
"Belum! Kau saja yang kukutuk! Mau?" tanya Dira, menatap sengit lantaran ceritanya dipotong.
Dira melanjutkan kisah cerita rakyat yang berujung dengan ending memilukan.
"Malin, apa kau sudah lupa? Aku ini ibumu?" tandas perempuan renta tersebut saat Dira menirukan ucapan itu.
"Tidak! Aku sudah tidak punya ibu!" tampik Malin, seraya menggenggam tangan istrinya agar menjauhi perempuan miskin yang lusuh.
"Nak, jangan begitu! Aku ini, ibumu!" rintih wanita tua, menangis dengan suara pilu. Air mata sudah membasahi pipi tirusnya karena usia sudah menua tergerus oleh waktu. Dira pun mempraktekkan gaya bicara yang dengan kesedihan mendalam.
Sampai akhir, si malin tetap tak mau mengakui ibunya. Hingga ditonton oleh orang banyak di sekitar, Malin tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Sementara, sang istri semakin tak tega melihat wanita tua yang memohon dan merintih ingin diakui sebagai seorang ibu.
"Malin, apa benar dia ibumu?" tanya istrinya, seakan tak percaya pada pengakuan suaminya sendiri. Malin pun tetap menggelengkan kepala.
Dira melanjutkan, wanita tua itu berlutut sembari menangis tersedu-sedu. Ia seakan berdoa agar anaknya menyadarkan diri dan mengakui kalau dia adalah ibunya.
"Pergi sana kau! Dasar perempuan miskin!" teriak Malin, mengusir ibunya sendiri.
Sang ibu yang terduduk, merutukki malin kundang. "Dasar anak durhaka! Kukutuk kau jadi batu!"
Prok ... Prok ...
Riuh tepuk tangan menggema di ruangan. Cerita Dira benar-benar mengharukan.
"Tenang, tenang! Belum beres loh ceritanya!" hardik Dira, sembari menggambarkan pemuda yang berlutut memohon ampun di papan tulis.
Dira kembali menceritakan lanjutan kisah tersebut.
"Tiba-tiba, suara gemuruh menyambar, langit menjadi gelap. Rintik hujan mulai membasahi. Ajaibnya, doa wanita tua itu langsung diwujudkan," cerita Dira, menggebu-gebu menunjukkan kemarahan terhadap si malin kundang.
"Terus ... terus ...!" teriak semua maba dengan kompak.
"Emangnya lagi markir!" cibir Dira, yang lain malah mentertawainya.
Dira bercerita, langit seolah marah pada si Malin Kundang. Gemuruh petir terus menyambar hingga membuat malin ketakutan.
"Malin, apa benar dia ibumu?" desak istrinya agar si malin mengakui status si wanita tua itu.
Malin tetap menggelengkan kepala dengan rasa khawatir yang menyelimuti hatinya. Ia sungkan mengakui kalau wanita itu adalah benar-benar ibu yang melahirkannya.
__ADS_1
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Sang ibu menangis semakin histeris saat mendengar Malin tak kunjung mengakuinya.
Badai pun muncul, angin bertiup sangat kencang. Membuat malin dan sang istri semakin kelimpungan menghadapi tiupan siuran angin yang semakin kuat menyeret tubuh mereka hingga ke tepian pantai.
"Malin, akuilah kalau dia memang ibumu!" seloroh istri Malin, berharap malin menurunkan egonya.
"Tidak!" kata Malin, dengan wajah sendu.
"Kau akan benar-benar menjadi batu! Anak durhaka!" ucap wanita tua itu.
Gemuruh terus menyambar mengenai tubuh malin, lelaki itu pun bertekuk lutut, hingga akhirnya tubuhnya terkulai seolah-olah menyembah memohon ampun.
Tak terasa, air matanya keluar. "Ibu!" ucap Malin seraya menyesali perbuatannya.
Namun, tubuhnya sudah tak bisa bergerak. Seolah-olah ia mulai membantu. Tak lama kemudian, tubuh itu berubah wujud jadi batu dengan posisi akhir yang sedang bersimbah memohon ampun.
Wanita tua itu semakin histeris meratapi perubahan anaknya. Anak tersebut benar-benar menjadi batu sesuai dengan sumpah serapahnya di tepi pantai.
Prok ... Prok ...
Riuh tepuk tangan kembali memecahkan keheningan setelah cerita Dira berakhir. Semua mengapresiasi cerita yang disampaikan Dira dengan penuh penghayatan.
