
"Justru karena kepalang basah, jadinya kita nggak lihat sunset pak. Kelamaan nunggunya," singgung Defan seraya menatap tajam pak supir yang melirik mereka melalui broadway mirrornya.
Saat itu juga, sopir memilih diam tak melontarkan pertanyaan lagi. Suasana yang tegang dan dingin membuat ia malas untuk berbasa-basi.
Hanya membutuhkan waktu lima menit, Defan dan Dira sudah berada di perparkiran hotel. "Silahkan pak! Jangan lupa besok pagi, mau jam berapa?" tawarnya agar tak lagi menunggu lama seperti hari-hari sebelumnya.
"Jam 9 saja pak, saya ingin lebih santai," sambung Defan.
Defan dan Dira keluar dari dalam mobil. Sikap suami istri bak orang asing membuat sang sopir geleng-geleng kepala.
"Ada-ada saja pasutri muda zaman sekarang. Udah kayak orang saling nggak kenal."
Sang sopir meninggalkan halaman hotel dengan memperhatikan gerak-gerik pasutri itu hingga tak kelihatan.
Disisi lain, Defan dan Dira baru saja memasuki kamar hotel mereka. Dira dengan rasa tak tahu dirinya malah masuk lebih dulu ke kamar mandi. Menutup pintunya, lalu menguncinya dengan rapat.
Baru saja ia membuka baju bagian atasannya, tiba-tiba digedor oleh Defan dari luar.
Tok
Tok
Tok
Tanpa rasa bersalah, Dira terus melanjutkan membuka bajunya secara menyeluruh lantaran telah basah kuyub. Lagi-lagi ia sengaja tak merespon ketukan pintu tersebut.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan lebih kencang lagi terdengar dari luar.
"Dira buka pintunya!"
Suara sinis Defan dengan teriakan khasnya begitu memekakkan telingan Dira.
"Kenapa lagi sih bang?"
"Minggir! Aku mau mandi," ketusnya seraya menyingkirkan Dira dari depan pintu, untung saja sebelum keluar ia menyempatkan menutupi tubuhnya dengan handuk putih khas milik hotel.
"Loh, kan aku udah buka baju bang! Masa disuruh keluar lagi!" balas Dira masih menunggu didepan pintu berharap Defan mengalah padanya.
"Yaudah kalau mau mandi, masuk aja. Mandi berdua sekalian biar cepat beres," kilahnya tak mau kalah saing.
__ADS_1
"Abang stress kali! Masa mandi berdua hihhh," geram Dira sambil menggetarkan tubuhnya, kemudian berlari meninggalkan Defan.
Dia memilih menunggu Defan selesai mandi. mempersiapkan baju gantinya dari dalam koper. Sambil membereskan bajunya, ia meracau seorang diri.
"Laki-laki egois! Nggak pernah mau mengalah. Ihhh!"
Omelan Dira terus terlontar dengan keras, karena ia tahu Defan tak akan mendengarkannya karena sibuk membersihkan diri.
Setelah selesai menyiapkan baju gantinya, Defan tak kunjung keluar. Dira memilih untuk bermain ponsel sejenak. Berseluncur di media sosialnya.
Beberapa foto ia siapkan untuk diupload. Foto saat di GWK serta foto di Pantai Kuta. Sedangkan saat bermain paralayang, Dira sama sekali tak memiliki fotonya karena tersimpan semua di ponsel milik Defan.
Beberapa foto tentunya tanpa foto Defan, ia siapkan dalam sekali posting. Tak lupa ia menyematkan caption sebelum menguploadnya.
"Today!"
Caption yang ia sematkan hanya dalam satu kata. Media sosialnya sengaja ia kunci, karena tak ingin ada orang lain yang kepo akan kehidupannya. Terlebih, sampai saat ini Dira masih menyembunyikan statusnya yang sudah menjadi seorang istri.
Waktu berjalan sudah dua puluh menit berlalu. Tapi Defan tak kunjung keluar, membuat Dira semakin risih dan kedinginan karena terkena hawa dinginnya AC di kamar.
Sementara ia hanya membalutkan tubuhnya dengan handuk, kaki dan pundaknya terbuka begitu saja.
Dira mendatangi Defan yang sedang asik berendam dengan santainya. Menikmati air hangatnya dengan mata terpejam.
"Bang kok lama? Buruan aku mau mandi."
Tok... Tok... Tok
"Banggg!! Buruan ih! Aku kedinginan."
Dira berteriak lagi, berharap Defan segera menyudahi aktivitas mandinya.
"Abang!! Jangan tidur di kamar mandi dong."
Dira mengatakannya dengan sangat keras, membuat Defan terusik. Saat itu Defan beranjak dari rendaman dalam bathupnya.
