Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
gadis kecil Shaira


__ADS_3

"Kau kenapa sih? Kok malah ketawa! Buruan aku mau bicara dengannya," titah Defan penuh penekanan.


"Tunggu Def, kau bersihkan dululah wajahmu. Nanti anak itu malah bungkam, takut padamu hahahahah," kekeh Dania yang tertawa sampai terpingkal-pingkal.


"Ada apa diwajahku?" tanyanya penuh kebingungan. Ia meraba wajahnya tetapi tak ada yang aneh, tetapi karena begitu penasaran, ia mendekati meja rias.


Menatap wajahnya disana yang penuh coretan.


"Shiitttt! Diraaaaaaa," teriak Defan membuat Dira tersentak kaget.


"Kenapa lagi sih bang? Pagi-pagi sudah teriak-teriak," sungut Dira setelah mendengar teriakan suaminya, tidur paginya pun merasa terganggu.


"Dan, nanti ku telepon lagi. Bilang sama anak itu tunggu sebentar. Aku harus cuci muka dulu," kata Defan menutup sambungan telepon itu secara sepihak.


Sementara Dania masih tertawa terbahak-bahak sehingga mendapat tatapan tajam dari keluarga korban.


"Maaf pak, bu, dan adik. Ditunggu sebentar ya, pak pengacaranya nanti menelepon kembali." Dania duduk dihadapan gadis kecil beraut wajah sendu itu. Terdiam dengan tatapan kosong.


Sementara ibu dan bapaknya yang mendampingi pun hanya menatap Dania dengan datar.


"Apa pak pengacara sedang sibuk?" tanya ibu korban.


"Ehm, pak pengacaranya sedang mempersiapkan pertanyaan untuk adik kecil ini bu," balasnya sembari tersenyum simpul, mencubit gemas pipi anak kecil yang sedaritadi terdiam.


"Tunggu ya adik kecil," ucapnya dengan sopan dan ramah.


\~\~\~\~


"Dira! Apa yang kau lakukan semalaman? Apa kau kurang kerjaan sehingga mencoret-coret wajahku?" bentak Defan karena waktunya tersita akibat ulah istrinya.


Tanpa mendengarkan jawaban Dira, ia melangkah lebar kearah kamar mandi. Kemudian membasuh wajahnya dengan air didepan wastafel seraya memandang wajah tampannya yang hilang karena banyaknya coretan. Liptint itu mulai memudar tetapi tak hilang secara sempurna.


Ia mengambil sabun wajahnya, membalurkan secara menyeluruh ke wajahnya . Menggosok-gosok wajahnya dengan pelan dengan kedua telapak tangannya.


"Errgggg! Dira pagi-pagi udah bikin jengkel! Ada aja ulahnya. Mulut sampai kering dan susah tertutup, sekarang muka amburadul," dumel Defan saat membersihkan wajahnya yang dibaluti busa sabun.


Ia membasuh wajah itu, seketika menjadi bersih. Ada wajah tampannya yang terlihat didalam cermin yang berada dihadapannya.


"Awas ya! Kalau nggak karena buru-buru sibuk ngurus kerjaan! Sudah habis kau." Defan sangat geram dengan sikap istri kecilnya yang suka bertingkah jahil hingga mengusilinya.

__ADS_1


Ia menarik daun pintu, keluar dari kamar mandi. Kemudian, mengambil ponselnya yang ada diatas meja rias.


Satu nama yang paling teratas dalam history panggilannya. Ia melakukan panggilan ulang video call pada sahabatnya.


Panggilan itu langsung dijawab oleh Dania yang mendapat tatapan datar dari keluarga korban.


"Pak pengacara." Kode mulut Dania diarahkan pada kedua orangtua korban sehingga mendapatkan anggukan dari mereka.


"Ya Def. Oh sudah ya? Ini langsung aku berikan saja pada keluarga korban ya?" ujar Dania to the point.


"Dan, tunggu dulu. Bisa rekamkan percakapan kami dengan kamera yang ada dikantorku?" tanyanya serius.


"Oke! Bentar aku ambilkan," lanjut Dania seraya memberikan ponselnya pada ibu korban, bergegas ke ruangan Defan mengambil salah satu kamera koleksi sahabatnya itu.


Dia berlari menemui keluarga korban, tak ingin membuat mereka menunggu lama. Kalau soal urusan pekerjaan, Dania sangat profesional. Ia bisa memisahkan masalah pribadi dengan pekerjaan kantornya.


Seperti halnya pagi ini, meski sudah mengobrol langsung dengan atasannya, ia tetap tahu diri. Tak ada niatan untuk berbasa-basi.


Dira mengintip ke layar ponsel yang berada ditangan ibu korban. "Oke Def siap nih! Mulai ya." Dania mengarahkan setelah menyalakan kamera itu, menyorot satu keluarga korban yang memulai percakapan mereka.


"Halo ibu," sapa Defan menggulum senyumnya.


"Halo pak! Sepertinya anak saya sudah siap untuk berbicara!" kata ibu korban.


Beda sekali rasanya saat berbicara dengan Dira. Sementara Dira dari atas ranjangnya, melirik serta menguping apa yang dibicarakan oleh pria itu.