Ia berhasil menjadi pendongeng yang baik. Bisa membawa penonton masuk ke dalam ceritanya. Bahkan, perempuan yang ada di kelas itu menangis tersedu-sedu karena hanyut dalam ceritanya.
"Gimana, kak?" tanya Dira, sedikit malu karena banyak yang bertepuk tangan untuknya.
"Bagus!" kata Gamal seraya mengacungkan jempol.
"Menghayati sekali," tambah Wati, ikut-ikutan mengacungkan jempol.
Dira kembali duduk di kursi. Suara detak jantung terus berpacu cepat tak henti-henti. Ia masih merasa deg-degan lantaran bercerita di depan seluruh teman-temannya.
****
Jam istirahat telah tiba. Dira berkumpul dengan teman-temannya di kantin. Sejak pagi, Shinta sudah berada di sana karena tak bisa mengikuti ospek.
"Heh, kau kok melamun aja!" sindir Jenny, saat mendapati soulmatenya sudah berada di kantin lebih dulu.
"Aku keluar dari kelas!" tutur Shinta, mengerucutkan bibir.
__ADS_1
"Kenapa?" ujar Dira, menatap manik indah Shinta.
"Gila! Masa aku dikasih hukuman berat, tiga sekaligus. Kau pikir aja itu, disuruh joget, bawa tas sama keliling lapangan lima kali. Apa nggak gila itu? Hanya karena aku kalah makan kerupuk kemarin," desah Shinta, meratapi keputusannya.
"Terus? Mereka yang usir kau dari kelas?" sahut Carol, usai kembali mengambil pesanan hasil traktiran Jefri.
"Mereka kasih pilihan karena aku protes. Katanya mau jalanin hukuman atau aku keluar kelas? Ya, lebih baik aku keluar kelaslah!" cerocos Shinta, mengomel-ngomel seorang diri.
"Pilihan yang tepat, sobat!" Jenny menepuk punggung Shinta, lalu mengacungkan jempolnya.
"Iya, daripada kau mati berdiri! Bagus itu, jadi kayak mana acara ospek kelen?" sahut Dira, mengerutkan keningnya.
"Entahlah! Nggak tahu aku, dari pagi aku di sini!" jelas Shinta, menggerutu.
Tiba-tiba, Jefri menghampiri meja Carol. Wanita itu berhenti makan lantaran ada sosok pria yang menyukainya datang.
"Kenapa, bang?" tanya Carol, mendelik kesal merasa terganggu.
Jefri mendekat, lalu merunduk agar bisa mendekati telinga Carol. "Kawan-kawanmu belum makan, kan? Suruh ambil saja, nanti abang yang bayar," bisik Jefri.
Carol pun menoleh pada wajah pria itu. Namun, kepalanya malah berbenturan dengan kepala Jefri lantaran jarak mereka terlalu dekat.
"Aww!" pekik Carol, kesakitan. Jefri pun kembali menegapkan tubuhnya, merasa tidak terjadi apa-apa padahal ia juga kesakitan.
Lalu, Jefri bergegas pergi tanpa mengucapkan kata apa-apa lagi. Ketiga sahabat Carol saling menatap dan berbisik. Kemudian, menyerang Carol dengan tatapan tajam.
"Kelen disuruh makan, nanti dia yang bayar!" tukas Carol, seakan tahu maksud tatapan tajam sahabatnya.
Jenny, Dira, dan Shinta terkekeh kegirangan. Mereka juga senang lagi-lagi ditraktir oleh Jefri. "Laki-laki royal begitu jangan disia-siakan, Rol!" imbuh Dira, mengerlingkan mata dengan genit.
"Ho'oh! Udah mirip tuh kayak bang defan, idola kita. Bukannya kau juga mau seperti suami si dira?" ungkap Shinta, memicingkan mata.
"Ah, kelen ini! Aku belum niat pacaran. Udah sana kelen ambil makanan, nanti bilang aja nama si jefri," jelas Carol, kembali menyantap makan siangnya.
Ketiga sahabatnya langsung berlari, memesan makanan yang diinginkan. Sesuai dengan perintah Carol, ketiganya menyebut nama Jefri pada ibu kantin saat memesan makanan.
Tak berselang lama, ketiganya kembali duduk, membawa piring dan minuman. "Ah, sering-sering ginilah calon pacarmu, Rol!" ledek Jenny, tertawa sumringah.
*****
__ADS_1
Defan tengah memikirkan strategi untuk persiapan sidang pekan depan lanjutan kasus korupsi dan judi online.
Selain itu, ia baru saja menerima surat asli kepemilikan tanah yang diserobot oleh tetangganya.