
Semua orang bertepuk tangan memberi apresiasi kepada Angga, lalu Maudy segera menjelaskan pelajaran yang akan dia sampaikan pada kuliah kali ini.
****
Di kantin kampus, Jefri tengah menggerutu seorang diri, sebab Carol tak mau lagi minta dijemput oleh pacarnya. Akibat Jefri selalu berada di sekitar Carol bersama teman-temannya yang akhirnya berujung diprotes.
Entah mengapa, Carol jadi merasa malu jika dibuntuti terus oleh Jefri. Oleh karena itu, Carol mulai lagi mengemudikan mobil sendiri tanpa minta bantuan dari pacarnya.
Pagi itu, Jefri langsung berangkat ke kampus, kebetulan sangat cocok karena jadwal mereka berbeda. Sementara Carol, hanya memiliki jadwal di siang hari untuk kelas kuliah, sehingga dia masih bersantai di rumah.
Bahkan, keduanya masih saling tidak berkomunikasi karena Carol tengah malas berurusan mendengar celotehan dari Jefri.
Carol membuat keputusan bahwa dia tak ingin dijemput lagi oleh Jefri sejak adanya protes dari Dira. Hal itulah yang mengakibatkan Jefri merajuk dan menggerutu.
Apalagi, selain tak ingin dijemput, Carol juga enggan menghubungi pacarnya untuk sementara waktu hingga mengabaikan pesan-pesan dari Jefri.
****
Selain Carol yang memiliki waktu luang, ternyata sama halnya dengan Shinta, ia juga masih berada di rumah karena memiliki jadwal kelas siang. Kendati demikian, selama setengah hari, Shinta berakhir membantu sang Mamak untuk membersihkan rumah.
Padahal, tadinya Shinta ingin berangkat pagi-pagi, menghindar dari sang mamak tapi karena jadwal kuliahnya diketahui, saat berada di ambang batas pintu, akhirnya dia cegat.
Sekali-kali Shinta mengecek ponsel, berharap ada notifikasi dari para sahabatnya tetapi grup itu terlihat sepi. Hingga dia merasa bosan jika setengah hari berada di rumah.
Namun, ada satu notifikasi yang menyita perhatian Shinta, ia menatap ponsel itu sedikit lebih lama. Yaitu pesan dari Diki tapi karena enggan berhubungan dengan pria itu sehingga dia tidak mau membalas pesan dari temannya itu.
Shinta tengah memikirkan bagaimana caranya ia bisa mendapatkan laki-laki kaya raya padahal penampilannya sudah mendukung sekali. Tak hanya penampilan, Shinta juga memiliki wajah yang juga cantik tidak kalah dengan Dira maupun Carol.
Sudah seharusnya ada beberapa pria yang terikat padanya tapi hingga detik ini belum ada satupun yang mau mendekati. Ada seorang pria tapi Shinta yang enggan menghubunginya yakni Diki, laki-laki yang dianggap kere oleh wanita matre seperti Shinta.
****
Pagi itu, Defan mendapatkan telepon dari sang Mama yang meminta agar pasangan suami istri nantinya berkunjung ke rumah. Sebab, sudah lama Melva tidak melihat wajah anak dan menantunya.
Saat Defan datang terlambat, ia langsung bergegas untuk menyelesaikan pekerjaan. Ketika memasuki ruangan, Juni sempat menyapa, tapi perempuan itu tak banyak bicara apalagi protes pada Defan, mempertanyakan mengapa datang terlambat.
__ADS_1
Setelah itu, Defan duduk di kursi kebesarannya, tiba-tiba ia mendapatkan telepon dari sang mama.
Drt ... drt ...
"Mam, ada apa?" tanya Defan, tanpa basa-basi karena ia tengah sibuk membaca tumpukan berkas yang berada di meja kerja.
"Nanti kalau kau pulang kerja mampir ke rumah, ya! Soalnya kita mau makan-makan," terang Melva.
"Dalam rangka apa nih?" sambar Defan.
"Nggak ada sih, Mama cuman rindu sama kau dan menantuku. Rasanya udah lama nggak jumpa," tandas Melva.
"Oh ... yaudah, nanti aku sama Dira bakal mampir ke rumah setelah pulang kerja!" imbuh Defan.
