
"Abang, sih dibangunin dari tadi malah nggak nyaut-nyaut, kita kesiangan ini gara-gara abang yang terlalu getol untuk meminta jatah sampai 3 ronde," desah Dira, sembari membuang nafas kasar.
Defan berlari ke kamar mandi, suara air mengguyur hingga ke sisi lantai. Ia terus menyiramkan tubuhnya dari air shower yang berada di atas kepala, hanya butuh waktu 5 menit, ia sudah kembali ke kamar. Di dalam kamar, Defan segera mengusap seluruh tubuh agar mengering sehingga air tak menetes lagi.
Kemudian, Defan buru-buru meraih baju yang sudah disiapkan oleh Dira. Ia memakai kemeja, celana bahan, dasi hingga jas dengan cepat. Tanpa ada sarapan, sepasang diami istri itu langsung berangkat.
Sembari menyetir mobil, Defan akhirnya menggerutu seorang diri karena ia tahu kalau keterlambatan ini terjadi akibat kesalahannya sendiri, yang memaksa istrinya untuk memberikan 3 ronde pada malam tadi.
Oleh karena itu, ia pun tidak bisa marah pada Dira, mngapa wanita itu bisa bangun terlambat hingga tidak membangunkannya.
"Abang, buruan aku hampir terlambat loh ini. Udah kelewat satu kelas pula, sebentar lagi ada dosenku yang cukup galak, dia akan mengumumkan nilai hasil ujian dadakan kami," racau Dira, terang memerintah suaminya agar melajukan mobil dengan cepat, sehingga Defan menurut saja.
Tak berselang lama, Defan mengantarkan istrinya tepat di depan kampus, lalu keduanya saling berpamitan. Defan langsung menancapkan gas, menuju kantor. Untung saja hari ini ia tidak ada sidang karena jika ada sidang maka bisa-bisa popularitasnya akan menurun karena dicap sebagai pengacara terlambat hingga berujung tak bisa menghadiri persidangan.
Saat sudah berada di kantor, Defan berpapasan dengan Dania. Defan berjalan terburu-buru tetapi ada sahabatnya yang menyapa dengan heboh.
Wanita itu dengan suara khas yang cempreng justru iseng meledeki Defan. "Tumben kau telat, Def nggak dibangunin istrimu, ya!" ucap Dania sembari terkekeh, alhasil tingkahnya memancing kemarahan Defan.
"Ah, sudahlah kau kerja saja, aku mau langsung ke ruanganku," ketus Defan, tanpa mau basa-basi dengan Dania, lalu ia berjalan dengan langkah lebar dan segera masuk dalam ruangan.
Sementara, Dania meracau tiada henti, mengejek Defan yang sangat acuh padanya. "Awas kau, Def lihat saja nanti kalau sudah tidak ada si Juni, siapa lagi yang akan mengajakmu mengobrol kecuali aku." Dania tersenyum kecut menatap tajam ruangan Defan yang sudah terkunci dengan rapat.
__ADS_1
****
Dira berlari di lorong kampus, ia khawatir akan terlambat masuk tepat pukul 9 pagi karena saat itu dosen Maudy tentunya sudah berada di dalam kelas. Oleh karena itu Dira pontang-panting berlari dengan kencang hingga napasnya terengah-engah tanpa henti.
Untung saja, saat ia tiba di dalam kelas ternyata dosen Maudy belum datang, akhirnya dia duduk di samping Jenny karena sahabatnya itu sudah mengamankan kursinya.
Jenny tahu saat kelas pertama Dira tidak hadir, dia sengaja meletakkan tas di kursi Dira agar tidak ada orang yang menempati.
"Heh, kau dari mana aja? Kok jadwal kelas pertama nggak masuk sih," tegur Jenny seraya menatap lekat sahabatnya yang masih mengatur nafas karena terenggal-enggal akibat lelah berlari.
"Gila, aku kesiangan hari ini, itu semua gara-gara bang Defan yang terlalu parah tadi malam," beber Dira, sembari menyembunyikan persoalan inti di dalam rumah tangganya.
