Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Selama dia nggak tahu?


__ADS_3

"Selamat, pak! Proses tidak mengkhianati hasil!" ucap Juni, menjabat tangan bosnya memberikan selamat pada sidang pertama yang berhasil mereka menangkan.


"Iya, iya! Ini berkatmu juga, Jun." Defan menepuk punggung tangan asistennya, lalu melepaskan eratan jabatan tersebut.


"Hehe, untung saja kita mendapatkan rekaman itu, pak!" sahut Juni, terkekeh kecil.


Defan mengangguk, keduanya masuk ke dalam mobil, melajukan mobil itu ke kantor S.N.G Lawfirm.


*****


Jam istirahat siang, seperti biasa Dira berkumpul dengan ketiga sahabatnya. Tapi baru hanya tiga orang yang datang, kecuali Carol.


"Carol, mana Shin?" cecar Dira, mengedarkan pandangan, mencari sosok sahabatnya tersebut.


"Nggak tahu!" balas Shinta seraya mengangkat kedua bahunya.


****


Di dalam kelas, setelah semua maba bubar termasuk dua senior lainnya, Carol dan Jefri masih bertahan di dalam kelas.


Lima menit yang lalu, Carol ingin segera pergi dari kelas tetapi dicegah oleh Jefri. Ditengah kesunyian kelas, Jefri memanfaatkan momen untuk mempertanyakan tentang pernyataan cinta yang masih menjadi teka-teki bagi keduanya.


"Kenapa, bang? Ada apalagi?" desah Carol, menatap penuh selidik kepada seniornya.


"Aku cuma mau mendengar jawaban atas pertanyaanku tadi!" ungkap Jefri, tanpa sadar meraih tangan Carol.


Seketika Carol terkejut dan menghempaskan tangan seniornya begitu saja. "Apaan sih!" erang Carol, seraya menghapus jejak pegangan tangan Jefri.


"Kenapa?" Jefri sedikit kecewa melihat respon Carol.


"Bang, kita baru kenal tiga hari ini. Mana mungkin aku bisa jadi pacar abang! Udah deh, aku mau ke kantin dulu, kawan-kawanku sudah menunggu!" tegas Carol, bergidik ngeri dengan sikap Jefri yang sangat blak-blakan.


"Tunggu, Rol!" Jefri tak menyerah, ia menarik lengan Carol yang hendak mulai bergegas meninggalkan ruang kelas.


"Apalagi sih, bang?" Carol menatap lekat wajah Jefri, seketika ia menjadi tak tega lantaran Jefri menatapnya dengan sendu.


Hufttt


Jefri membuang nafas kasarnya secara perlahan. Lalu, ia mulai mengucapkan kata-kata untuk Carol.


"Saya akan menunggu sampai kau siap! Kapanpun itu," jelas Jefri, seraya melepaskan genggaman lengan Carol, lalu bergegas pergi.

__ADS_1


Lah, kenapa jadi seakan-akan aku yang ditinggalin sih? Apa dia sekecewa itu? Lagian dia siapa? Baru tiga hari kenal udah nembak aku!


Carol berbicara dalam batin seorang diri sebelum meninggalkan ruang kelas. Entah mengapa, ada rasa bersalah di lubuk hati terdalam Carol.


...***...


"Carol, mana sih? Mau makan apa enggak dia?" cecar Jenny, lantaran Carol tak kunjung terlihat.


"Iyah, baru kali ini dia telat makan siang. Biasanya paling cepat ke kantin!" keluh Dira, seraya menoleh mencari keberadaan sahabatnya.


"Lagi sibuk kali, atau dihukum sama seniornya nggak boleh istirahat? Ihh ..." Shinta bergidik ngeri jika mengingat hukuman yang ditimpalkan pada Carol.


Tak berselang lama, Carol menunjukkan wajahnya. Suasana hatinya pun berubah derastis karena perasaan bersalah tengah menyelimuti.


"Eh, dari mana aja kau? Malah bengong lagi," sindir Shinta, menepuk bahu Carol untuk mengagetkan.


Hufttt


Carol membuang nafas kasar, bukannya terkejut, ia malah menampilkan wajah sendu. Rasa bersalahnya semakin kuat jika mengingat ucapan Jefri tadi.


Carol menarik kursi, namun Shinta yang berada di sebelah malah menjahili dirinya. Saat Carol hendak duduk, Shinta malah menarik kursi itu menjauh dari posisi Carol tanpa ia sadari.


Plak ...


"Siapa sih yang ngerjain aku?" Carol menatap penuh selidik ketiga sahabatnya.


