
Sang Gubernur tetap membantah semua tuduhan yang diberikan padanya meski sudah jelas bukti yang disampaikan dalam persidangan.
Ia bahkan membuat nota pembelaan atau pleidoi untuk membantah semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
****
Ospek di hari ketiga, sangat istimewa bagi Carol. Bagaimana tidak, ia dikejutkan oleh suatu hal yang tidak terduga. Orang yang sangat ia benci tiba-tiba menyatakan perasaan padanya.
Terlebih, perasaan suka diungkapkan di depan seluruh maba. Padahal semua maba tahu kalau ia dengan seniornya terus bersiteru.
"Carol, ada yang mau saya bilang!" ucap Jefri, ditengah-tengah jam ospek di dalam ruang kelas.
Sontak, Judika dan Gembi memasang wajah yang serius. Mereka tengah melaksanakan game untuk memeriahkan kegiatan ospek.
"Huuuu," teriak maba di dalam kelas.
Carol hanya menatap sengit pada senior yang sangat ia benci, mulai dari awal perjumpaan mereka.
"Apa, bang?" jawab Carol, jutek.
"Saya menyukaimu, maukah kau menjadi pacar saya?" ucap Jefri, dengan bahasa yang formal.
Seketika, maba di dalam kelas langsung berteriak histeris. Orang yang mereka kenal galak, melakukan hal yang tidak terduga.
Apalagi Carol, ia serasa bak disambar petir. Sebab, Carol dan Jefri tidak pernah akur. "Maksudnya?" jawab Carol, menatap datar pria itu.
"Masak kau nggak ngerti sih, aku suka samamu, kau mau jadi pacarku?" tandas Jefri, bernada sedikit tinggi.
"Oh!" kata Carol, cuek. Ia malah tak peduli dengan ungkapan perasaan tersebut.
"Kok cuma oh?" sambar Grite.
"Terus, mau respon apalagi?" balas Carol.
Flashback ...
Jefri langsung jatuh cinta ketika mendengar suara merdu Carol. Sejak hari pertama ospek, Jefri sebenarnya juga sudah melirik Carol sebagai perempuan yang istimewa.
Ia mencari-cari kesalahan Carol dengan alasan agar mendapatkan perhatian juniornya. Namun, Carol justru menganggap hal yang berbeda. Ia tidak suka ditindas oleh senior, lebih memilih memberontak.
__ADS_1
Di hari ketiga ospek, Jefri semakin mantap untuk mengungkapkan perasaanya. Namun, ia menunggu momen yang tepat. Carol wanita yang sangat cantik baginya.
Flashback Off ...
"Jawabanmu jadinya apa?" cecar Jefri, seketika suasana hening.
Carol tampak diam seraya berpikir. Ia tidak berniat untuk pacaran. Sebab, ingin fokus pada kuliahnya.
Jawaban apa sih? Jadi pacar? Kenal aja enggak, tiba-tiba nembak aku! huh
Carol bergumam sendiri dalam batin, mulutnya kelu untuk menjawab. Ingin sekali ia menolak seniornya tapi situasi tidak memungkinkan. Bila ia menolak senior tersebut, tentu akan membuat pria itu semakin malu lantaran disaksikan teman-teman satu kelas.
"Nanti aja!" sahut Carol, singkat.
"Kapan?" sambung Jefri, menatap lekat junior yang sangat ia sukai.
"Kalau udah mood baru mau jawab!" Carol memalingkan wajahnya dari tatapan Jefri yang seakan memaksanya untuk menjawab pertanyaan tersebut sekarang juga.
****
Di ruang kelas jurusan hukum, Shinta mulai bosan melihat seniornya. Ospek yang hari ini mereka lakukan, hanya sekedar sharing kegiatan kampus, pengenalan wajah-wajah dosen yang akan membimbing dan mengajari maba, serta game-game sederhana untuk memeriahkan kegiatan hari ini.
Bahkan, Panja juga terlihat senyum-senyum sendiri saat membalas pesan yang masuk ke ponselnya. "Panja, ayo cepat, kok kau sibuk kali sih dari tadi?" gerutu Janu, lantaran ia bersama Nanda yang sibuk mengurus juniornya.
"Slow, kelen dua aja dulu yang urus."
"Kau sibuk sama pacar barumu, ya?" tandas Nanda, memicingkan mata.
