
Setelah memesankan makanan tersebut, ikan bakar dengan sayur cah kangkung, Dira berjalan gontai ke dapur.
"Rol, bentar kumasak nasi, ya? Sambil nunggu makanan datang, pas itu nanti nasinya udah matang."
"Oke!" Carol masih saja menonton tv.
Dira langsung menanak nasi dalam waktu cepat. Kemudian, ia kembali lagi ke ruang keluarga. Di sana, Carol dan Dira masih bermalas-malasan.
Drrtt drrrt
Ponsel Dira bergetar, ia langsung mengambil ponsel tersebut.
"Halo, sayang? Udah makan?" tanya Defan melalui sambungan telepon.
"Lagi di pesan, bang. Bentar lagi makan kok." Dira menatap kepada Carol, sebab sahabatnya itu bertanya-tanya siapa yang menghubungi.
"Suamiku," ucap Dira komat-kamit.
"Oh." Carol kembali fokus ke layar tv.
"Jadi gimana keadaanmu? Udah baikan? Pesan apa untuk makan?" balas Defan dengan banyaknya pertanyaan.
"Banyak kali abang tanya, aku udah sehat bang, nggak sakit! Pesan ikan bakar, lapar kali aku. Dari tadi nggak bisa makan apapun," imbuh Dira.
"Kalau ada apa-apa, hubungi inang sama mamaku—"
Belum juga Defan selesai bicara, Dira langsung memotong ucapan itu.
"Oh, ya, bang! Dari tadi di sini ada Carol. Dia udah datang, maaf aku lupa ngasih tahu abang. Tadi pagi kuminta mereka datang tapi yang datang baru Carol aja. Setidaknya ada kawanku di rumah," potong Dira panjang lebar.
"Syukurlah! Abang jadi merasa tenang. Yaudah, jangan lupa makan. Makan yang banyak!" Defan mematikan sambungan telepon itu.
****
Ting Tong ...
Suara bel rumah berbunyi, kali ini Carol yang membukakan. Dira sedang malas beranjak, ia meminta agar Carol yang mengambil pesanan online mereka.
Tak berselang lama, Carol berjalan sembari menenteng kantong plastik besar.
"Dir, yang banyak kali pesananmu ini?" tanya Carol, ia curiga dengan isi kantong plastik yang besar itu.
"Nggak ah, cuma ikan bakar sama sayur kangkung aja. Ayo, kita makan." Dira mengekori Carol yang sudah berjalan lebih dulu ke dapur.
"Tapi kok besar kali kantong plastiknya. Cepat ambil piring, biar kubuka." Carol sangat penasaran dengan pesanan itu.
__ADS_1
Dira pun berjalan gontai, bukan piring yang ia ambil. Melainkan nampan besar untuk tempat ikan bakar tersebut.
"Loh, kok besar kali tempatnya?" Carol menatap tajam ke arah nampan itu.
"Udah cepat buka, udah lapar aku." Dira berjalan gontai ke tempat penanak nasi, ia menyiapkan dua piring nasi.
Satu piring berisi porsi jumbo, sedangkan piring satunya berisi nasi ukuran standar.
"Kau mau makan sebanyak itu?" Carol terkejut melihat tumpukan nasi di piring Dira.
Dira pun mengangguk seraya menyengir kuda.
"Gila kau kurasa, yang nggak makannya kau seminggu ini?" tanya Carol dengan mata berbinar.
"Kok Nggak kau buka ikan itu? Udah lapar kali aku loh!" keluh Dira mengalihkan pembicaraan.
"Iya, bentar-bentar." Carol mulai membuka plastik, sontak ia terkejut hebat lantaran ikan bakar yang dipesan dira sangat besar.
"Astaga, ya Tuhan! Kita mau makan berdua loh, bukan sekampung Dira." Carol menggeleng-gelengkan kepala.
"Hehe, lapar kali aku, nggak sarapan aku tadi pagi. Udah ayo kita makan." Dira sampai kelupaan mengambil satu mangkok untuk tempat sayur mereka.
Ia berlari mengambil mangkok itu, lalu menuangkan cah kangkung pesanannya. Tanpa ada aba-aba, Dira langsung menyantap makanan yang ada di meja makan.
