Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
ngekorin


__ADS_3

"Ada apa, Bang?" kata Carol setelag menatap Jefri dengan mata memicing, sementara Jefri masih terdiam karena tengah memikirkan kalau ingin juga ikut bersama dua wanita itu bepergian.


"Mau ke mana?" Akhirnya Jefri berani membuka suara. Sebab, di sana tak lagi ada Dira maupun Jenny, hanya tinggal Carol dan Shinta sehingga Jefri tak peduli dengan pandangan Shinta terhadapnya.


"Mau pulang sama Shinta," jawab Carol, seraya menarik lengan Shinta agar pacarnya itu tidak terlalu posesif padanya untuk mengekori.


"Yakin mau pulang, nggak mau main dulu?" tutur Jefri.


Padahal dia sendiri masih ada jadwal kelas kuliah, tetapi entah mengapa ia ingin jalan-jalan bersama Carol, saat pacarnya itu sudah tak ada lagi jadwal kuliah.


"Loh ... emang mau ke mana? Lagian, Abang bukannya ada jadwal kuliah?" cecar Carol, menatap penuh selidik.


"Nggak ada kok," kilah Jefri, meski nyatanya ia tentah berbohong.


Obrolan keduanya hanya di dengar oleh Shinta yang terdiam kaku mendengar pembicaraan sepasang kekasih. Shinta juga pura-pura sibuk mengotak-atik ponsel meski tidak ada yang berbalas pesan dengannya.


"Yah ke mana kek, enaknya ke mana, ya? Apakah kalian ada saran?" sambung Jefri, menatap kedua wanita itu secara bergantian.


Sementara tatapannya hanya dibalas dengan tatapan datar oleh Shinta karena ia sepertinya malas untuk jalan-jalan bertiga dengan sepasang kekasih itu. Bisa-bisa, Shinta dianggap sebagai nyamuk yang mengganggu hubungan sepasang kekasih yang lagi di mabuk asmara.


"Ah males lah, Bang! Si Shinta kayaknya mau pulang aja," tambah Carol melirik pada Shinta agar wanita itu mengangguk tapi Shinta tak mengerti kode tatapan yang diberikan oleh sahabatnya.


"Iya, kan!" Carol menoleh lengan dengan Shinta dengan cepat, wanita itu tiba-tiba manggut-manggut menyetujui karena ia tak mau ada keributan di antara mereka

__ADS_1


"Ah masa sih!" timpal Jefri sembari tak percaya, sebenarnya ia ingin jalan berdua dengan Carol karena semenjak pacaran mereka belum ada waktu untuk jalan berdua,!hanya jalan bersama-sama ksaat bersama dengan teman-temannya.


"Iya lho, Bang. Shin, kau mau pulang, kan!" tanya Carol, agar pria itu percaya pada ucapannya.


"Iya, Bang aku mau pulang, udah ditungguin mamaku ini mau disuruh bantu masak," jelas Shinta dengan tetapan sinis karena pembicaraan itu terlalu berlarut-larut dan tidak penting.


"Yasudahlah kalau kalian mau pulang,'kalau gitu aku mau balik ke kelas aja!" beber Jefri, dengan kesal, membuat Shinta dan Carol mengerutkan dahinya seketika.


Padahal baru saja Jefri mengaku ia sudah tidak ada kelas lagi tetapi tiba-tiba ia mengucap kalau akan kembali ke kelas. Jefri langsung bergegas pergi dari kantin kampus meninggalkan Carol dan Shinta tanpa berpamitan, ia sepertinya mulai merajuk karena tidak diajak berkumpul bersama kedua wanita itu.


Di sisi lain, Carol mulai merasa aneh dengan pacarnya yang terlalu posesif. Bahkan ia kerap mendapt perlakuan Jefri yang selalu ingin berada di dekatnya, walaupun Carol mengerti bahwa Jefri memang benar-benar mencintainya tetapi lama-kelamaan Carol merasa risih jika selalu dibuntuti oleh pria itu.