"Halo adik kecil? Apa kabarnya?" Defan melambaikan tangannya ke layar ponsel serta tersenyum lebar agar meluluhkan anak tersebut.


"I—Iya," jawabnya terbata-bata. Terlintas diwajah gadis kecil itu dengan raut ketakutan. Rasa traumanya terus menyelimuti, wajah sendunya membuat hati Defan semakin pilu.


"Tenang ya adik kecil. Perkenalkan saya om pengacara. Yang sekarang sudah menjadi teman kamu," katanya dengan lembut.


Gadis kecil itu mengangguk patuh, mendengarkan suara pengacara dan menatap layar ponsel yang ada didepannya.


"Baiklah adik kecil. Saya adalah teman kamu sekarang, boleh ceritakan kejadian tiga bulan lalu yang dilakukan oleh paman kamu? Tak apa, kalau kau merasa belum siap. Om akan menunggunya," imbuh Defan tersenyum ramah.


Membuat gadis kecil itu tersenyum pahit.


"Adik kecil, kita akan menghukum pamanmu, kalau kamu terbuka menceritakan apa yang terjadi," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Iya om. Aku akan menceritakannya." Gadis kecil itu sangat pintar. Meski usianya baru lima tahu, ia sangat mengerti apa yang dikatakan lawan bicaranya.


Gadis itu sejenak berpikir. Membuang nafas kasarnya dengan pilu. Bulir bening mulai menetes, isak tangisnya pun mulai pecah.


"Tidak apa adik kecil. Nangislah sepuasnya, om akan menunggu," tutur Defan menenangkan.


Gadis itu mengusap bulir bening yang sudah membahasi pipi gemasnya. Suara celotehnya pun mulai terdengar, dengan suara bergetar tetapi ketegarannya mampu membuat ia mulai bercerita.


"Waktu itu, paman datang ke rumahku om. Kasih aku coklat, tapi ada syaratnya. Katanya dia mau cium bibir aku," celetuk gadis kecil itu seraya menunjukkan bibir mungilnya.


"Baiklah Shaira. Lalu apalagi yang dia lakukan?" Defan terus bertanya dengan tenang.


"Tiba-tiba paman membuka bajuku om. Aku sudah menangis, tapi mulutku ditutup dengan tangannya." Suara gadis itu bergetar mengingat kejadian tempo lalu. Bulir bening terus mengalir, kali ini tanpa isak tangis yang kencang.


"Baju aku dilepasin semua om. Aku udah nangis-nangis. Mama sama bapak nggak ada di rumah. Pintu juga dikunci, aku nggak bisa lari." Gadis itu terus menjelaskan ceritanya.


"Lalu apa yang terjadi Shaira?" tanya Defan dengan jantung yang berdegup kencang. Ia tak siap mendengarkan cerita itu langsung dari mulut gadis kecil itu.


"Dia pegang dada aku om. Terus masukin sesuatu ke tempat pipis aku hiks hiks sakit sekali rasanya. Setelah itu, paman bilang, kalau aku nggak boleh bilang-bilang sama bapak dan ibu. Kalau aku bilang yang terjadi, katanya bapak dan ibu akan sakit," ungkapnya tersedu-sedu.


"Tenang ya adik kecil. Om akan hukum paman kamu. Kamu tidak akan pernah lihat wajahnya lagi. Adik Shaira akan sembuh, nggak akan merasakan sakit lagi," tutur Defan dengan tenang serta senyumnya yang ramah. Membuat gadis kecil yang bernama Shaira itu sedikit tenang meski isak tangisnya telah pecah.


"Sekarang tolong berikan ponselnya pada ibunya Shaira ya," pinta Defan penuh senyum.


Gadis kecil itu mengangguk patuh, memberikan ponselnya pada sang ibu.


"Ibu, saya sudah mendapatkan pengakuan adik Shaira. Jadi adik itu tidak perlu hadir di ruang sidang, tidak perlu bertemu dengan pria itu. Tolong bawa adik kecil itu ke psikiater. Agar jiwanya lebih terkendali dan melupakan kejadian kelam itu. Tenang untuk biayanya, orang tersebut yang akan membiayainya."


Defan kemudian meminta agar ponselnya diberikan kepada Dania, setelah mendapatkan jawaban dari ibu korban.


"Def aku simpan kamera ini di ruanganmu ya?" kata Dania setelah menerima telepon tersebut.


"Iya Dan! Cek lagi apakah sudah terekam dengan baik. Simpan dengan aman diruangannku!" pesannya pada Dania diakhir panggilan mereka.


"Tolong arahkan lagi ponselnya pada Shaira," pinta Defan.


Ponsel itu diarahkan kepada Shaira serta disana juga terlihat ayah korban dan ibu korban.


"Adik kecil, om pamit dulu ya. Sampai ketemu nanti disana satu minggu lagi. Om akan berkunjung." Defan melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar pada Shaira dan keluarganya, lalu menutup sambungan telepon mereka.

__ADS_1


Hai-hai sayang! Yuk jangan lupa supportnya.


*Like, Komen, Vote, simpan novel ini di favorit kamu yaa.. Pokoknya tiap hari bakal dpat Crazy Updatelahh!! Thankyouu all**🥰*


__ADS_2