Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
kasus baru


__ADS_3

Setelah menyantap sarapan, keempat perempuan itu membubarkan diri, mulai memasuki kelas masing-masing karena jadwal kuliah sudah hampir dimulai. Dira dan Jenny berjalan beriringan sementara Carol dan Sinta berpisah menuju kelas masing-masing.


Pagi itu, Shinta tak sengaja berpapasan dengan Diki namun wajahnya tak menyukai pria itu, entah kenapa dia sering sekali bertemu dengan Diki padahal dia tidak ada keinginan untuk menemui pria itu sama sekali.


"Pagi, Shinta," sapa Diki sembari membentuk lengkungan lebar di wajah.


Keduanya tak sengaja bertemu karena memiliki arah yang sama. Oleh karena itu, Shinta dan Diki pun berjalan beriringan. Diki sengaja mengekori Shinta, padahal Shinta sudah memperingatkan untuk berjalan sendiri-sendiri.


"Buru-buru amat sih," protes Diki, saat melihat Shinta berjalan sangat cepat dengan langkah kaki yang lebar tapi ia terus saja mengikuti perempuan itu dan sehingga membuat Shinta semakin berang.


"Sana, cepat kau ke kelasmu, aku mau ke kelasku juga. Ngapain sih kau ngikut-ngikutin aku terus," gerutu Shinta menatap sinis pria yang berada di sampingnya.


"Loh ... kelas kita kan searah, walaupun jaraknya agak lumayan jauh karena kelasmu duluan yang kulewati tapi kan setidaknya searah jadi kita bisa bersama-sama dong berangkat ke sana," hardik Diki.


Dengan cuek, akhirnya Shinta berjalan cepat hingga mengacuhkan Diki Mahendra, dia langsung bergegas masuk ke dalam kelas tanpa berpamitan pada lelaki itu.


"Ih ... kenapa sih perempuan itu, kok jutek kali," ucap Diki seraya menghentak-hentakan kakinya dengan kesal.


Diki menyadari kalau Shinta memang berusaha menjauhinya terus-menerus. Bahkan tak berniat untuk mendekati Diki, membuat peluang untuk berdekatan dengan Shinta pun seketika sirna.


****


Di belakang kampus yang sepi, tidak ada orang di sana terkecuali Angga dan Maudy, keduanya tengah saling melumaat, menempelkan bibir hingga tak mau melepaskan pagutan meski saat jam kuliah Angga hampir saja dimulai.


Rasa deg-degan semakin membuat keduanya merasa tertantang untuk saling mencumbu satu sama lain, entah mengapa, Angga sudah semakin candu dengan semua apapun yang dibuat oleh dosen cantiknya. Apalagi sentuhan Maudy yang terasa nikmat baginya.

__ADS_1


Bibir Maudy yang begitu merah merona dengan lipstik khas warna merah terang yang menjadi favoritnya pun tertempel memenuhi bibir Angga. Tanda merah itu teruhat jelas saat pagutan keduanya terlepas.


Maudy terkekeh saat melihat bibir Angga yang sangat memerah bekas lipstiknya yang menempel di sana. Lalu, ia mengusap bekas lipstik itu dari bibir Angga.


"Sayang, banyak bekas lipstik di bibirmu," beber Maudy, seraya tertawa terbahak-bahak.


"Iya, lipstikmu kayaknya luntur tuh," timpal Angga, keduanya terkekeh bersama.


"Yaudah, aku pamit dulu mau ke kelas soalnya udah mau mulai nih kelas paginya. Nanti dosennya nggak bolehin aku masuk kelas lagi," tutur Angga, seraya mengusap bibirnya dengan lengan agar bekas lipstik itu memudar dan menghilang.


"Ya, Sayang hati-hati!" jawab Maudy, lalu melambaikan tangan.


Keduanya berjalan dengan terpisah sembari merapikan baju masing-masinf agar tidak terlalu kentara kalau mereka baru saja berbuat hal yang sangat tidak pantas saat dilakukan di area kampus.


Untung suaa, di sana tidak ada CCTV, jika ada bisa sudah tertangkap basah tindakan Maudy yang berbuat semena-mena terhadap mahasiswanya sendiri, melakukan hal yang tak pantas walau mereka pasangan kekasih.


