjang.


"Itulah, Boru ... Mamak, sebenarnya nggak enak bilangkan ini cuma udah nggak ada lagi solusinya jadi harus samamu lah Mamak ungkapkan semuanya," sambung Rosma.


"Apa yang terjadi? Kok suara Mamak pun bergetar kayak seperti orang yang sedang khawatir," ujar Dira.


"Iya, memang lagi khawatir. Mamak, pusing kali, Bapakmu ada-ada aja ulahnya," beber Rosma.

__ADS_1


"Jadi gini, Nak. Bapakmu ketipu sama kawannya. Habis semua uang tabungan Mamak sama uang arisan yang tersisa. Semuanya dimasukkan Bapakmu ke dalam investasi yang nggak jelas itu," lanjut Rosma lagi, menatap penuh binar ke sembarang arah.


Dira hanya menatap datar sekelilingnya. Ia semakin bertanya-tanya mengapa bapaknya tak kunjung berubah, tega melakukan hal seperti itu. Padahal Dira sudah merelakan semuanya demi membahagiakan kedua orang tuanya.


Rela untuk dijodohkan agar sinamot bisa dinikmati keuarganya serta hutang-hutang lunas. Namun, mengapa bapaknya masih saja belum puas menyakiti dirinya, berbuat hal-hal yang di luar nalar yang mampu merusak image rumah tangga keluarganya.


"Berapa rupanya uang yang habis, Mak?" tanya Dira, sembari mengedarkan pandangan


"Kau pikirlah dulu, uang cuma sisa 100 juta itupun sisa sinamot dan arisan. Tapi semuanya dimasukkan Bapakmu ke dalam investasi bodongnya itu. Makanya tadi Mamak marah-marah, mengamuk tapi dia sok-sok mau menenangkan, berharap uang itu akan balik lagi. Mana mungkin lah uang sebanyak itu mau dikembalikan penipu macam orang itu," ungkap Rosma.


"Astaga, kok banyak kali mak sampai 100 juta loh. Bukan 1 juta atau 10 juta, malah 100 juta pula! Kok bisa-bisanya Bapak mengeluarkan uang sebanyak itu dan percaya sama kawannya untuk berinvestasi? Apa bapak nggak sering menonton berita di TV kalau sekarang ini banyak berseliweran investasi bodong," cecar Dira, memijit pelipisnya lantaran pusing tiba-tiba menyerang.


"Entahlah apa yang ada di pikiran bapakmu. Pusing kali kepala Mamak menghadapinya. Sudah berpuluh-puluh tahun membina rumah tangga tapi tak pernah dibahagiakan," papar Rosma.


"Udahlah, nanti kubilang sama suamiku biar diurusnya tentang penipuan itu. Siapa tahu nanti bisa uangnya balik. Jadi apa perlu Mamak selain membicarakan tentang penipuan ini?" tanya Dira, menatap penuh selidik karena ia tahu kalau sang mamak pasti membutuhkan uang.


"Itulah, Boru karena udah habis tabungan, nggak ada sepeserpun lagi uang yang tersisa di tabungan kita. Mamak mau minta uang samamu. Apa kau punya simpanan?" kata Rosma.


"Berapa perlu, Mamak? Ada kok, tenanglah, Mamak. Nggak usah khawatir, nanti ku kirimkan."


"Syukurlah, Boru. Udah pusing Mamak nggak ada lagi uang untuk makan. Memang bapakmu nggak ada otaknya. Entah di mana ditaruh otaknya," maki Rosma dengan kekesalan menggebu.


"Berapa, Mamak perlukan? Biar ku kirimkan langsung pas aku berangkat kuliah," tanya Dira lagi.


"Kirimkan lah, Boru untuk jatah kebutuhan rumah tangga bulan ini. Karena nggak ada lagi gaji bapakmu sekitar 5 juta atau 10 juta cukup lah," terang Rosma, merasa tak enak hati.


"Udahlah, ya! Nggak usah Mamak pusing lagi. Nanti kukirimkan langsung ke rekening Mamak," tandasnya memutus sambungan telepon.


****


Defan baru saja tiba di kantor. Ia sudah disibukan dengan persiapan esok untuk sidang kasus pedopil sesama jenis. Tiba-tiba di luar ruangan, ada seorang tamu yang tidak diharapkan yaitu sahabatnya Dania.


Ceklek

__ADS_1


Pintu dibuka lebar, Dania berdiri di ambang batas pintu dengan senyum yang sumringah.


"Hai ... pagi!" sapa Dania, dengan suara khasnya yang cempreng.


__ADS_2