
Defan terduduk diatas kasurnya karena sudah tak bisa tidur lagi. Suara berdehem darinya juga tak digubris oleh Dira, ia malah memilih untuk pura-pura tertidur.
"Jalan-jalan malam yuk Dir," ajak Defan karena bingung mau melakukan apalagi. Tidurnya terlalu cepat, menyesal kini Defan menolak ajakan supir travelnya untuk langsung liburan setelah sampai di Hotel.
Dira pura-pura tak mendengar ajakan Defan, malah melanjutkan tidurnya. Dan akhirnya Dira benar-benar terlelap dalam tidurnya karena rasa kantuk yang menderanya. Akibat tadi dia tidak bisa tertidur, terganggu dengan suara ngorok paribannya itu.
Karena Dira tak merespon, Defan mengecek kondisinya apakah benar tertidur atau tidak. Ia terperanjat melihat wajah Dira yang tertidur pulas disamping gawainya.
"Kok tiba-tiba dia tertidur?" lirihnya seraya memindahkan ponsel itu diatas nakas.
Defan menyalakan tv yang ada didepannya, tetapi tidak ada satupun siaran yang menarik perhatiannya. Lalu mengecek ponselnya, sesekali ia membuka obrolan grup watsapp miliknya yang terdiri dari rekan kantornya. Tapi tetap saja tidak ada yang menarik perhatiannya.
Kemudian Defan mondar-mandir di ruangan, merasa bosan sendiri. Mencicipi makanan yang belum tersentuh diatas meja makan untuk mengisi perutnya.
Mau keluar pun ia bingung, khawatir meninggalkan Dira seorang diri didalam kamarnya.
"Huft!" suara helaan nafas kasar Defan yang bingung mau melakukan apalagi karena bosan mondar-mandir seorang diri.
Ia melirik jam ditangannya, sialnya masih terasa dini baginya untuk tidur lagi. Baru jam tujuh malam, pikirnya.
Dengan terpaksa untuk mengatasi rasa bosannya, ia pergi ke lounge Hotel. Defan mengganti baju tidurnya, memakai pakaian formal miliknya.
Kemudian keluar dari kamarnya tidurnya, tanpa membawa kunci kamarnya. Ia membiarkan Dira tertidur nyenyak seorang diri.
Defan melewati koridor Hotel, menuju lounge Hotel. Disana banyak pengunjung para penyewa kamar Hotel yang berpakaian rapi.
Defan memanggil waitters dan memesan wine untuk ia nikmati. Sayang ia tak bisa mengajak Dira yang sudah masuk ke alam mimpinya.
Sambil menikmati pemandangan didalam lounge, ia juga memeriksa ponselnya. Ada pesan dari Dania disana. Tapi Defan mengabaikannya.
"Silahkan tuan," ucap waitters yang telah menuangkan wine ke dalam gelas bening mewah, botol wine itu kemudian dia letakkan didalam ember kecil estetik berisikan batu es.
"Thankyou," balas Defan seraya menghirup aromanya lalu menyesap wine dari gelas miliknya.
Perlahan-lahan ia menyesap wine, menghirup aroma wine yang sedap. Red wine adalah favorit Defan. Selain rasanya yang mewah dan berkelas, ia lebih suka menikmatinya walau hanya satu gelas agar tidak membuatnya pusing dan mabuk.
Biasanya satu gelas itu akan ia habiskan dengan waktu yang lama. Baru tiga puluh menit Defan berada di Lounge, ponselnya berbunyi.
Ada telepon dari Dira rupanya. "Kenapa bangun anak ini," batinnya sembari menekan layar ponselnya menerima panggilan dari Dira.
Belum juga ia menjawab, terdengar suara teriakan Dira dari seberang telepon yang memekakkan telinga Defan.
__ADS_1
"Abang dimana sih? Kok ninggalin Dira di kamar sendirian," ketusnya karena ia terbangun saat bermimpi buruk, mendengar omelan Dira, Defan agak menjauhkan ponsel dari daun telinganya.
"Di Lounge Hotel!" jawab Defan datar seraya mengambil wine miliknya dan meneguknya, masih tersisa seperempat didalam gelas wine tersebut. Butuh waktu yang sangat lama untuk menghabiskannya.
"Kok nggak ngajak-ngajak sih," keluh Dira.
"Tadi abang ajak keluar, tapi kau sudah tertidur," jawabnya jujur. Memang benar tadinya ia sudah mengajak Dira, tapi tak ada respon sama sekali darinya.