"Rol, pacarmu kok posesif sekali sih. Kok bisa ada laki-laki yang sebucin kayak gitu!" decit Shinta, berjalan beriringan dengan Carol menuju berparkiran.


Sesaat setelah sampai di parkiran, akhirnya Carol baru mengucapkan kalau ia tidak membawa mobil setelah mengingat tentang saatnpagi tadi.


"Entahlah emang dia kayak gitu orangnya. Oh ya ... lupa kali aku lah, kalau ternyata nggak bawa mobil karena radi pagi aku dijemput sama dia," ungkap Carol seraya menoleh ke kanan ke kiri seolah-olah mencari mobilnya yang terparkir di area itu.


"Jadi kita pulang naik apa nih?" sambung Shinta.


Sepertinya mereka harus kembali menaiki angkutan umum, seperti kebiasaan Shinta untuk berangkat dan pulang dari kampus jika tidak ada tebengan dari sahabatnya. Benar saja, Carol menawarkan untuk mereka berduanmenaiki angkutan umum bersama.!


"Naik angkot aja lah yuk! Soalnya aku nggak bawa mobil jadi karena lupa aja makanya tiba-tiba kau ajak kau ke sini," tutur Carol.

__ADS_1


"Yaudahlah, ayo!"


Untung saja, rumah mereka masih searah jadi Shinta dan Carol masih bisa berbarengan menaiki jurusan angkot yang sama.


****


Sudah sore hari, akhirnya Defan mendapatkan kabar dari Rudy kalau ternyata penipu itu sudah sampai di kota Medan. Tidak sia-sia usahanya untuk meminta bantuan dari seorang preman yang sangat terkenal di kota Medan. Kini ia akan menemui penipu itu dan menginterogasi sang penipu karena sudah berhasil menipu keluarga istrinya.


Defan juga sudah membuat janji dengan mertuanya agar mereka menuju tempat peristirahatan preman secara bersama-sama. Di sanalah ia menyembunyikan sang penipu beserta barang bawaannya.


Rudy sebelumnya sudah menjelaskan ciri-ciri tentang kantor yang sering ia gunakan, memang berada di pinggiran kota Medan tetapi masih bisa dijangkau hanya menempuh jarak waktu 30 menit saja.


Kantor itu sangat sepi jauh dari pemukiman warga hingga segala tempat-tempat yang berhubungan dengan aktivitas warga dan kantor itu sangat senyap dan sepi. Di ruangan itu, berada di ruang bawah tanah sehingga sang preman pun merasa aman jika ingin membawa orang ke sana


Devan sudah menghubungi mertuanya dan tentu saja saat merasa senang saat mengetahui bahwa penipu itu ditemukan lengkap dengan uang yang sudah di rauodari para korban saat yakin bahwa uang itu akan kembali ke tangannya.


****


Setelah pulang dari kampus obrolan Dira dan Jenny lagi-lagi tentang menyangkut pasangan baru yang ada di sekitar mereka yaitu Carol dan Jefri. Dira sempat mengamuk bahwa tidak ada lagi ruang untuk mereka sebagai teman agar leluasa saling berbincang.


Namun, Dira tidak sadar diri kalau ternyata suaminya juga sering ikut bersama dengannya, seketika ia teringat apakah mungkin teman-temannya berpikiran sama dengan dirinya saat ini ia merasa khawatir kalau teman-temannya selama ini merasa tidak nyaman berada saat suaminya setelah berada di sekitar mereka.


"Jenn, kau lihat tadi kan si Jefri itu kayaknya bucin kali sama si Carol. Nah aku jadi merasa nggak enak kalau ingat Bang Defan yang dulu sering ngekorin aku ke manapun. Sebenarnya, kalian merasa nyaman nggak sih?" tanya Dira, menatap Jenny yang sembari bersibuk berjalan menyusuri menyusuri lorong kampus.

__ADS_1


__ADS_2