
Defan langsung berkemas, membawa tas kerjanya dan membiarkan berkas-berkas masih menumpuk di meja kerjanya.
Ia berlari keluar dari kantoran, langsung menuju perpakiran. Dengan cepat pria itu melajukan mobilnya. Ia mengerti kondisi Dania, gadis itu sudah tidak memiliki seorang ayah. Mungkin sekarang ini, Dania tengah sibuk mengurusi prosesi pemakaman serta pesta untuk kepergian sang mamak.
******
Dira mencuri-curi waktu untuk menatap ponselnya yang tadi sempat bergetar. Baru saja ia membaca pesan dari suaminya itu. Begitu terkejutnya Dira kalau Dania sudah ditinggalkan oleh seorang ibu.
Perempuan itu pasti merasakan kehancuran dunianya kala kepergian mamaknya. Pikiran Dira berkecamuk. Ia bahkan turut bersedih untuk perempuan yang terkadang dianggapnya sebagai rival.
"Ssstt." Dira berbisik pada Carol, menunjukkan isi pesan Defan pada teman sebangkunya. Perasaan yang sama pun menggeluti dihati Carol.
"Ish! Kok bisa cepat kali perginya mamak kakak itu," bisik Carol pada Dira, mereka pun menghindari perhatian guru killernya agar tak ketahuan tengah mengobrol.
Dira meletakkan jari telunjuknya di bibir, pertanda kalau Carol harus diam karena guru mereka memperhatikan. Gurunya itu sedang duduk menunggu Sekretaris kelas mereka yang mencatat pelajaran di depan papan tulis.
Carol mengangguk patuh, sementara dua orang dibelakang mereka tengah dihantui rasa penasaran. "Ada apa sih?" bisik Shinta menoel punggung Dira saat itu juga.
Dira tak mau menciptakan masalah baru ditengah-tengah jam pelajaran guru killer mereka. Ia terpaksa mencueki teman-temannya, kembali fokus pada pelajarannya.
******
Defan baru saja mengangkat teleponnya lantaran sang bapak baru saja menghubunginya. Padahal saat ini, Defan sedang menuju ke rumah Dania.
"Halo pak?" sapa Defan melalui sambungan teleponnya.
"Kau dimana? Bapak mau ngajak ngelayat ke rumah si Dania," ujar Desman yang baru saja keluar dari ruangan usai mengikuti meeting.
"Bentar lagi aku sampai. Bapak langsung saja ke rumahnya," terang Defan.
"Astaga! Maksud bapak tadinya kita mau berangkat bersama. Kok udah duluan aja kau," keluh Desman.
"Lama nunggu bapak, siapa tahu bisa bantu-bantu di rumah si Dania. Udah dulu ya pak, Defan lagi parkirkan mobil ini." Defan mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
__ADS_1
Sementara, Desman langsung bergegas keluar kantor. Ia menyusuli putra semata wayangnya. Apalagi Dania adalah sahabat anaknya sekaligus rekan kerja mereka di kantor S.N.G Lawfirm.
"Ayo semuanya ikut!" ajak Desman pada sekretaris dan asisten yang kerap membuntutinya.
Kedua orang itu secara terpisah mengikuti CEO mereka. Asisten dan sekretarisnya menaiki mobil yang sama. Sedangkan Desman naik mobilnya sendiri diantarkan oleh supir pribadinya.
Tak berselang lama, Defan langsung masuk ke rumah Dania. Suasana di dalam rumah itu tampak dingin, riuhan isak tangis membanjiri seisi ruangan.
Disana terlihat Dania dan kedua adiknya sedang menangisi mayat sang ibu yang telah tergeletak dingin diatas peti mati yang terbuka. Dibawahnya sengaja disimpan bongkahan es batu untuk mengawetkan mayat agar tidak tercium bau amis dari mayat.
Dania langsung beranjak melihat kedatangan sahabatnya. Ia berjalan lemas mendekati Defan. Pria itupun ikut mendekati agar Dania tak perlu membuang tenaga untuk menghampirinya.
"Yang tabah kau ya Dan!" Defan menepuk-nepuk pundak Dania menenangkan.
Namun, hal diluar dugaan dilakukan oleh wanita berusia 27 tahun yang sepantaran dengan sahabatnya. "Def ... hiks ... hikss." Dania menangis tersedu-sedu dipelukan Defan. Defan bahkan tak bisa menolaknya. Ia menerima rengkuhan tubuh gadis itu yang bersandar di dadanya.