Jenny dan Dira kompak menunjuk Shinta yang cuek dengan kejadian itu. "Lagian sih, melamun aja kerjamu! Mikirin apa sih?" cibir Shinta, menghempaskan rambutnya yang tergerai agar tak menghalangi proses menyantap makanan.


"Kau, ya! Aku lagi jengkel, malah kau bikin semakin jengkel lagi!" keluh Carol, membersihkan rok hitamnya dari debu setelah bangkit berdiri.


Ketiga sahabatnya saling menatap curiga, tak biasanya Carol banyak pikiran seperti hari ini. Bahkan ia tak berselera melakukan apapun.


"Ada apa sih? Cerita sama kitalah!" pinta Dira, sedikit memelas dengan maksud meringankan beban pikiran sahabatnya jika sudah berhasil diluapkan.


Carol pun duduk dengan hati-hati. Setelah menempatkan kursi di bawah bokongnya, ia duduk, lalu menatap serius ketiga sahabatnya.


"Pusing aku!" celetuk Carol, memijit pelipisnya.


"Pusing kenapa? Nggak biasanya," sahut Jenny lugas, ia menjadi semakin penasaran.


"Kelen masih ingat seniorku yang galak itu?" tanya Carol, menatap ketiga sahabatnya secara bergantian.

__ADS_1


"Ingatlah! Orang dia kejam begitu, kutandai pun wajahnya," papar Shinta, berjingkat lalu bertolak pinggang lantaran geram.


"Dia nembak aku!"


"Apa?" teriak ketiga sahabat Carol dengan kompak, wajah ketiga sahabatnya pun tak karuan, antara terkejut, tak menyangka, serta merasa tak percaya, semua menjadi satu. Shinta langsung terduduk di kursi lantaran tak menyangka dengan penuturan sahabatnya.


"Ah, serius kau?" timpal Dira, sembari menghentakkan bahu Carol sebanyak dua kali.


Carol hanya mengangguk serta menunduk. Pikirannya menjadi kacau balau, antara kesal, galau, bimbang, dan entah apalagi yang harus disebutkan.


"Masa sih dia nembak kau? Bukannya dua hari lalu kau selalu dikasih hukuman?" ucap Shinta, menyadarkan lamunan Carol yang terus memikirkan sikap Jefri.


"Nah itu dia, aku jujur aja bingung, dia maksa aku buat jawab. Sampai akhirnya dia tetap konsisten bilang, akan menunggu sampai aku siap untuk menjawab pertanyaan itu!" tandas Carol, menghembuskan nafas berat untuk meringankan saluran pernafasan.


"Oh, jadi dia selama ini bersikap kasar untuk cari perhatianmu?" sambung Jenny, kembali mengingatkan Carol akan perlakuan seniornya.


"Bisa jadi!" timpal Dira.


"Iya bener, kayak aku kan suka caper sama si Panja, dia aja yang nggak peka!" keluh Shinta.


"Oh, jadi gitu cara orang yang suka sama kita? Cari perhatiannya dengan cara yang nyakitin?" tampik Carol, tak setuju dengan pendapat Shinta.


"Mungkin!" balas Dira.


"Biasanya gitu sih, Rol! Supaya kita jadi lebih dikenal crush, jadi harus sering-sering caper!" ungkap Shinta, tersenyum tipis.


****


Defan dan Juni malah mampir di sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor sebelum melanjutkan pekerjaan di kantor. Kali ini, Defan sengaja meluangkan waktu untuk Juni, makan berdua di resto mewah sekaligus merayakan kemenangan sidang pertama.


"Pak, nggak salah kita makan di sini? Tempatnya terlalu mewah," ucap Juni, meski ia sangat senang diajak sang bos untuk makan siang berdua apalagi di tempat mewah.


Sering-sering dong, Bos!


Juni bergumam seorang diri, menatap lekat sang bos yang hendak menarik kursi.


"Sekali-kalilah!" Defan duduk di kursi, berhadapan dengan Juni.


"Nanti istri bapak malah salah paham loh, kita makan berdua di tempat mewah dan romantis begini!" hardik Juni, karena tempat itu lebih cocok untuk para pasangan muda.


"Selama dia nggak tahu, nggak masalah sih!" papar Defan, ia memanggil seorang pelayan.

__ADS_1


"Hmmm." Juni hanya bergumam seraya mengangguk-angguk. Namun, ia merasa spesial, kala diajak sang bos makan ditempat yang sangat istimewa.


__ADS_2