"Ya, kalau bisa kalian berdua nginep saja di rumah mama," timpal Melva.
"Ya, diusahakan lah, mudah-mudahan Dira mau nginep di sana!" lanjut Defan.
"Kalau dia sih pasti mau aja, nggak mungkin dia nggak mau, apalagi kalau ngobrol sama mama sampai lupa waktu, lagian udah lama loh kita nggak jumpa!" protes Melva.
Baru saja ia mau memutus sambungan telepon itu, tetapi sang mama sudah lebih dulu mengakhirinya.
Defan kembali menatap berkas, ia melihat sebuah berkas asing di sana, ternyata dirinya baru mendapatkan kasus baru. Defan berpikir sejenak untuk menangani kasus tersebut.
****
Kelas dosen Maudy baru saja berakhir. Namun Maudy memberi kode pada Angga untuk mengekorinya dari belakang tanpa sepengetahuan teman-temannya yang lain.
Angga pun menurut saja, ia bak terbius dengan ajakan oleh dosennya tersebut. Namun Angga tetap hati-hati agar tidak ada salah satupun mahasiswa yang melihat kebersamaannya dengan Maudy.
Sebab, Angga pasti merasa malu jika rumor beredar jika ia ketahuan menjalin hubungan dengan dosen sendiri.
***
Dira dan Jenny tengah mengobrol berdua di kantin, saat itu sedang memiliki jeda untuk mata kuliah selanjutnya.
__ADS_1
Oleh karena itu, Dira mengajak Jenny untuk sarapan di kantin karena tadi pagi ia tak sempat makan karena bangun kesiangan serta terburu-buru berangkat.
"Dir, hari ini kau ada kegiatan?" Jenny menatap lekat manik indah Dira.
"Sejauh ini sih belum ada, kenapa emang?" sahut Dira.
"Oh ... aku mau mengajakmu jalan-jalan ke mall," kata Jenny.
"Tumben, tapi kita kan masih ada jadwal kuliah," jelas Dira.
"Kuliah kita kan tinggal satu kelas lagi, habis itu kita langsung main aja," imbuh Jenny.
"Ih ... kebetulan aku juga lagi merasa bosan dan jenuh, apalagi pusing dengan pelajaran semasa kuliah, bikin aku stres," balas Dira.
"Gara-gara itu juga aku suntuk, makanya kepalaku mau meledak memikirkan pelajaran di jurusan Kedokteran, menurutku terlalu berat," keluh Jenny.
"Lalu kau berniat ingin berganti jurusan?" cecar Dira.
"Ya, enggaklah! Gila kau, aku udah susah payah masuk jurusan ini, jadi aku masih memperjuangkan untuk lulus dari kuliah kedokteran. Kan cuma tiga setengah tahun kok," papar Jenny.
"Tiga setengah tahun tapi belum jadi apa-apa, kita harus melanjutkan kuliah untuk profesi dokter. Nah di situ bikin kepala semakin meledak!" desah Dira, seraya meremat pucuk kepalanya.
"Memang perjuangan kita masih panjang dan terlalu berat. Entahlah aku masih sanggup apa enggak sampai menuntaskan perkuliahan ini," jawab Jenny.
Keduanya malah larut dalam pikiran masing-masing. Jenny yang tampak pusing tengah memikirkan masa depan. Sementara, pikiran Dira malah bertambah soal tuntutan untuk pemberian cucu pada mertuanya.
"Eh, aku merasa lama kali gak kunjung hamil-hamil," sesal Dira, menekuk wajahnya.
Dira semakin khawatir kalau dirinya tak memiliki kesempatan untuk mendapatkan kehamilan kedua.
"Udahlah, nggak usah terlalu pikirkan soal kuliah dan kehamilanmu," timpal Jenny dengan sengit, membuat otaknya semakin mengebul jika memikirkan semua itu.
"Ya, mau gimana lagi? Kenyataannya memang seperti itu, aku takut dicap mandul!" beber Dira, dengan wajah yang masih ditekuk.
Jenny sontak menoleh kepada Dira meski ia tengah asik menyantap gorengan. Pikiran Dira terlalu jauh tentang nasib keluarga kecilnya.
__ADS_1