Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Salah besar


__ADS_3

Sahat pun merasa lega setelah mendengar penuturan dari menantunya. Setidaknya, harapan yang selama ini diinginkan ternyata tercapai. Uang yang susah payah direbut si penipu ternyata masih utuh dan akan kembali padanya.


"Ah yang benar, Hela? Berarti uang itu bisa dikembalikan pada kami? Semua korban penipu itu?" sosor Sahat, dengan suara bergetar lantaran merasa terharu.


"Iya, Amang pokoknya nanti aku kabari lagi dan aku akan jemput Amang kalau dia sudah sampai di Medan," tandas Defan, lalu mengakhiri sambungan telepon mereka.


****


Semua mahasiswa baru saja mengerjakan ujian yang diberikan oleh dosen Jaki Ananda, termasuk dengan Anggi yang menjawab dengan cepat dan menjadi orang pertama yang mengumpulkan lembaran jawaban ujian yang diberikan oleh dosennya.


Dengan rasa angkuh, Anggi mengumpulkan jawaban itu ke depan meja sang dosen. Lalu, ia segera keluar dari ruangan karena merasa jengah menatap wajah dosen itu. Ia merasa khawatir menjelang detik-detik perjanjian yang dipinta oleh Jaki Ananda, mereka sudah janjian untuk makan siang bersama.

__ADS_1


"Sial, bagaimana ini, apa aku harus makan siang dengannya?" gumam Anggi bertanya-tanya, saat sudah duduk di kantin kampus seorang diri tengah menikmati camilan.


Usai dosen Jaki mengajar, tidak ada kelas lagi yang akan diikuti oleh Anggi. Jam menuju waktu makan siang masih panjang. Oleh karena itu, Anggi pun menunggu di kantin kampus sampai jam waktu makan siang masih tersisa sekitar 2 jam lagi untuk mencapai jam tersebut.


Namun, entah mengapa baru 30 menit berada di kantin, Anggi sudah merasa bosan hingga akhirnya ia pergi ke perpustakaan kampus untuk mengisi waktu luang dengan membaca buku ataupun mempelajari mata kuliah yang belum sempat ia sentuh.


Hingga menuju jam makan siang, jantung Anggi semakin merasa berdegup kencang lantaran jam sudah menunjukkan ia harus bergegas menuju ruangan sang dosen.


Detik-detik mau memasuki makan siang, dengan rasa yang malas, mau tidak mau, akhirnya ia akan membuat bertemu lagi dengan sang dosen.


Anggi berlari dari perpustakaan menuju ruangan Jaki Ananda tapi saat menyusuri lorongan kampus, ia sudah bertemu pria itu dengan membawa tumpukan lembaran jawaban siswa di pelukannya.

__ADS_1


"Tunggu!" celetuk Jaki dengan suara lirih, ia tak ingin menjadi pusat perhatian mahasiswa yang berada di sekitar.


Langkah kaki Anggi terhenti, ia menuruti ucapan sang dosen dengan jarak yang cukup jauh.


"Kenapa, Pak?" sahut Anggi, dengan kepala tertunduk, tak ingin melihat wajah pria itu.


"Ikut saya ke ruangan!" titah Jaki, lalu mulai berjalan gontai menuju ruangan dosen.


Jaki mengira, Anggi ingin menghindarinya bahkan menolak ajakannya untuk makan siang. Padahal, dugaannya salah besar, Anggi justru sengaja ingin datang ke ruangan Jaki sesuai permintaan pria itu.


Keduanya berjalan dengan jarak yang cukup jauh, Anggi tidak ingin menari perhatian mahasiswa lain.

__ADS_1


Sebelumnya, Jaki sudah memesankan pada pihak kantin untuk mengantarkan makanan ke ruangannya. Walaupun ia tidak tahu apa makanan kesukaan Anggi, i memesankan makanan yang cukup banyak sebagai pilihan mereka berdua untuk menyantap makan siang.


Jaki melenggang dengan santai hingga mereka berdua sampai di depan batas ambang pintu ruangannya. Jaki memang memiliki ruangan tersendiri, ia tidak bergabung dengan dosen lain.


__ADS_2