Carol sampai terkejut melihat sahabatnya itu makan bak kesetanan. "Dir, pelan-pelan oi! Kau makan kayak orang kelaparan satu minggu," desah Carol.
Setelah Carol menghabiskan makanannya, ia sudah merasakan kekenyangan yang luar biasa. Sedangkan Dira, masih berlanjut menyesap-nyesap tulang ikan yang berasa bumbu ikan bakar tersebut.
"Enak, ya, ikannya, Rol! hehe," kekeh Dira menunjukkan cengiran kuda.
"Iya, enak kali memang. Tapi nggak habis pikir akulah, kok bisa habismu ikan sebesar itu!" pungkas Carol, seraya menggelengkan kepala.
"Namanya juga lapar kali tapi akhir-akhir ini memang makanku banyak kali sih," ungkap Dira, merapihkan piring-piring dan langsung mencucinya.
Dibantu oleh Carol, Dira yang mencuci piring, Carol yang membasuh dan menyimpan ke rak lemari. Seketika, ruangan itu kembali rapih.
Keduanya pun duduk bersantai di ruang keluarga. "Rol, kau kalau mau tidur siang, di kamar itu aja." Mata Dira pun langsung lima watt setelah selesai makan.
"Ah, aku malas tidur siang! Di sini aja kita ngobrol," ujar Carol.
"Oalaah, aku padahal ngantuk kali." Dira menjadi tak enak hati kalau membiarkan Carol sendirian, padahal dia yang meminta agar Carol datang lebih dulu.
"Buset! Padahal baru beres makan kita loh, Dir! Nanti buncit perutmu kalau langsung tidur!" sindir Carol.
"Ah, masa sih? Yaudah, aku di sini aja nemani kau. Coba dulu kau cek, di mama si Jenny sama Shinta."
__ADS_1
Dira kembali merebahkan diri di atas sofa, setelah 10 menit duduk, tubuhnya terasa lelah, hendak lanjut tidur siang.
"Oke, langsung ke telepon ajalah mereka." Baru lima menit Carol menelepon Jenny dan Shinta, tiba-tiba Dira sudah tertidur pulas.
"Kebo kalilah si Dira ini," gumam Carol seraya bergeleng kepala.
Panggilan untuk Jenny dan Shinta belum juga mereka terima. Tak berselang lama, Jenny mengangkat panggilan grup itu.
"Apa, rol?" sahut Jenny.
"Kau udah di mana? Aku udah di rumah si Dira dari pagi. Malah tidur pula dia sekarang," sesal Carol.
"Hah? Kok tidur, nggak temenin kau dia?" Jenny tampak heran pada sahabatnya.
"Capek kurasa dia, sempat sakit tadi pagi. Biarkanlah tidur dulu. Kau kapan datang?" desak Carol.
"Sorelah, nanti aku bareng si Shinta. Naik ojek online aja kami." Jenny mematikan telepon secara sepihak.
Tiba-tiba Shinta baru menerima panggilan itu. "Apa, Rol?"
"Kau mau datang jam berapa?" cecar Carol.
"Loh, nggak dibilang si Jenny rupanya? Sore kami datang loh!" Shinta tertawa tipis.
"Udah dibilangnya sih, aku mastiin aja. Yaudah ya!" Carol mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
*****
Defan masih kepikiran pada sang istri, walaupun Dira mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Ia bahkan tak berselera makan siang hari itu.
30 menit yang lalu...
"Loh, pak, makanannya nggak dihabiskan?" tanya Juni, melihat makanan itu baru sesuap yang masuk di mulut.
"Nggak selera saya makan." Defan kembali membungkus makanannya.
"Kenapa, pak?" ucap Juni, menatap penuh selidik.
"Entahlah! Banyak yang saya pikirkan. Saya kerja lagi." Defan beranjak dari sofa, berjalan gontai, lalu duduk di kursi kebesarannya.
"Makanan ini mau dibuang atau nanti dimakan lagi pak?" tutur Juni, sekaligus ia ingin membersihkan makanan miliknya.
"Buang saja!"
"Baik, pak!" Juni menyatukan sampahnya dengan sampah Defan lalu membuangnya.
__ADS_1
Saat ini, Defan hanya bisa termenung, meratapi hingga jam pulang bekerja segera datang agar bisa memastikan keadaan sang istri.