
"Gila kau bah, tenang-tenang apanya lagi ini, udah nggak kau lihat lagi pakai matamu! Hantu-hantu itu seram kali," sergah Jenny seraya mencubit lengan Diki dengan kesal.
"Aw, sakitlah, Jen! Kau ini baru juga kenal udah berani cubit-cubit aku," keluh Diki.
"Nyesal kali aku memang ngikutin kata-kata kau!" tambah Shinta, semakin mengerang dan mengamuk pada pria itu.
Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan, kali ini sosok dua orang tuyul tiba-tiba bermunculan dengan pekikan tawa yang membisingkan, keduanya terkikik dengan kencang, sehingga membuat Jenny dan Shinta semakin terkejut dan ketakutan.
"Sial! Nggak sanggup lagi aku mau meneruskan perjalanan!" timpal Jenny, lalu menoleh ke belakang tapi beberapa hantu yang mereka lintasi tadi menatap dengan tajam dengan senyum yang seolah-olah mengejek.
"Kalau kau mau balik ke belakang, sana balik lagi aja, udah ada hantu yang kita lewati tadi menunggu kelen dua! Nanti kelen lewati lagi mereka," hardik Diki, menakut-nakuti kedua perempuan itu.
"Aku nggak sanggup lah!" imbuh Shinta, menepuk bahu Diki dengan kesal.
Namun, setelah berhasil melewati 2 tuyul, kini Shinta dan Diki menghadapi hantu lain. Tiba-tiba mereka merasa aman karena di depan tidak terlihat siapapun tapi kaki mereka spontan tersentak saat seseorang tengah memegang kaki ketiga orang tersebut, lalu menahan dan menarik dengan kencang.
"Ago amang!" jerit Jenny, dengan histeris, lalu menghentakkan kakinya agar tangan itu tersingkir.
Selain itu, Shinta juga melakukan apa yang dilakukan oleh Jenny. Ia menghempaskan kakinya agar tangan itu terlempar tapi usahanya sia-sia karena jeratan tangan itu terlalu erat. Ada dua orang yang menyamar sebagai suster ngesot tengah memegang kaki ketiga orang itu dengan kuat dan menahannya agar tidak bisa keluar dari rumah hantu.
Diki akhirnya mencoba menenangkan diri, lalu melangkahkan kakinya dengan lebar sehingga kaki itu benar-benar terlepas dari belenggu tangan hantu suster ngesot.
*****
Sementara Defan dan Dira ternyata mengikuti jejak ketiga temannya yang sudah lebih dulu memasuki rumah hantu. Meski merasa ketakutan tetapi ia ingin merasakan sensasi berada di ruangan gelap serta ditakut-takuti oleh seseorang yang tengah menyamar menjadi sosok hantu.
__ADS_1
Berselang beberapa menit, ternyata pasangan Carol dan Jefri juga mengikuti masuk ke dalam wahana rumah hantu. Padahal, sebelumnya mereka tidak pernah janjian dan ini terjadi secara kebetulan.
Saat Dira berjalan beriringan dengan suaminya karena rasa takut yang mendera, akhirnya ia berjalan sembari memeluk suaminya dengan erat. Sementara kalau Carol, dia malah gengsi mau memeluk Jefri, jangankan memeluk, menggenggam tangannya saja tidak.
Carol merasa malu lantaran mereka baru menjalin hubungan. Selain itu, Carol merasa masa khawatir, serta berpikiran buruk pada Jefri, bisa-bisa Jefri akan besar kepala karena dirinya memanfaatkan situasi untuk memeluk pria itu.
Oleh karena itu, ia mengurungkan niatnya meski rasa takut terus menggebu di dalam batin. Saat berjalan, detik demi detik berlalu, ternyata pasangan Dira dan Defan hanya berjarak sekitar 1 meter dari pasangan Carol dan Jefri.
Dira menjerit karena seseorang mengagetkan, lantaran tiba-tiba seseorang muncul dengan kostum yang mengerikan. Sontak, Carol pun mendengar teriakan Dira karena suaranya memang sangat khas.
