Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
seorang gebetan


__ADS_3

Defan sudah mempersiapkan beberapa tahapan. Saat ini, ia fokus membahas tiga kasus itu agar sukses besar saat perkara sidang digelar.


"Jun, besok kau ke rumah pemilik tanah. Bawa pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) agar dilakukan pengukuran tanah menyesuaikan luas sertifikat ini!" tandas Defan, agar memiliki bukti kuat di persidangan.


"Baik, pak!"


"Jangan lupa, minta surat pengesahan dari BPN, kalau tanah yang sekarang tidak sesuai ukurannya dengan yang tertera dalam sertifikat ini," tandas Defan, menghampiri Juni, memberikan Sertifikat Hak Milik (SHM) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang rutin dibayarkan setiap tahun oleh pemiliknya.


"Siap, pak!" tegas Juni, mengambil semua dokumen yang diberikan.


****


Usai makan siang, keempat wanita itu kembali meracau tentang kegiatan ospek terakhir mereka.


Sisa setengah hari lagi, lanjutan kegiatan ospek hari ini. Sembari manyelesaikan makan siang, keempat remaja itu kembali melanjutkan obrolan tidak jelas.


"Kegitan kami hari ini hanya bernyanyi-nyanyi! Hiburan doang!" terang Carol, merindukan kegiatan ospek yang keras khas seniornya.


"Nah, kan! Kau sudah mulai rindu sama kegiatan dari senior galakmu!" ejek Jenny, melihat kekesalan di wajah Carol.


"Ah, bisa aja!" lirih Carol, menekuk wajahnya.


"Itu tanda awal-awal benci, lama-lama jadi suka!" ledek Shinta.


Namun, disudut ruangan, Jefri menatap lekat Carol yang asik berbincang serta bergurau dengan teman-temannya. Tak disangka, mata elang Jefri tak bisa lepas dari kecantikan Carol.


****


Waktu jam istirahat berakhir, semua mahasiswa kembali ke kelas. Termasuk ketiga sahabat terkecuali Shinta, masih memilih tetap tinggal di kantin.


Namun, Shinta memilih untuk pulang saja. Daripada tidak ada kegiatan apapun, apalagi ia masih tidak diperbolehkan masuk ke dalam kelas.


Satu hal yang menjadi kekhawatiran Shinta, ia lupa mengambil tasnya yang masih berada di dalam kelas. Alih-alih pulang, Shinta malah pergi ke perpustakaan kampus.


Ia ingin membaca sekaligus menunggu hingga waktu ospek berakhir. Saat berada di ambang batas pintu, Shinta tak sengaja menabrak seorang pria yang sepertinya seumuran dengan dirinya.


"Sorry!" ucap Shinta, menunduk untuk melantunkan permintaan maaf.

__ADS_1


"Eh, nggak apa-apa, aku minta maaf sudah menabrakmu!" ucap pria itu dengan lembut.


"Iya-iya, maaf, ya!" ucap Shinta sekali lagi, hingga akhirnya memberanikan diri menatap wajah pria yang ia tabrak.


Wajah tampan, cool, serta aroma maskulin dari tubuh itu membuat Shinta seketika terpesona. Namun, kali ini ia tak menunjukkan secara terang-terangan seperti yang dilakukannya pada seniornya.


Shinta pun berpamitan pergi, ia masuk ke dalam perpustakaan yang sunyi. Rupanya, pria yang ia tabrak masuk ke tempat yang sama.


"Loh, kau nggak ke kelas?" ucap pria itu pada Shinta, seakan sok kenal dan akrab, Shinta pun hanya menggeleng.


"Kau anak baru di sini?" tanyanya lagi, Shinta hanya mengangguk, seraya pura-pura sibuk mencari buku-buku untuk dibaca.


"Terus kenapa nggak ikut ospek?" ucap pria itu semakin bawel.


"Aku dikeluarin dari kelas!" sesal Shinta, menatap lekat wajah pria itu.


"Kenapa?" cecarnya semakin penasaran.


"Karena nggak mau menjalankan hukuman!" timpal Shinta dengan ketus.


Bukannya ia maksud berkata ketus pada pria itu, hanya saja ia jengkel pada seniornya yang bertindak semena-mena.


"Kau maba juga?" sahut Shinta, mulai mendekatkan diri, pria itu pun hanya manggut-manggut.


"Jurusan apa?" Kali ini, Shinta lebih banyak bertanya.