"Iya, aku tahu makanya aku berlari-lari saat menuju kelas ini. Untung saja masih ada waktu yang tersisa dan dosen Maudy belum masuk ke dalam kelas," imbuh Dira, menatap sinis wajah Jenny.
Di sudut ruangan, ada Angga yang tengah menantikan perempuan yang menjadi dosennya.
Flashback ...
Angga seketika mengingat kejadian kemarin, saat hendak mengantarkan pacarnya ke apartemen. Mereka memang sempat berdebat tentang tempat tinggal Angga agar bisa didatangi oleh Maudy tapi Angga menolak dengan tegas dan agar Maudy tidak mendesak untuk mengajaknya datang ke rumah itu.
Oleh karena itu, Angga pun mengantarkan Maudy ke apartemennya. Namun? saat menurunkan diperparkiran justru Maudy menarik lengan Angga dan mengajaknya ikut masuk ke dalam apartemen. Angga pun menurut saja, ia mengekori Maudy masuk ke dalam apartemen itu.
__ADS_1
Terjadilah hubungan kedua diantara keduanya, yang membuat Angga semakin memuji keahlian dosennya itu saat berada di atas ranjang. Bahkan, Angga kini mulai jatuh hati pada dosennya. Ia seperti ingin terus berada di dekat wanita itu, servis di atas ranjang memuaskan baginya.
Tak hanya itu, apalagi yang dilakukan oleh Maudy adalah hal yang pertama bagi Angga. Sepertinya Maudy jelas-jelas mengajarkan sesuatu hal yang tabu sehingga Angga semakin penasaran dibuat oleh perempuan yang lebih tua darinya itu.
"Selamat pagi," sapa Maudy, lalu menatap seluruh mahasiswa, kemudian ia mengedarkan pandangan mencari sosok pacar berondongnya.
Lalu, menyematnya senyum tipis dan mengerling tipis-tipis saat matanya menatap wajah Angga agar tidak terlihat oleh mahasiswa lain. Angga pun membalas senyuman dosennya itu tanpa ragu-ragu.
"Oke, gari ini kita akan mulai pelajaran tapi sebelumnya, saya akan mengumumkan tentang nilai hasil ujian kalian. Ada beberapa anak yang harus mendapatkan hukuman karena mereka tidak belajar secara serius pada mata kuliah saya sehingga saat ujian dadakan dilakukan, bilainya sangat jelek," seloroh Maudy, dengan tatapan sinis tetapi sangat menggoda bagi Angga.
"Huuuuuu." Seluruh mahasiswa berteriak dan tidak terima dengan hasil yang akan disampaikan oleh dosen Maudy. Tak terkecuali, bagi Angga justru duduk dengan tenang dan percaya diri bahwa nilainya akan menjadi nilai yang paling terbaik diantara semuanya.
Maudy menyebutkan satu persatu nilai-nilai mahasiswa, yang masih berada diurutan aman ada Jenny dan Dira, mereka terpilih menjadi salah satu anak yang memiliki nilai bagus.
Bahkan, Jenny dan Dira meski sempat terkejut adanya ujian dadakan tersebut tapi akhirnya mereka berhasil menjawab soal dari ujian dadakan yang diberikan Maudy. Tak sia-sia rasanya berhasil mempelajari mata kuliah yang diterangkan oleh Maudy.
Namun, ada lima orang anak yang masuk deretan memiliki nilai jelek. Mereka mendapatkan hukuman untuk membersihkan kamar mandi kampus.
Dan terakhir, Maudy mengungkapkan seorang anak yang memiliki nilai terbaik diantara semuanya. Nilai sempurna diberikan Maudy bukan karena pria itu adalah kekasihnya. Melainkan, karena Angga berhasil menjawab soal ujian dengan jelas, rinci dan akurat.
"Selamat kepada Angga, dia mendapatkan nilai 100." Maudy memerintah pada mahasiswa untuk memberikan tepuk tangan pada pacar berondongnya.
__ADS_1