
"Kok kabur?" teriak Defan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Didalam kamar mandi, Dira asik mengguyur tubuhnya dibawah shower, berkicau seorang diri menikmati suaranya. Menyanyikan lagu kesukaannya.
Molo matua sogot ahu
Ho do manarihon ahu
Molo matinggang ahu inang
Ho do namanogu-nogu ahu
Ai ho do borukku
Boru panggoaranhi
Sai sahat ma da na di rohami
Ai ho do borukku
Boru panggoaranhi
Sai sahatma da na di rohami
Lagu boru panggoaran sudah menjadi favoritnya semasa kanak-kanak. Sama halnya seperti dirinya yang menjadi boru panggoaran untuk kedua orangtuanya.
Defan sesekali mendengar nyanyian istrinya, suara merdu itu sampai ke gendang telinganya. Membuatnya semakin mengagumi sosok gadis kecil yang berusia 17 tahun tersebut.
Diatas ranjang, ia menyandarkan kepalanya ke dipan kasur, menatap ponsel yang ia pegang. Terkadang, ia mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti lantunan lagu Dira.
Defan semakin mengagumi istrinya yang mempunyai talenta bernyanyi. Suara merdunya cukup menarik perhatian.
Ceklek
Suara tarikan daun pintu kamar mandi terdengar. Membuat Defan melirik istrinya yang baru saja muncul dari kamar mandi. Dira kali ini lupa membawa bajunya karena tadi buru-buru masuk ke kamar mandi.
Bola mata Dira berputar, mengecek seisi ruangan. Pandangannya terhenti pada suaminya yang sedang asik menatap ponsel diatas ranjang.
Sepertinya ia harus berperang untuk mencari koper mereka, sebab koper itu tak kelihatan sama sekali dimana letaknya.
"Bang?" panggil Dira, tetapi Defan cuek, tak menyahuti panggilan tersebut.
"Abang lihat koper dimana?" tanya Dira kebingungan.
"Nggak tahu tuh." Defan dengan cueknya berpura-pura tidak tahu. Padahal dialah dalangnya, orang yang menyembunyikan koper tersebut.
"Masa nggak tahu sih bang, tadi perasaan disekitar sini." Dira menunjuk kearah dekat meja rias milik mereka. Koper itu sengaja tak dimasukkan ke lemari, agar mereka tak kerepotan mengangkatnya saat ingin mengambil baju.
"Coba cari dulu. Carinya pakai mata jangan pakai mulut!"
Dira mengamati seisi ruangan, tapi tak ada tanda-tanda dimana koper itu berada. Kemudian dia berjalan dari depan pintu kamar mandi, kearah sekitar ranjang. Mengitari tempat lainnya seperti didekat meja rias, dekat lemari, bahkan hingga kebagian dapur.
"Nggak ada loh bang. Masa iya hilang sih?" gerutu Dira, ia mulai tak nyaman dengan kondisinya karena hanya membalutkan handuk ditubuhnya.
"Abang ngga tahu. Minggir ah, abang mau mandi dulu," ringis Defan yang berjalan melintasi Dira menuju kamar mandi.
__ADS_1
Dira menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, mencari keberadaan koper mereka tetapi tak kunjung ditemukan.
Aneh, pasti bang Defan yang ngerjain nih! Nggak mungkin hilang, kalau hilang dia ikutan panik harusnya!
Dira bergumam sembari mencari koper tersebut. Bahkan lemari hotel ia buka, tetapi tak ada tanda-tanda keberadaan koper mereka.
Dira berdiam diri diatas ranjang, masih menggunakan handuk tadi. Rambutnya yang basah juga ia balutkan dengan handuk agar tak memercikkan air. Sebelum keluar dari kamar mandi, rambut tersebut memang belum dikeringkan menggunakan hairdryer.
Dengan santai tanpa rasa takut, ia menunggu kedatangan suaminya.
Tunggu dia ajalah mandi, tadikan dia juga nggak bawa apa-apa tuh ke kamar mandi. Pasti nanti dia ambil itu koper.
Dira menggumamkan seraya mengecek ponselnya. Sudah lama rasanya ia tak menghubungi ketiga sahabatnya.
Bahkan sahabatnya pun tak pernah berisik didalam grup watsapp, mungkin mereka menghindari Dira yang sedang berlibur. Atau barangkali tak mau mengganggu aktivitas pengantin baru tersebut.