Sementara Dira menunggu didepan pintu, menyandarkan pundaknya pada pintu tersebut.
"Abang!! Cepat! Dira mau mandi, gantian please."
Baru saja ia menyelesaikan teriakannya. Defan langsung menarik handel pintu kamar mandi.
Ceklek
Dira yang menyandarkan tubuhnya didepan pintu, hilang keseimbangan. Sedangkan Defan terkejut, refleks ia menangkap seseorang yang hampir terjatuh didepannya.
__ADS_1
Keduanya saling berdekapan, terkikis jarak mereka berdua. Tetapi, karena masih memendam rasa kesalnya, tiba-tiba Defan mendorong tubuh Dira dengan kencang.
Alhasil, Dira kepentok lemari gantung yang ada didepan pintu kamar mandi.
"Awww! Sakit," pekik Dira seraya memegang kepalanya dengan satu tangan.
"Nggak bisa apa dorongnya lebih lembut," ketus Dira semakin tak terima atas perlakuan kejam suaminya.
"Minggir! Dasar bawel! Udah sana mandi," sergah Defan tanpa rasa bersalahnya.
"Abang kenapa sih nyari ribut terus." Dira terus melontarkan omelannya, tak terima dengan sikap arogan suaminya.
"Siapa juga yang nyari ribut, udah mending ditolongin. Bukannya terimakasih, malah ngomel," berang Defan tak mau mengalah.
"Halo abang yang ganteng!! Ditolongin apanya? Buktinya kepalaku benjol nih kepentok lemari," hardik Dira menunjuk jidadnya yang sedikit membengkak bahkan terasa nyeri.
"Lebih parah lagi kalau kau jatuh ke lantai. Bukan benjol lagi, bisa berdarah tuh kepalamu," dengusnya dengan kasar melalui tubuh Dira. Keluar dari depan pintu kamar mandi, meninggalkan Dira seorang diri.
"Ihhh dasar laki-laki tua nyebelin!" raung Dira sembari berjalan kearah kamar mandi, membanting daun pintu dengan kencang.
Brakkk!!
"Astaga! Dira nggak bisa pelan-pelan apa! Bikin kaget orang saja," pekik Defan yang saat ini sedang memegang dadanya karena tersentak kaget. Dia masih berdiri didepan meja rias. Memandangi wajah tampannya didepan cermin, kegiatan yang kerap ia lakukan seusai mandi.
Didalam kamar mandi, Dira semakin berang terhadap kelakuan pria itu. Pria yang selalu saja membuat ia naik pitam. Pria yang selalu mengajaknya berdebat serta terus melontakan kata-kata tajam yang menyakitkan.
Untuk mendinginkan kepalanya yang tengah ngebul, Dira menyiramnya dengan air dingin.
Brrrrrrr
Tubuhnya benar-benar menggigil, padahal ingin membalas perlakuan Defan, tetapi spontan malah menyakiti diri sendiri. Tak teringat hampir setengah jam ia diluar hanya terbalutkan dengan handuk.
Saat mandi, Dira memang dengan sengaja menyalakan air dingin, padahal jelas-jelas ada pilihan untuk mandi dengan air hangat. Tak kuat menahan dinginnya, dengan sigap Dira memutar keran showernya mengganti suhu air ke air hangat.
Sejenak ia menikmati percikan air hangat dari atas kepalanya. Rasa penatnya hilang, kini ia menikmati pemandiannya.
Membasuh tubuhnya dari atas kebawah, membalurkan sampo secara menyeluruh ke rambutnya yang terasa keras karena terkena rendaman air laut.
Membersihkan seluruh tubuhnya dengan sabun cair yang ada didalam kamar mandi tersebut. Tak lupa ia mengakhiri pemandiannya dengan menyikat gigi didepan cermin dan wastafel. Lalu memakai piyama yang sudah ia bawa sebelum mandi.
Aroma semerbak dari sabun hotel yang ia kenakan pun memenuhi ruangan. Defan sempat melirik kedatangan Dira dari arah kamar mandi, dengan wangi yang menarik perhatiannya.
"Hmmmm." Defan terus mengendus-endus wangi sabun dari tubuh Dira.
"Berapa kilo sabunlah dipakai anak ini," gumam Defan seraya menatap kedatangan istrinya yang telah rapih berpakaian piyama dengan rambutnya yang basah.
__ADS_1
"Keringkan dulu sana rambutmu! Aku nggak mau ya, kasur kita jadi basah," decak Defan menganggukkan tangannya sebagai bentuk pengusiran pada Dira.
"Sabar bang! Aku lupa tadi," lirih Dira, kemudian ia kembali masuk ke dalam kamar mandi. Mengeringkan rambutnya dengan hairdrayer yang tersedia di dalam kamar mandi tersebut.