Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
lagi sakit


__ADS_3

"Hmm ... yaudah kita berangkat subuh ajalah! Jam berapa kira-kira?" tanya Defan, melirik ke arah jam dinding.


"Jam tiga pagi cocoklah, bang. Abang mau nyetir sendiri apa sewa sopir?" tanya Dira menawarkan.


"Abang, bisa kok nyetir sendiri! Jadi kalau berangkat jam 3 pagi, sampai sana jam berapa?" imbuh Defan.


"Ya, sekitar jam 7 lah bang. Empat jam perjalanan! Boleh nggak mereka nginap?" pinta Dira.


"Bolehlah, kan cuma sehari nginapnya. Besok mereka tidur di sini, kan?" balas Defan.


"Iya, bang. Besok aku suruh mereka ke sini. Dari pagi nggak apa-apa kan, bang? Kami mau ngobrol-ngobrol juga," pungkas Dira.


"Boleh! Pagi kan, abang masih kerja, jadi biar kau nggak kesepian juga, ajak aja mereka ke rumah ini."


Dira mengangguk penuh semangat setelah mendapatkan izin dari suaminya. Setelah 30 menit duduk bersama, keduanya langsung masuk ke dalam kamar. Merebahkan diri di atas ranjang.


Dira bersandar pada dekapan sang suami. Memejamkan kedua bola mata, tidur dengan tenang dalam pelukan itu. Sama halnya dengan Defan, ia juga menyusul kepergian istrinya ke alam mimpi.


******


Pagi itu, Defan mengeluarkan martabak yang sempat teranggurkan. Sebelum berangkat kerja, ia sarapan dengan martabak. Dira hanya menemani pria itu. Entah mengapa, pagi itu Dira justru tak berselera untuk sarapan.


"Yang, ayo makan sarapannya," titah Defan, menyodorkan satu potongan martabak pada Dira.


Istrinya langsung menggeleng, menghadang dengan telapak tangan. "Kenapa?" ujar Defan.


Padahal tadi malam, perempuan itu makan banyak sekali. Namun, tumben sekali pagi ini tak berselera makan.


"Nggak enak kali perutku, bang! Kayak terkocok-kocok, apa karena kekenyangan tadi malam, ya?" tanya Dira yang merasakan mual diujung kerongkongan.


"Hmm ...." Defan berjalan, mengambilkan air hangat untuk diminum oleh gadis kecil itu.


"Diminum dulu! Mungkin karena kebanyakan makan semalam itu."


Dira langsung mengambil gelas yang disodorkan oleh suaminya. Namun, rasa mual itu tak kunjung hilang.

__ADS_1


"Apa karena masuk angin, ya?" Dira menepuk-nepuk dada, beraharap isi perutnya keluar karena menyebabkan mual yang tak terhingga.


"Mungkin juga! Jadi gimana? Berani sendiri di rumah dengan kondisi itu?" Defan menjadi ragu untuk berangkat kerja setelah melihat Dira tak enak badan.


"Kerja aja, abang! Lagian aku nanti suruh teman-temanku datang. Bentar lagi hilang mungkin mualnya." Dira menutup bungkusan martabak, agar tak terlihat lagi oleh kedua bola matanya.


Anehnya, setelah menutup bungkusan martabak itu, rasa mual menghilang. "Bang, kayaknya aku udah sehat lagi, yaudah abang berangkat kerja! Nanti terlambat loh." Dira menampilkan cengiran kuda.


"Iya, sayang. Istirahat kalau sakit atau telepon mamaku atau inang mertuaku, ya? Jangan ditahan-tahan sakit sendirian," imbuh Defan mengingatkan, disambut dengan anggukan oleh Dira.


Setelah Dira mencium punggung tangan Defan, lalu Defan mengecup bibir wanita itu dengan lembut, Defan pun segera berangkat, meninggalkan Dira seorang diri di dalam rumah.