^^^Dira^^^
^^^Kok sepi kali? Kemana kelen semua, biasanya ribut aja kerja kelen digrup ini. Semenjak aku ke Bali, diam kelen semua?^^^
Carol
Nggak mau kami ganggu kau. Tumben kau ramein grup ini. Emangnya nggak jalan-jalan?
Jenny
Dicuekin bang Defannya kau?
Shinta
Pasti ada sesuatu we, makanya dia chat di grup ini.
^^^Dira^^^
Shinta
Wah tinggal hajar dong🥹
Jenny
Hati-hati, nanti jadi pulak bayi kelen☺️
^^^Dira^^^
^^^Jangan gitulah we, serius aku ini. Mungkin dia ngerjain aku sekarang. Soalnya tadi malam dia kukerjai juga. Wajahnya kucoret-coret pakai liptint🤣^^^
Carol
Kok kurang kerjaan kali kau, terus dia ngamuk nggak?
^^^Dira^^^
^^^Ngamuklah! Udah gitu mukanya dilihat sahabatnya itu. Mereka lagi video call tapi urusan kerjaan sih^^^
Jenny
__ADS_1
Kok ganggu terus ya sahabatnya itu, apa kau nggak risih?
Shinta
waduh, hilang dong wajah ganteng abang kita hahaha
Carol
Hati-hatilah kau Dir. Kau yang mulai, kau yang bertanggungjawab. Gantiankan sekarang kau yang dikerjainya.
Ceklek
Suara tarikan handel pintu terdengar. Defan berjalan gontai keluar dari kamar mandi. Bagian area sensitifnya ia sembunyikan dibalik handuk, dada bidangnya terekspose, rambutnya yang basah menitikkan sedikit air berjatuhan ke lantai.
Seperti biasa, ia berdiri dihadapan meja rias, berkaca memperhatikan wajah tampannya didepan cermin. Dari pantulan cermin, ia mencuri-curi pandangan pada Dira yang masih menggunakan handuk, sibuk memainkan ponselnya.
Eheemmm
Defan membuyarkan konsentrasi Dira yang sedang membaca balasan chat dari ketiga sahabatnya. Mendengar suara Defan, Dira langsung mengakhiri obrolan chat dengan sahabatnya.
^^^Dira^^^
^^^Udahlah dulu ya we! Abang itu sudah beres mandi. Aku mau nunggu dia ambil koper kami. ^^^
"Bang udah beres?" tanya Dira membuka obrolan mereka pagi itu.
Entah mengapa Dira merasa tidak takut disentuh oleh suaminya sendiri. Padahal ia sedang tak memakai baju. Terlebih, Defan sengaja menyembunyikan koper mereka.
"Heemmm," gumam Defan menjawab pertanyaan Dira yang menurutnya tidak penting.
"Kok masih handukan? Buruan sana ganti," titah Defan.
"Nunggu abang duluan deh," sahutnya santai.
"Oke!"
Defan berjalan gontai kearah Dira, membuat Dira semakin gemetaran.
Duh ngapain kesini sih!! Apa dia mau nyentuh aku? hihhhh
Dira larut dalam pikirannya, suara detak jantungnya memompa begitu cepat. Apalagi posisi Defan sudah semakin mendekat dengan posisi dirinya.
Defan membungkukkan badannya, mengambil koper dari kolong ranjang mereka. Saat mengambil koper itu, dia membuat lengkungan tipis disudut bibirnya.
Berhasil Defan mengelabui istrinya. Setelah koper itu berada ditangannya, ia membukanya mengambil satu pasang baju kasual miliknya.
Kemudian saat ia menarik kancing sleting koper, Dira tiba-tiba menghadang dengan satu tangannya. Tarikan itu berhenti, Defan menatap Dira sembari melayangkan senyum tampannya.
"Kenapa ditahan?" ucap Defan pura-pura tak tahu.
"Ya, kan Dira juga harus ganti baju bang. Tunggu bentar ya." Dira mengambil satu pasang baju miliknya.
Setelah baju itu ada didekapannya, ia menjauhkan tangannya dari koper yang masih dipegang oleh Defan retsletingnya.
"Pintar juga kau ya," sindir Defan dengan senyum sinisnya.
__ADS_1
"Apa kau malas mencarinya sampai kau harus nunggu aku keluar?" tanya Defan dengan tatapan serius.
"Iya dong! Ngapain udah cari capek-capek, taunya koper itu disimpan," celetuk Dira tak ingin kalah.