Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
butiran beras


__ADS_3

"Bukan nggak pernah! Setiap dia datang, bapak nggak ada di rumah," cela Rosma.


"Ah masa sih? Cobalah dulu telepon dia. Kapan rupanya mereka pindah?" tutur Sahat.


"Hari inilah kayaknya. Coba bapak aja yang hubungi dia lah. Aku masih nyapu rumah ini." Rosma pun terus menuntaskan pekerjaan rumahnya. Saat hari minggu begini, mereka malah bersantai ria.


*******


"Ada tuh, orangnya lagi di dapur." Melva pun berdiri mencari sosok pembantunya yang masih muda itu.


"Nen, Nena? Sini dulu," teriak Melva.


"Kalau gitu, mbak Nena suruh ke rumah kami lah ma ... untuk bantu-bantu di rumah," pinta Defan.


"Loh, berkurang lah pembantu di rumah mama ini," keluh Melva tak mau memberikan satu pembantunya pada putra semata wayangnya itu.


"Untuk hari ini aja kok!" Defan tersenyum sinis, ia memang tetap tak mau ada pembantu di rumahnya selama mereka masih berdua di rumah. Belum ada kehadiran anak tentunya pekerjaan rumah tak terlalu berat.


"Oh, yaudah nanti mama suruh ke rumah kalian dia," tutur Melva.


"Jangan ma! Nanti mbak Nena jalan sama mama aja! Nanti jam 3 sore mama, bapak, sama adik-adik datang ke rumah kami ya? Kami mau ngadain acara penyambutan rumah baru." Defan mengucapnya dengan malu-malu karena mamanya tahu kalau Defan tak menyukai acara-acara seperti itu.


"Tumben!" celetuk Melva.


"Iya, cuma untuk keluarga sama sahabat si Dira aja. Nggak ramai-ramai."


"Baguslah itu. Mamak pun pengen kali lihat rumah kalian. Tapi nggak enak baru tadi pagi pindah udah mau datang kesana." Melva memberi kode pada suaminya seraya tersenyum sangat lebar.


Tak lama, Melva pun menyuruh Nena kembali ke dapur karena tidak jadi langsung disuruh pergi ke rumah anaknya.


******


Drrt Drrrtt


Dira mengambil ponselnya yang bergetar. Ditatapnya cukup lama layar ponselnya yang bertuliskan kontak bapaknya hingga akhirnya panggilan itu ia terima.


"Halo pak ..." sapa Dira menghentikan kegiatannya sementara melihat-lihat perabotan karena jadi tak fokus untuk mendengar pembicaraan bapaknya.


"Gimana boru, apa kabarmu?" tutur Sahat melalui panggilan teleponnya.


"Sehat pak. Bapak sama mamak sehat kan?" balas Dira.

__ADS_1


"Iyah sehatnya kami semua disini. Udah jadi kau pindah boru?"


"Udah pak. Tadi pagi, sekarang aku lagi diluar sama suamiku." Dira pun menatap lekat pria disampingnya yang memegang kendali troli.


Defan baru saja mematikan sambungan teleponnya bersama sang mama. Akhirnya ia memutuskan untuk mengadakan acara kecil-kecilan sebagai penyambutan rumah baru mereka.


Defan memberi kode pada Dira agar telepon itu diserahkan padanya. Ia menengadahkan tangannya ke arah Dira.


"Pak, bentar bang Defan mau bicara." Dira memberikan ponselnya pada Defan.


"Halo amang, apa kabar?" ucap Defan melalui sambungan telepon mereka.


"Sehat-sehat hela ... ku dengar dari istrimu baru pindah kalian ya?" Sahat pun menganggukkan tangannya pada Rosma agar mendekatkan diri padanya saat Rosma menyapu teras rumah mereka.


Rosma langsung berjalan gontai mendekati suaminya yang sedang asik bertelepon.


"Siapa?" tanya rosma lirih.


"Hela kita," bisik Sahat agak menjauhkan ponselnya dari telinga dan bibirnya. Rosma pun memilih duduk di dekat suaminya. Mendengarkan pembicaraan mereka.


"Iya Amang, tadi pagi kami pindah. Itulah Amang aku mau beri kabar, nanti Amang sama Inang datang ke rumah kami ya. Jam 3 sore, ajaklah lae-lae biar ikut semua. Ada acara kecil-kecilan di rumah," urai Defan panjang lebar.


"Oh ...iyanya? Baguslah ... akupun pengen lihat rumah kalian. Nantilah kami datang ya." Sahat pun mengulas senyum lebarnya mengarah ke Rosma. Seraya menunjuk-nunjuk ponsel jadulnya pada sang istri.