Buliran tetesan bening terus saja mengalir membasahi pipinya yang terlihat pucat. Matanya membulat terlihat seperti kelelahan karena terus menangis.
"Udah tenang ... tenang." Defan terus mengelus punggung wanita yang menempel didadanya dengan lembut. Tak ada lagi jarak diantara mereka. Namun, Defan menyadari hal itu tak boleh berlanjut lebih lama.
Defan memegang kedua lengan Dania dan mendorongnya dengan lembut ke belakang. Ia pun merangkul wanita mengajaknya mendekati mayat sang ibu. Lalu mendudukkan Dania di dekat mayat ibunya.
Defan ikut berkabung dan memberikan sepucuk doa di depan mayat ibu temannya itu. "Kapan dimakamkan Dan?" tanya Defan setelah menuntaskan doanya.
"Dua hari lagi Def, nunggu semua kerabat berkumpul," jawab Dania lugas.
"Apa dibikin pestanya?" lontar Defan.
Dania mengangguk pelan. Ia hanya mengikuti saran tetua dikeluarganya. Mereka meminta tetap dibuat acara pesta kecil-kecilan atas kepergian ibunya. Meski wanita itu belum menikahkan satupun anak-anaknya.
"Baiklah. Apa sudah diurus tempat pemakamannya?" tutur Defan setelah mendudukkan bokongnya didekat Dania.
Dania pun mengangguk lagi, berkat bantuan keluarganya terutama dari tulang-tulangnya, semua persiapan sudah disiapkan. Pemakaman yang tak jauh dari rumah mereka.
__ADS_1
Kemudian, Desman bersama sekretaris, asisten serta supir pribadinya masuk ke dalam rumah Dania. Dania pun mendekatinya lalu menyalami bosnya itu, mencium punggung tangannya karena menghormatinya sebagai orang tua.
Desman pun memberikan sepatah-dua kata atas kepergian mamak Dania. Ia memberikan belasungkawa sebesar-besarnya bahkan memberikan uang dukanya di dalam amplop putih.
Ia memberikan uang itu pada Dania agar bisa membantu biaya pemakaman. Bahkan amplopnya sangat tebal, Dania sangat mensyukuri memiliki orang-orang baik dan peduli terhadapnya.
*******
"Dir, gimana kita mau melayat ke rumah si Dania?" celetuk Carol setelah mereka pulang sekolah, masih berkumpul di dalam kelas membicarakan topik yang masih hangat itu, ia sudah menunjukkan pesan dari suaminya pada Shinta dan juga Jenny.
"Akupun bingung ... menurut kelen gimana?" tanya Dira menatap ketiga sahabatnya secara bergantian.
"Yaudah kesana aja yuk. Lagian kita kan kenal sama kakak itu. Nggak enak jugalah kalau nggak datang," keluh Shinta.
"Iya sih ... mau telepon bang Defan dulu atau langsung kesana?" sambar Carol.
"Langsung ajalah. Bang Defan kayanya masih disana deh. Mungkin dia nemenin si Dania itu," lirih Dira.
"Tahu kelen rumahnya kan?" balas Carol menatap lekat sahabatnya.
Dira, Jenny dan Shinta memgangguk dengan kompak. Beruntung, mereka sempat mengantarkan Dania hingga ke depan rumahnya setelah ketemu saat karokean minggu lalu.
"Yaudah, ayo! Naik mobilku aja." Carol berjalan gontai diekori ketiga sahabatnya. Mereka menuju perparkiran sekolah. Dimana tempat mobilnya terparkir.
Keempat gadis itu masuk ke dalam mobil. Setelah duduk santai di dalam mobilnya, Dira terus menatap ponselnya. Ragu-ragu ingin mengabari suaminya kalau mereka akan mendatangi rumah Dania untuk melayat.
Tak hanya itu, Dira juga berharap ada kabar dari suaminya itu. Karena hingga jam 2 siang, pria itu tidak mengirimkan satu pesan pun untuk mengabarinya. Hingga akhirnya, Dira menetapkan tidak mengabari suaminya untuk menyusul ke rumah duka.
Selama 10 menit di perjalanan, keempat gadis itu sudah berada di halaman rumah Dania. Tampak keramaian memadati rumah bercat tosca itu.
"Ayo masuk!" Jenny menyakinkan agar Dira tak ragu-ragu memasuki rumah perempuan itu.
Saat Dira masuk, ia melihat Defan duduk di samping Dania. Bahkan, Dania sedang terkulai lemas, menyandarkan pucuk kepalanya di pundak suaminya.
__ADS_1