"Bang, kayaknya itu suara si Dira deh," ujar Carol, mencoba mendengar kembali sayup-sayup suara yang tersisa tapi Dira tak lagi berteriak karena ia sudah berhasil melewati hantu yang tadi sempat mengagetkan.
"Apa, iya? Mungkin orang lain, kayaknya kau salah dengar deh," sahut Jefri, seraya mengedarkan pandangan, sebab tidak ada orang di sana kecuali mereka berdua.
"Kayak Bang Defan sama Dira itu, mungkin mereka sama-sama masuk ke dalam wahana ini deh. Coba nanti kita dengerin lagi," balas Carol, Jefri pun hanya mengangguk mengikuti apa yang diperintahkan oleh perempuan itu.
Diki menarik kedua lengan Shinta dan Jenny, hingga akhirnya membawa mereka ke pintu keluar. Ketiganya bisa hernafas lega setelah lolos dari rumah hantu yang menakutkan.
Entah kenapa setelah keluar dari rumah hantu, mereka merasa tenang dan rasa takut itu seketika menghilang. Namun ketiganya masih beristirahat setelah berjuang melawan orang-orang yang menyamar sebagai hantu di dalam ruangan gelap tersebut.
Mereka memilih beristirahat di tempat duduk yang disediakan di depan, tepat di depan tempat pintu keluar rumah hantu.
Sementara, Dira dan Defan tetap saja masih berpetualang di dalam rumah hantu dengan rasa takut tapi untuk Defan, dia tidak merasa takut dan merasa biasa saja, hanya menunjukkan tatapan datar saat dikejutkan oleh hantu-hantu yang bermunculan yang berusaha menakuti mereka berdua.
Lain hal dengan Carol dan Jefri, mereka juga masih berjalan beriringan, saat hantu mencoba menakuti pasangan itu, Carol pun berteriak karena merasa terkejut, bahkan suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
__ADS_1
Dira mendengar teriakan Carol saat suaranya memekik dengan kencang. "Kayaknya di belakang kita ada orang deh!" kata Dira seraya menoleh ke belakang mencari orang yang tengah berteriak dengan kencang dan histeris.
Namun, karena tidak ada cahaya sama sekali, Dira pun tak bisa melihat siapa-siapa yang ada di belakang mereka.
"Ya namanya juga wahana pasti ada pengunjungnya lah," jawab Defan dengan datar.
"Iya, tapi suaranya itu kayak kukenal gitu loh!" tambah Dira.
"Perasaanmu aja kali itu, Sayang." Defan dan Dira melanjutkan langkah kakinya menelusuri seluruh ruangan rumah hantu.
Hingga terakhir kali, mereka berada di tempat saat suster ngesot bersembunyi, lalu tangannya meraih kedua kaki Defan dan Dira, sehingga mengejutkan pasangan suami istri itu.
Defan pun melompat karena tersentak ada seseorang yang tengah meraba-raba kakinya. "Sial!" maki Defan seraya mencari seseorang yang tengah meraba kakinya, lalu ia dengan sengaja menginjak tangan orang tersebut, lantaran merasa sangat kesal telah dipermainkan.
"Aw, sakit!" teriak seseorang yang sedang menyamar menjadi seorang suster ngesot.
Dira yang sadar kalau suaminya sudah menyakiti orang yang tengah menyamar itupun tiba-tiba memperingatkan suaminya.
"Ih, Abang itu masih manusia loh!" jelas Dira seraya menepuk dada suaminya agar menyadarkan pria itu untuk tak menyakiti para hantu.
"Maaf, kak! Lagian raba-raba kaki saya," sesal Defan, dengan nada ketus.
"Ya, ini memang kerja saya, Bang!" lirih suster ngesot itu, lalu ia berdiri serta menyeka tangannya karena merasakan kesakitan.
"Ayo, cepat, Yang! Kita keluar dari sini." Defan merengkuh pundak istrinya dan segera keluar dari rumah hantu.
__ADS_1
Namun saat di depan pintu keluar, mereka melihat ketiga temannya yang tengah duduk dan termenung untuk menyadarkan dirinya yang masih tampak histeris dari kejutan-kejutan yang telah mereka dapatkan saat berada di dalam rumah hantu.