
"Dir, Dira?" teriak Defan setelah membuka pintu rumah di kondominium miliknya.
Dira pun segera keluar kamar setelah mendengar teriakan Defan. Ia berlari lalu memeluk erat suaminya yang kelihatan begitu lesu.
"Maaf, tadi abang nggak izin dulu. Soalnya genting," kata Defan saat menerima pelukan erat gadis itu.
"Abang, kenapa sih suka kayak gitu! Ninggalin aku sendirian! Kan aku bisa nemanin abang ke kantor," lirih Dira sedikit kecewa, menengadahkan kepala menatap pria itu.
"Iya, maaf! Yaudah, ayo, kita tidur! Besok pagi, abang harus berangkat, ada sidang," ajak Defan, kemudian merangkul Dira di sisinya.
Defan pun membaringkan Dira di sebelah. Keduanya menatap langit-langit kamar, larut dalam pikiran masing-masing. "Bang, janji lain kali nggak ninggalin aku sendiri kayak gini!" pinta Dira saat mengeyampingkan tubuhnya menghadap laki-laki itu.
Defan pun mengulurkan tangan, lalu mendekap Dira penuh kehangatan. "Janji!" jawabnya, lalu mencium pucuk kepala itu dengan lembut.
Keduanya pun kembali tertidur, hanya dengan lampu tidur yang menyala. Saling berpelukan hingga pagi membangunkan keduanya.
******
Pagi-pagi sekali, grup watsapp Dira sudah ramai. Ketiga sahabatnya sudah ribut-ribut mengagendakan jadwal liburan mereka.
Carol
Jalan-jalan lah yok? Suntuk nih di rumah terus!
Jenny
Gimana kalau kita ngemall?
Shinta
Bosan ah, ke Danau Toba yuk? Mumpung masih panjang libur kita, nginap disana aja?
Carol
Jauh kali mainmu bah! Nggak ada tempat lain? Kalau mall terus bosan juga sih!!!
Jenny
Yaudah ke danau toba aja, kayaknya serulah!!
__ADS_1
Chat di grup itu sampai 100+ tapi Dira tak kunjung merespon. Pembicaraan liburan mereka masih gamang, tidak ada kepastian jelas. Ketiga sahabat Dira penuh kebimbangan.
Dira memang bukan sengaja tak merespon usulan ketiga sahabatnya tetapi karena memang belum terbangun dari tidur nyenyaknya.
Pagi itu, baru jam 7 pagi, tapi ponselnya terus saja berdering menandakan banyaknya notifikasi yang muncul di pop layar ponsel miliknya.
Dira pun terbangun karena mendengar suara berisik dari arah nakas. Matanya serasa berat untuk terbuka lantaran tadi malam begadang menunggu sang suami kembali ke rumah.
Dira melirik jam di dinding, masih menunjukkan pukul 7 pagi. Ia merasa lega, selama Dira libur, Defan memang berangkat lebih siang dari biasanya.
Terkadang berangkat jam 7 atau paling lama jam 8 pagi. Sebab, Defan selalu sarapan bersama Dira, terkadang makan di luar atau hanya sekedar untuk menyantap nasi goreng buatan Dira, terkadang pun hanya memakan roti buatan istrinya itu.
"Abang, bangun! Udah jam 7 loh, katanya mau ada sidang," titah Dira masih di dalam dekapan Defan. Ia mulai terbiasa tidur ditemani pelukan hangat sang suami.
"Hmmm," gumam Defan menjawab perkataan perempuan itu. Namun, matanya masih tertutup rapat. Belum ada niatan untuk membukanya.
Defan masih merasa ngantuk karena baru 4 jam tertidur sejak kepulangannya dini hari tadi. Matanya serasa berat, bahkan ia mengeratkan pelukannya agar Dira tak segera beranjak dari kasur.
"Abang, nanti kesiangan loh!" ujar Dira bernada lembut.
"Iya, sayang! Sebentar, abang masih menyadarkan diri dulu!" jawabnya.
Defan mulai membulatkan bola matanya. Melonggarkan pelupuk matanya agar membulat sempurna. Ia pun melihat kebawah, mencium pucuk kepala Dira dengan lembut.
"Abang aja ah. Aku malas, masih mau bobok!" jawab Dira datar.
"Ayolah! Mau sarapan di luar nggak?" tawar Defan menatap lekat kedua bola mata Dira.
