
"Apakah aku boleh ikut denganmu? Sekalian antarkan aku pulang!" pinta Dania dengan suara lirih, hingga langkah kaki Defan terhenti dan menoleh ke belakang.
"Aku tidak ingin membuat Dira merasa tersakiti lagi. Dia merasa tidak nyaman jika kau berada di sekitarku!" lontar Defan.
Dania hanya menunduk menyesali semuanya. Hingga akhirnya, ia ditinggali oleh Defan seorang diri di lobby kantor yang sudah dalam keadaan sepi.
***
Orang tampak menikmati santapan termasuk juga Diki, dia bahkan sedang menghabiskan sajian Chinese food yang dihidangkan di meja makan.
Lalu, Carol memberikan satu penampilan kecil untuk mengisi acara sore mereka. Carol menyanyikan sebuah lagu berjudul 'semata karenamu'
Apalah arti cinta yang indah
Apalah arti cinta dan sayang
Slalu terhalang masalah lama
Tentang rasa percaya
Hati yang kujaga slalu
Untuk dirimu yang mengeluh
Tentang pribadi yang slalu salah
Di pandanganmu sayang
Tapi ku tetap trus melangkah
Karna ku tak mau berpisah
Hilangkan semua
Curiga yang membuat kita trus berjarak
Percayalah pada diriku
Ku kan slalu menjagamu
__ADS_1
Hingga akhir hidupku
Malam bantu aku tuk luluhkan dia
Bintang bantu aku tuk tenangkan dia
Dari rasa cemburu dari rasa curiga
Karna hati ini kusimpan hanya untukmu
Tenangkan dirimu kau terlalu jauh
Sebenarnya aku tak seburuk itu
Semua perjuanganku di belakang dirimu
Semata karna ku tak mampu hidup tanpamu
Setelah Carol menyelesaikan lagunya, tiba-tiba Defan baru datang dan segera bergabung dengan mereka. Dira menyambut kedatangan suaminya dengan senyum yang lebar. Tak lupa, ia juga memberikan satu pelukan hangat didalam dekapan tubuh pria itu.
Kemudian, Defan duduk di samping istrinya setelah saling berkenalan dengan Jefri dan keduanya saling berjabatan.
"Saya Defan, suaminya Dira." Defan mengulurkan tangan, keduanya pun saling berjabat tangan.
"Oh, ya, Abang sudah makan?" tanya Jefri, karena ia tak ingin tamunya merasakan kelaparan.
"Sudah, saya masih kenyang tadi habis ada acara perayaan besar-besar di kantor. Kebetulan ada potong kue dan tumpeng juga, jadi saya masih kenyang!" imbuh Defan.
Acara makan-makan itu pun berakhir, ditutup dengan acara karaoke yang dimeriahkan oleh Dira dan sahabarnya. Sampai-sampai, Defan ikut bergoyang memeriahkan acara tersebut. Tak hanya itu, Diki juga ikut menyumbangkan sebuah lagu dengan suaranya yang datar dan sumbang.
"Jef, gimana kalau kita lanjut perayaan ini dengan trip kedua dari saya? Karena saya baru saja memenangkan kasus besar yang saya tangani jadi saya berniat untuk mentraktir kalian semua!" ungkap Defan, meminta pendapat pada pemilik acara.
Defan berniat mengajak seluruh tamu yang hadir untuk melanjutkan kegiatan bersenang-senang hari itu.
"Boleh juga, Bang! Saya juga nggak buru-buru pulang kok!" jawab Jefri lugas.
Semua yang ada di sana pun tampak antusias termasuk juga Diki setelah mendapat ajakan dari Defan. Sebelumnya, Defan juga sempat berkenalan dengan Diki, tapi ia tak terlalu akrab dan memberikan respon yang biasa pada Diki karena pria itu hanyalah sebagai teman dari antara perempuan di sana, bukan bagian dari pasangan.
Setelah ajakan Defan mendapat persetujuan, semuanya mulai memikirkan tempat apa yang harus mereka kunjungi lagi untuk melanjutkan acara ini.
__ADS_1
Restoran yang didatangi juga sudah lengkap mulai dari makanan serta tempat karaoke. "Tadinya sih saya mau menyarankan kita lanjut karaokean tapi di sini juga sudah ada ternyata!" beber Defan, memikirkan ulang tempat yang bagus untuk didatangi.