"Oh itu aku ketiduran. Aku kesana sekarang," tutup Dira seraya mematikan panggilannya.
Anehnya Dira masih berpakaian piyama saat keluar kamar. Dia tidak mengetahui aturan untuk masuk ke dalam Lounge harus berpakaian rapi.
"Lounge di lantai berapa?" tanyanya pada seorang housekeeper yang baru saja keluar dari kamar sebelahnya.
"Ada di lantai 2 bu," jawabnya sopan menampilkan senyum yang polos.
"Terimakasih," balas Dira meninggalkan housekeeper tersebut, ia bergegas menekan tombol lift dan masuk ke dalamnya. Setelah sampai didepan Lounge, tiba-tiba Dira dihadang oleh salah satu pelayan yang ada didepan pintu.
"Mohon maaf ibu tidak bisa masuk," ucap pelayan tersebut membuat Dira kebingungan sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian ia menjawab dengan santai perkataan pelayannya.
"Kenapa?"
"Sesuai dengan peraturan kami disini, tamu tidak diperbolehkan masuk jika tidak berpakaian rapih. Mohon maaf sekali.
Dira menjadi kesal kepada Defan, ia mengambil ponselnya, berdiri didepan pintu masuk lounge.
"Abang! Kok nggak bilang kalau kesini harus pakai baju formal?" sinisnya berjalan meninggalkan koridor lounge tersebut.
Defan baru ingat kalau Dira tak pernah menginjakkan kakinya ke Lounge Hotel. Tentu saja ia bingung saat mendengar keluhan Dira dari seberang teleponnya.
"Sorry saya lupa, tadi kan kau sendiri yang mematikan teleponnya! lebih baik tunggu saja di kamar," titah Defan dingin tanpa memerdulikan Dira yang sedang merengek kesal.
"Ish," decak Dira sebal pada paribannya seraya masuk ke dalam lift, mematikan ponselnya, lalu ia kembali masuk ke dalam kamarnya.
Sembari menunggu kedatangan Defan, ia menyalakan tv. Satu siaran cukup menarik perhatiannya. Film bioskop yang disiarkan ulang pada channel siaran digital yang ada di Hotel.
"Lumayan seru nih! Romantis lagi," batinnya.
Ia sampai melupakan Defan serta ponselnya karena sibuk menonton film.
Ting
__ADS_1
Suara notifikasi ponselnya berbunyi, tapi ia tetap cuek tak perduli. Sedangkan Defan masih menikmati winenya disisa titik terakhir gelasnya.
Ia bingung mengapa Dira tak membalas pesan yang baru saja ia kirimkan.
Apa dia sudah tidur lagi?
Defan berguman seorang diri menunggu jawaban Dira. Ia baru saja mengirimkan pesan watsapp pada Dira, menawarkan apakah perlu dibawakan sesuatu.
Namun karena wine yang diminumnya dari satu gelas telah habis tak tersisa, sementara Dira belum membalas pesannya. Akhirnya ia memilih untuk pergi dari Lounge Hotel.
"Bill," ucap Defan seraya mengangkat telapak tangannya saat memanggil seorang waitters.
Waitters tersebut mengerti, langsung membawakan satu bill yang ditutup dengan cover buku panjang yang elegan.
Defan mengecek tagihannya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, memasukkannya ke dalam buku bill tersebut.
Tak lupa ia sematkan tips untuk pelayan Lounge Hotel sebagai tanda terimakasih. Ia langsung memberikan buku itu pada waitters seraya beranjak dari kursinya.
"Apa ada yang perlu dipesan lagi tuan? Take away?" tawar waitters tersebut sebelum Defan berjalan.
"No! Thanks," balas Defan melangkahkan kakinya dengan lebar.
Ia keluar dari Lounge Hotel, masuk ke dalam lift menuju lantai dimana kamarnya berada.
"Anak ini ngapain sih? Dari tadi pesanku tidak dibalasnya," kesalnya saat melirik jam tangannya ternyata sudah jam 9 malam. Lumayan lama dirinya berada di Lounge Hotel.
Tok
Tok
Tok
Berulang kali Defan mengetok pintu kamar agar dibukakan oleh Dira. Namun tak ada jawaban. Defan tidak bisa masuk lantaran ia sengaja meninggalkan kartu kunci Hotel untuk Dira.
Sedangkan Dira larut dalam tontonannya, volume tv sengaja ia besarkan suaranya tadi, membuatnya tak mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Jangan lupa supportnya ya syaang!!
bantu
Vote
__ADS_1
Vote
*agar novel ini semakin banyak yang baca**😍😍*