"Jadi emang bang?" papar Dira.


"Jadi, nanti kita beli makanan disini aja. Buat sajian makan-makan di rumah." Defan kembali mendorong trolinya.


"Asik..." Dira berjalan melompat-lompat kecil dengan gembira. Ponsel yang ada ditangannya pun ia nyalakan lagi. Kini, ia bersemangat membalas pesan-pesan sahabatnya yang tadi sempat terabaikan.


^^^Dira^^^


^^^Tenang kelen disitu, datang nanti kelen jam 3 sore ke rumahku ya! Udah ku paksa abang itu bikin acara kecil-kecilan. ^^^


Shinta


Owkay Bos! Siap meluncur!


Carol


Jangan lupa share lokasi nanti kau ya!

__ADS_1


Jenny


Asiiiiikkk makan enak di rumah baru ayeeey!


******


"Kenapa pak?" tanya Rosma penasaran, mengapa suaminya itu menyuruhnya mendekat.


"Nanti jam 3 sore ke rumah boru kita. Mereka siapin acara penyambutan rumah baru." Sahat pun mengantongi ponselnya ke dalam saku bajunya.


"Wah! Paten kali si Dira ini ya. Punya suami kaya langsung dapat rumah sendiri. Dandan cantiklah aku nanti." Rosma pun pamit ke belakang, ia mau bersiap-siap. Merapihkan dulu semua pekerjaan rumah dan masak makan siang mereka.


*******


"Siapin semuanya, Dir. Makanannya jangan lupa ditaro di dalam piring. Gelas-gelas di tata rapih. Jangan lupa dicuci semua piring yang baru kita beli." Defan mengingatkan istrinya setelah mereka pulang berbelanja.


Jadi banyak sekali barang-barang yang dibeli pasutri itu. Semuanya untuk kebutuhan rumah tangga khususnya perlengkapan dapur.


"Bang, kenapa nggak suruh mbak Nena duluan datang sih," sungut Dira kewalahan mencuci banyak piring, mangkok dan gelas.


"Tadi kan nggak ada orang di rumah. Nanti dia ketemu siapa? Udah cuci aja." Defan pun ikut mengelap-elap hasil cucian piring Dira. Membantu istrinya demi meringankan pekerjaan mereka.


Makanan yang tadinya dibungkus sudah dikeluar-keluarkan. Ditata di atas meja makan. Piring mewah dan cantik menghiasi meja makan mereka saat itu. Pilihan Dira memang sangat elegan. Defan pun memujinya.


Tak lupa, Dira mengirimkan pesan di dalam grup watsappnya. Ia share lokasi di dalam grup itu.


Selain itu, Dira juga mengirimkan pesan ke orangtuanya, alamat rumah mereka secara jelas agar orang tua itu tak kesulitan saat menuju rumah mereka.


Jam 3 sore ...


"Horas!" Keluarga Dira memberikan sapaan saat tiba di depan pintu rumah boru panggoarannya. Sudah lama ia tak melihat wajah cantik boru satu-satunya itu.


"Horas!" sahut Defan dan Dira saat mereka menjemput kedua orang tua itu di depan rumah. Defan dan Dira mencium punggung tangan Sahat dan Rosma dengan lembut. Begitu pula dengan saudara-saudara Dira yang lain, mereka bersalaman saling melempar senyum.


Tak lama kemudian, keluarga Defan pun tiba. Mereka turun bersama-sama dari dalam mobil mewahnya.


"Horas!" Keluarga Defan pun disambut oleh pasutri dan keluarga Dira yang saat itu masih berkumpul di teras rumah.


Ketiga teman Dira pun datang tepat waktu. "Halo!" sapa ketiga sahabat Dira. Mereka semua menyalam para tetua di rumah itu.


"Ayo masuk!" ajak Defan setelah semua sudah berkumpul. Acara penyambutan pun dimulai. Dibuka oleh Desman sebagai tetua di rumah itu.

__ADS_1


Defan pun tak lupa menyampaikan sambutan sepatah-dua kata untuk para tamu undangan yang telah hadir. Acara puncaknya yaitu dengan melemparkan butiran beras ke depan rumah dan dalam rumah. Khas sekali mendakan acara orang batak.


"Horas! Horas! Horas!" teriak Desman diikuti pelemparan butiran beberapa biji beras di depan rumah dan dilanjut kebagian dalam rumah Defan dan Dira.


__ADS_2