"Memang restoran ini sangat lengkap karena konsepnya rumah makan sekaligus untuk acara hiburan, jadi cocok untuk acara-acara besar lah," sahut Jefri.
"Ada usul nggak nih, kita mau ke mana lagi?" tanya Defan, menoleh pada perempuan-perempuan yang tengah duduk mendengarkan lagu yang disumbangkan oleh Diki untuk terakhir kalinya.
Perempuan itu tampak berpikir tempat apa yang harus mereka kunjungi untuk merayakan kemenangan Defan hari ini.
Tiba-tiba, Shinta memberikan saran, karena sudah terlalu biasa hanya sekedar makan dan karaoke ataupun bermain di mall. Oleh karena itu, dia memberikan saran yang sangat-sangat mengejutkan.
"Bagaimana kalau kita staycation dan ditraktir oleh bang Defan?" usul Shinta, alhasil semua mata tertuju padanya karena saran yang mengejutkan itu.
"Staycation gimana? Cuma sepasang aja yang suami istri, lainnya masih menggantung!" sergah Carol, tak setuju dengan keputusan itu.
"Kan bisa untuk perempuan satu kamar, sementara laki-laki dalam satu kamar, jadi tidak ada tuh hubungannya dengan status pernikahan!" balas Shinta.
Dira tampak berpikir, sebab ia tak bisa berjauhan tidur dari suaminya. Dira ingin selalu berada di samping suami. Apalagi saat Defan beranjak dari ranjang, Dira sudah merasa kehilangan jika tidak menemukan suaminya berada di samping.
"Enggak lah, enggak seru kalau staycation!" tolak Dira.
"Iya, saya nggak mau buang-buang duit tapi saya nggak bisa berduaan dengan istri!" erang Defan, dengan raut wajah datar.
Orang-orang di sana malah menertawai Shinta. Oleh karena itu, yang lain pun memilih perayaan yang lain, dengan cara yang sederhana tapi memberikan kesan yang istimewa.
Kebetulan hari sudah semakin malam, semuanya masih sibuk berada di dalam restoran menikmati suara sumbang yang diberikan oleh Diki.
"Jadi ke mana nih?" tanya Defan sekali lagi, sembari mengedarkan pandangan meminta pendapat pada semua orang yang ada di sana.
Tidak sedikit yang tengah berpikir mengenai rencana lanjutan mereka, hingga akhirnya semua orang tampak larut dalam pikiran masing-masing untuk memberikan usulan lanjutan trip kedua.
Di sisi lain, beberapa orang merasa buntu karena tidak ada lagi tempat yang harus dituju saat malam-malam begini. Namun, Jenny langsung memberikan usulan yang membuat orang semakin terheran-heran dan penasaran.
"Gimana kalau kita ke pasar malam aja?" celetuk Jenny, dengan ide cemerlang.
Lantaran sudah terlalu biasa untuk mengadakan acara mewah, Jenny lebih memilih mengusulkan untuk para pasangan muda yang memiliki kekayaan fantastis itu bisa menikmati wahana sederhana yang ada di pasar malam. Jenny ingin membuat orang-orang kaya itu terkecimpung dalam kegiatan permainan yang sering didatangi oleh rakyat jelata.
"Eh, iya cocok tuh! Aku belum pernah lho," sahut Carol, seraya memikirkan bentuk pasar malam itu seperti apa.
"Iya, benar sekali! Aku juga belum pernah ke sana, dulu cuma lewat. Tahu sendirikan, waktu dulu keluargaku susah jadi aku tidak pernah diajak ke pasar malam," tambah Dira, ikut antusias untuk bermain di pasar malam.
__ADS_1
"Kalau Bang Defan sama Bang Jefri, udah pernah belum ke pasar malam?" cecar Jenny, menatap penuh selidik, sebab kedua pria itu dari tadi memilih diam dan tak berkutik.
Defan dan Jefri menggelengkan kepala dengan serentak. Keduanya memang tidak pernah menginjakkan kaki di pasar malam. Bahkan, mereka tidak tahu bagaimana kondisi pasar malam.