"Jurusan tekhnik. Kenalkan, aku Diki Mahendra." Pria itu mengulurkan tangan, mengajak Shinta berkenalan.


"Eh ... aku, panggil saja Shinta." Shinta meraih tangan Diki, keduanya saling berjabat tangan.


Dua-duanya duduk di meja yang sama. Shinta tak menyangka, berkat diusir oleh seniornya, ia malah mendapatkan teman baru, yang masuk dalam kriterianya sebagai seorang gebetan.


****


Setengah hari sisa ospek, dilanjutkan dengan kata-kata perpisahan. Di kelas jurusan arsitektur, senior menyesali semua perbuatan yang sempat mereka lakukan karena bersikap kejam pada juniornya.


"Sisa beberapa jam lagi, ospek akan kita tutup secara simbolis. Mulai pekan depan, kalian akan belajar, mengenal kampus ini lebih dalam. Mengenali dosen-dosen yang akan mengajar!" beber Judika, memberikan sepatah dua kata untuk menutup kegiatan ospek hari ini.

__ADS_1


"Huuuuu..." teriak seluruh maba, menyesali kegiatan yang akan berakhir.


"Tenang! Kalian masih bisa ketemu kami, para senior jika mengikuti Unit Kegitan Mahasiswa (UKM) atau kalian bisa bergabung di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) karena kami juga salah satu anggotanya," jelas Jefri, lelaki yang cukup populer dikalangan wanita, dalam organisasi itu. Namun, dia bukanlah Ketua BEM, hanya sebagai wakil ketua saja.


Prok ... Prok ...


Tepuk tangan memeriahkan acara perpisahan itu, mereka sangat mengapresiasi Jefri sebagai Ketua BEM kampus yang menyempatkan diri untuk terjun langsung mengurus semua maba.


"Bang Jef, abang gabung di UKM apa?" celetuk seorang mahasiswi.


"Kalau saya, di UKM bidang olahraga, UKM tae kwon do," jawab Jefri lugas.


Riuh tepuk tangan semakin memeriahkan ruangan. Jefri memang pria yang patut dipuja sebagai idola para wanita. Tapi, tidak bagi Carol. Ia masih menganggap Jefri adalah pria biasa, hanya mampu menggoda mahasiswi melalui kegiatan-kegiatan yang diikutinya.


"Kami juga sedang merekrut anggota baru! Kalau kalian mau, besok bisa mendaftar di ukm tae kwon do!" tambah Jefri.


"Eit, jangan salah, ukm marching band juga tidak kalah keren loh. Saya sebagai ketuanya!" sambung Gembi, tak mau kalah memperkenalkan ukm yang berada diurutan nomor dua untuk membagakan kampus.


"Wah!" sahut maba lain, dengan tepuk tangan yang meriah.


"Kami besok akan daftar kak!" ujar mahasiswa pria yang antusias ingin mencoba marching band sebagai kegiatan informal di kampus.


"Tunggu! Kampus kita juga punya ukm musik, tidak kalah kerennya dengan abang dan kakak ini!" ucap Judika, memperkenalkan kegiatan bermusiknya di kampus.


"Bisa jadi penyanyi, bang?" sambar Carol, ia juga berminat jika bergabung dibidang seni itu.


"Bisa dong! Kita bisa ikut lomba nasional maupun internasional," ucap Judika dengan bangga.


Judika, salah satu perwakilan yang ikut lomba kontes menyanyi. Bahkan, ia mendapatkan kejuaraan ditingkat nasional, suaranya sangat bagus dan indah.


"Wah, aku harus daftar!" ucap Carol, mendapat lirikan tajam dari Jefri.


*****


Di jurusan kedokteran, kelas tampak kondusif. Setelah Dira menjalankan hukuman, selebihnya para senior hanya menyampaikan kata-kata perpisahan.


Tidak ada yang spesial dalam perpisahan tersebut. Sebab, kegiatan selama ospek hanya berjalan biasa saja.

__ADS_1


"Hari ini, terakhir kita menjalankan kegiatan ospek. Saya rasa, pengenalan kampus melalui kegiatan selama lima hari sudah cukup bagi kalian. Kalian harus fokus mengemban ilmu agar bisa menjadi seorang dokter!" tandas Gamal, menyampaikan kata-kata perpisahan.


"Oh iya, kami juga mau memperkenalkan ukm yang ada di kampus. Kalian bebas mendaftar kapapun, mulai besok sebenarnya sudah dibuka," tutur Tika.


__ADS_2