Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
ketagihan


__ADS_3

DISCLAIMER!


SEBELUM KAMU MEMBACA BAB INI! PASTIKAN USIA KAMU SUDAH 18+ YANG TIDAK SUKA ADEGAN RANJANG BISA LANGSUNG SKIP YAA!!!


Pagutan bibir itu tak kunjung lepas, sampai Dira sesekali melonggarkan jarak antara hidung ke hidung suaminya agar bisa sedikit bernafas.


Tangan Defan pun mulai bermain. Ia melayangkan tangan itu ke si kembar milik sang istri. Kedua mulut mereka terus beradu tak mau lepas. Defan dan Dira saling menelusuri rongga mulut mereka, bertukar shaliva.


Satu tangan Defan, yang berada di tengkuk Dira mulai terlepas, mengikuti jejak tangan lainnya yang sedang asik bermain pada si kembar milik sang istri.


Defan mulai mendorong tubuh Dira dengan lembut agar merebahkan diri diatas ranjang. Pagutan itu terlepas dengan sendirinya setelah Dira terhempas ke atas ranjang.


Dira sangat malu ketika sepasang mata elang suaminya menangkap manik indah miliknya. Wajahnya memerah seketika tetapi ia menyembunyikan rasa malu itu, mencoba tetap tenang dan tersenyum.


Defan sudah tak lagi bisa membendung hasratnya. Ia menempatkan posisi berada di atas. Mengungkung Dira, mencium dengan ritme lambat hingga menjadi lebih rakus.

__ADS_1


Melumatt bibir tipis itu terus-terusan bahkan sangat rakus, menjelajahi setiap masing-masing rongga mulut keduanya, begitupun juga Dira, ia terus larut dalam ciuman yang memabukkan tapi terasa manis bagisnya.


"Ah ... kalau dari dulu begini, mungkin aku dan bang Def sudah memiliki anak," gumam Dira yang mulai ketagihan dengan lumattan hangat nan manis dari sang suami.


Dira mengalungkan tangan di leher jenjang suaminya. Tangan Dira pun mulai mendaratkan tangan di sekujur tubuh kekar yang sejak lama ingin ia sentuh. Dada bidang suaminya begitu gagah.


Defan tak bisa diam, dia menyibakkan rok lingerie itu agar bisa meraih si kembar dari dalam. Dua tangan kekar mendarat dengan sempurna. Dira yang dengan malu-malu hanya pasrah mengikuti tangan nakal prianya.


Defan bahkan menyesap pucuk si kembar itu secara bergantian. Sampai-sampai, tubuh Dira menggeliat menikmati permainan malam sang suami.


Dira menengadahkan kepalanya keatas seraya menikmati sesapan sang suami. Tangannya ia kembali menggenggam erat sprei berwarna putih sebagai alas penutup ranjang mereka.


Defan pun dengan sigap melucuti lingerie istrinya, menghempaskan ke atas lantai. Sama halnya dengan Dira, ia mulai melepaskan satu-persatu kancing piyama suaminya yang masih mengungkung tubuhnya.


Kala keduanya tak berbalut sehelai benangpun, mereka terus memadu kasih. Saling mencumbu hingga akhirnya keduanya mulai menyatu malam itu.

__ADS_1


"Bang, pelan-pelan, ya? Katanya kalau pertama kali itu pasti sakit,"'lirih Dira mulai ketakutan saat kepemilikan yang intim milik prianya hendak masuk ke dalam area inti sang pemilik.


"He'em," ujar pria yang hendak memulai menembakkan ke sasaran yang paling empuk nan mengigit.


Ia menyentakkan sekali, dalam hentakkan pertama, Dira mengerang kesakitan.


"Aaaa!" pekik Dira saat sesuatu di dalam sana masih membelenggu.


"Sabar ... bentar lagi, tahan, ya! Sakitnya bentar doang kok!" kata Defan saat mendorong pada hentakkan kedua.


"Ahhhh! Sakit, bang!" lontar Dira, tak terasa ternyata ia mencakar punggung tubuh pria itu saat mengerang ke sakitan.


"Bang, aku nggak kuat! Sakit kali rasanya! Udahan, ya?" ronta Dira memelas. Entah raut wajahnya pun terasa sudah tak karuan.


"Bentar nanggung. Sedikit lagi, ya? Tahan dulu, nanti kerasa enak kok," jawab Defan mencoba menenangkan lagi.

__ADS_1


Dira pun akhirnya mengikuti kemauan Defan, pria itu mulai bergoyang mengikuti gerakan. Hentakkan ketiga, akhirnya masuk dengan sempurna. Cairan berwarna merah mengaliri area pangkal paha Dira.


"Ahhhh!" erang Dira merasa sesuatu di bawah sana seperti sobek. Terasa sakit dan memekik, dia bahkan tak bisa menahan kuatnya rasa sakit akibat benda asing yang telah masuk ke area itu. Keduanya larut dalam penyatuan untuk pertama kali sehingga terasa menjadi malam istimewa.


__ADS_2