Tok tok tok ...


"Permisi, Pak maaf, saya agak terlambat," ujar Angga, yang menggendong tasnya, ia pun diperbolehkan masuk karena hanya terlambat beberapa menit saja.


Beruntung, yang mengajar adalah dosen yang biasa-biasa saja, tidak terlalu garang bahkan orang yang acuh.


Saat itu, dosen pun memulai pelajaran yang hendak disampaikan, semua siswa tampak sangat kondusif dan memperhatikan penjelasan dari dosen tersebut.


****

__ADS_1


Di satu sisi, Jefri tengah gusar karena dia tak mendapat kabar dari Carol. Ia semakin merasa frustasi karena sudah beberapa jam ini mereka tak berkomunikasi sama sekali.


"Apa dia nggak ada perasaan sama kali sama aku, sampai-sampai dia nggak pernah mengirimkan pesan satupun padaku. Padahal selama ini aku perhatian padanya, selalu mengirimkan pesan juga tapi kenapa dia tidak pernah membalas perasaanku yang seperti iktu," keluh Jefri dalam batin, ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang penuh rasa kecewa.


Pagi itu, Jefri memang menginap di kosan temannya, saat ia menoleh ke samping, terluhat bahwa temannya masih tertidur pulas. Sementara Jefri, karena memang sudah terbiasa bangun pagi sesuai dengan aturan di rumah. Seluruh penghuni rumah tetap harus bangun pagi meskipun berangkat kuliah ataupun kerja di siang bolong.


Namun, sekarang Jefri merasa tak enak jika keluar kamar seorang diri, dia akhirnya terduduk di atas ranjang sembari menatap ponsel yang sangat terasa sepi, ingin sekali rasanya ia menghubungi Carol tapi terhalang dengan rasa penasaran yang sengaja ingin memberi pelajaran pada kekasihnya.


Bahkan Jefri juga ingin mencari tahu apakah Carol sudah jatuh cinta padanya, karena selama ini merasakan bak cinta bertepuk sebelah tangan. Saat ia menembak pacarnya itu, justru belum ada rasa cinta yang tersirat di hati Carol. Hal itu pun sudah jelas terlihat di raut wajah Carol meski ia menerima cinta dari Jefri.


Dengan rasa kesal yang memuncak, akhirnya Jefri melemparkan ponsel ke atas ranjang. Ia pun bergegas keluar kamar untuk membasuh wajah agar sedikit lebih segar.


Tadinya Jefri enggan keluar kamar. Namun karena di kosan temannya itu sudah tampak sepi saat dilihat dari jendela, makanya ia memberanikan diri keluar kamar dan membasuh wajah di kamar mandi bersama yang ada di dalam kosan tersebut.


****


"Pagi, Pak!" sapa Juni saat Defan sudah memasuki ruangan ia melihat pria itu tampak terburu-buru.


"Pagi juga," balas Defan, lalu segera duduk di kursi kebesarannya.


Berkas yang kemarin dari kasus baru masih ia pikirkan, apakah akan diterima atau tidak. "Jun, saya ada kasus baru tapi saya masih bingung apakah harus menerima kasus ini atau tidak. Menurutmu bagaimana?" Defan mengangkat lembaran berkas yang sontak menyita perhatian Juni.


"Ntar, Pak apa boleh saya baca dulu?" tanya Juni, setelah menghampiri Defan, lalu mengulurkan tangan untuk meraih berkas itu.


"Ya, bacalah ini. Kemarin kan kau yang menerima berkas ini, apa tidak sempat kau membacanya?" seru Defan, menatap penuh selidik.

__ADS_1


"Belum, Pak karena masih terlalu banyak pekerjaan jadi saya tidak sempat untuk membacanya, nanti saya akan coba baca dulu dan memberikan pendapat saya," sahut Juni.


Defan hanya mengangguk dengan mantap, lalu ia membuka berkas yang lain setelah Juni kembali ke tempatnya. Berkas itupun segera dipelajari, beberapa berkas diantaranya memang kasusnya sudah diterima oleh Defan. Pagi itu, ia tampak sibuk membaca hingga menguasai kasus-kasus yang tengah berada di dalam tangannya.


__ADS_2