"Engga! Aku masih ngantuk berat. Aku bangunin abang karena katanya mau sidang pagi ini! Aku juga belum lapar, kalau lapar nanti sarapan roti aja," tutur Dira panjang lebar.
"Yaahhh ... nggak seru! Masa abang mandi sendiri sih." Defan malah mengeratkan pelukan itu, mengikis jarak diantara mereka berdua, sampai Dira merasa sesak.
"Udah sana, abang mandi sendiri aja. Biar aku seduhkan teh sama bikin roti!" Dira mengendurkan pelukan itu, mendorong tubuh Defan agar bergeser ke belakang.
"Ih, kenapa sih malah menjauh!" protes Defan lalu menarik tubuh Dira kembali mendekat. Menciumi pipi Dira dengan gemas meski ia belum mandi dan masih bau asam khas orang baru tidur.
"Udah ah, buruan sana mandi! Bau tahuuu!!" ledek Dira langsung beranjak meninggalkan suaminya yang terus menyerang dan menggoda.
"Ih, gitu ya! Malah kabur! Awas nanti kalau manja-manja!" Defan pun ikut beranjak mengejar Dira yang sudah tak kelihatan wujudnya, menghilang dari kamar mereka.
__ADS_1
Defan pun akhirnya mengalah, langsung masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian, melakukan ritual pemandian. Selama hampir dua puluh menit ia berada di dalam kamar mandi.
Bahkan, teh yang di seduh Dira pun sampai tak hangat lagi. "Bang Defan, mana sih? Nggak datang-datang!" keluh Dira yang sudah duduk di kursi makan, bahkan ia menyeruput teh miliknya.
"Bang! Lama kali sih mandinya!" gerutu Dira dari depan pintu, ia bahkan menggedor-gedor pintu itu agar terdengar oleh sang suami.
Tapi Defan tak juga muncul. Akhirnya, Dira menerobos masuk. Entah mengapa rasa sungkan yang selama ini ia pegang teguh sudah menghilang begitu saja.
"Bang, udah setengah 8 pagi loh!" teriak Dira setelah menarik handel pintu ruangan shower.
Pria itu sudah berbalut handuk, langsung menyergap dan memeluk istrinya, begitu mengagetkan bagi Dira.
"Astaga! Abang, sengaja ya!" Dira mengelus dada karena terkejut melihat prianya muncul sembari langsung memeluk.
"Iya!" jawab Defan nakal, melayangkan kecupan hangat di bibir tipis milik perempuan itu. Meluma*tnya secara perlahan dan itu dibalas oleh Dira.
"Hmmm, buruan nanti telat!" tegur Dira setelah melepas pagutan ciuman itu.
Dira pun berjalan, diekori oleh Defan. Dira mengambil setelan jas untuk dipakai oleh Defan bekerja hari ini. Satu setelan kemeja biru muda, dasi navy, celana bahan hitam dan jas hitam ia hempaskan ke atas ranjang.
"Pakai itu aja," titah Dira memulai melayani sang suami.
"Tumben! Biasanya nggak peduli kalau abang pakai apapun!" sindir Defan menatap lekat dengan senyuman.
"Biarin kenapa sih! Aku kan mulai mau melayani suamiku." Dira mencubit gemas dagu Defan.
"Genit ya, udah mulai berani goda-goda, abang sekarang!" Defan pun menggelitik pinggul Dira, mengerjai perempuan itu seraya terbahak-bahak.
"Abang, geli ih. Please stop!" Dira menarik tangan Defan, lalu mencium bibir sebagai balasan.
"Buruan pakai bajunya! Rambutnya juga masih basah itu!" desah Dira dengan segala keluhan.
"Iya, iya. Udah bikin sarapan?"
"Udah, ada di meja, tehnya malah sampai dingin. Abang, kenapa sih kalau mandi lama kali," timpal Dira protes.
"Biar bersih mandinya!" Defan segera memakai baju yang dipilihkan oleh Dira. Sementara, ia belum memasangkan dasi, lalu meminta Dira untuk memakaikan.
"Aku nggak bisa, bang," kata Dira saat Defan memberikannya dasi untuk dipakaikan.
__ADS_1
"Belajar! Nanti lama-lama juga bisa," lontar Defan.
"Gimana sih cara masangnya?" Dira mulai mengalungkan dasi itu, lalu melilitkan dengan tak beraturan.