Suara obrolan Panja dan Nanda pun sampai terdengar ke gendang telinga Shinta. Sebab, hari ini, ia duduk paling depan, jangkauan antara jarak Shinta dan Panja cukup dekat.
"Hehe!" kekeh Panja.
Flashback ...
Satu hari yang lalu, Panja menyatakan perasaannya pada junior satu tingkat dibawahnya. Rita—Junior yang selama ini ia sukai, butuh waktu satu tahun lamanya untuk mengejar-ngejar Rita hingga berakhir kepelukan Panja.
Apalagi, cintanya semakin kuat lantaran agama Panja dan Rita sama. Panja pun menyakini, kelak Rita bisa menjadi istri yang baik untuk keluarganya, meski proses sampai menuju pernikahan masih terbilang lama dan tidak jelas kapan waktunya.
Flashback Off ...
__ADS_1
*****
Di kelas kedokteran, Jenny dan Dira lagi-lagi menggerutu. Kegiatan ospek di hari ketiga sangat menyebalkan. Bahkan, para senior mereka sengaja hanya memberikan tugas, lalu pergi begitu saja, entah kemana.
"Jen, aku nyonteklah! Sumpah ini kegiatan ospek paling nggak jelas! Tugas apaan coba ini!" Dira melemparkan buku ke meja belajarnya.
"Ya, kau tahu sendiri anak kedokteran itu sibuknya kayak apa, Dir, mungkin senior kita juga lagi ada tugas. Makanya mereka hanya berikan tugas isi kuis ini saja!" jelas Jenny.
"Yah, pembimbingan ospek sudah jadi tugas mereka. Harusnya memang sudah kewajiban untuk menyelesaikan ospek ini sampai akhir!" tutur Dira, mulai mengisi kuis yang diberikan para senior.
****
"Baiklah, kalau begitu sidang akan kita lanjutkan lagi pekan depan! Jaksa harus memanggil Gubernur untuk dimintai keterangan agar kasus ini berlanjut ke tahap berikutnya," tutup Hakim Ketua, seraya mengetok palu.
Yadi memeluk erat tubuh pengacaranya. Ia merasa haru, dalam persidangan pertama, semua sudah terungkap. Seakan-akan Tuhan berpihak padanya, bahkan Jaksa Penuntut Umum ikut membantunya untuk memerangi kasus tersebut.
Di dalam ruang sidang, atasan Yadi, dengan wajah kesal meninggalkan ruang tersebut. Ia sempat melirik Yadi dengan tatapan sinis, apalagi dirinya akan ditargetkan sebagai seorang tersangka baru dalam kasus korupsi tersebut.
"Sial!" umpat Gubernur, di dampingi ajudannya, keluar dari ruang sidang.
Ia buru-buru keluar dari sana agar tidak diburu para wartawan yang bertugas menyaksikan persidangan tersebut.
"Pak, di parkiran sudah banyak wartawan," ucap Ajudannya.
"Sudah biarkan saja, suruh supir menjemput saya di depan pengadilan!" tegas Gubernur.
Sementara itu, Defan baru saja melepaskan pelukan Yadi. Bahkan, berkali-kali Yadi menunduk serta mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Defan seraya menjabat tangan.
"Makasih ya, Pak Defan, berkat anda saya bisa mendapatkan pengurangan hukuman. Walaupun saya nantinya tetap dihukum dan dipenjara, saya tahu kalau saya tidak bisa lolos dari jeratan hukum karena memang terlibat dalam kasus penyuapan ini," imbuh Yadi panjang lebar.
"Iya, pak! Saya hanya melaksanakan sesuai tugas saya, intinya walaupun bapak tetap dipenjara, setidaknya bapak mendapatkan pengurangan hukuman!" papar Defan, tersenyum lebar setelah persidangan berakhir.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa pekan depan, pak!" Yadi mengulurkan tangan, keduanya saling berjabat tangan dan berpisah karena Yadi sudah diboyong oleh sipir penjara.
Meski, sebelum ia diseret kembali ke dalam jeruji besi, Yadi sempat bertemu istrinya dan memeluk dengan erat meski isak tangis menghiasi pertemuan mereka.
****
Defan dan Juni langsung kembali ke kantor, untuk mengurus pekerjaan lain.
__ADS_1