Dira kembali ke ranjang, mengistirahatkan tubuhnya yang merasa tak sehat lagi. Entah mengapa, rasa panas pada perut bawahnya bergejolak.


"Ada yang aneh ini." Dira tampak memikirkan tubuhnya dengan respon yang aneh.


"Masa sih gara-gara makanan semalam? Harusnya efeknya langsung tadi malam kalau memang makanan itu ada sesuatu. Tapi kenapa malah efeknya pagi-pagi begini," gumam Dira seraya menekan perut bawahnya yang terasa panas.


"Apa mungkin karena kepedasan? Ah tapi nggak pedas kali kok!"


Dalam sekejap, ketiga sahabatnya itu merespon bersamaan. Mereka menerima panggilan dengan senyum sumringah.


"Ada apa nih? Pagi-pagi nelepon?" ucap Carol dengan tatapan penuh selidik.


"Udah ya, yang lain nggak usah ngomong! Aku mau langsung to the point nih! Cepat kelen semua ke rumahku. Bawa barang kelen untuk liburan besok! Kelen jadi nginap di sini," papar Dira, lalu ia segera mematikan sambungan telepon itu sebelum yang lain berbicara.


Dira merasakan panas di perut. Ia memastikan kalau rasa panas itu tidaklah untuk membuang air besar. Bahkan, perutnya juga tidak terasa lapar.


Dira kembali ke dapur, meminum air hangat untuk menenangkan perutnya. Lalu, ia duduk di meja makan, mengambil satu potongan martabak untuk mengisi perutnya.


Baru satu gigitan, perutnya terasa diaduk-aduk. Mual sekali rasanya, Dira langsung berlari ke wastafel, memuntahkan isi perutnya.


Yang keluar dari mulut hanyalah potongan martabak yang digigit serta cairan putih. Perutnya pun masih terasa panas, ia mencoba memuntahkan isi perutnya lagi. Namun, tidak bisa.


Dira langsung meminum air hangat untuk menghilangkan rasa sakit di kerongkongan.

__ADS_1


****


Telepon grup itu masih aktif, Carol, Jenny dan Shinta masih membahas tentang apa yang barusan dipinta oleh Dira.


Mereka bertiga masih kebingungan, pagi-pagi sudah disuruh ke rumah Dira.


"Pagi kali ini loh we? Gimana kalau kita berangkat sore aja?" usul Jenny.


"Iya, nanti direpeti mamakku, aku pagi-pagi gini udah berangkat. Jadi tiga hari lah itungannya kita libur," protes Shinta dengan pendapatnya.


"Jadi gimana? Kalau aku sih oke aja mau berangkat jam berapapun! Mungkin si Dira nyuruh kita datang pagi-pagi ada perlu juga kayaknya," sahut Carol.


"Hmmm, kalau gitu kau aja dulu, Rol, yang ke rumah dia. Nanti kami dua nyusul, kalau aku sih sore. Karena izin ke mamakku memang sore sih," timpal Jenny.


"Iya, gitu aja, Rol, kau dulu yang ke sana. Kalau kau kan, santai orangtuamu. Kalau aku sama Jenny harus bantu-bantu bersih-bersih rumah dulu," tambah Shinta.


"Okedeh! Kalau gitu aku ke rumah Dira duluan! Nanti kelen kabari aja di grup, mau datang jam berapa. Oke? Byeeee!" ucap Carol, lalu mematikan sambungan telepon itu.


Tinggal duo heboh yang masih tetap mengobrol.


"Jen, serius kali ini, aku mau nanya, berapa uang yang harus di bawa?" tanya Shinta memastikan.


"Udah ku bilang kan kemarin! Bawa ajalah 200 ribu," beber Jenny.


"Yaudahlah, ya! Nanti segitulah kubawa! Udah dulu ya, aku mau nyapu rumah dulu. Nanti direpeti mamakku pula aku, nggak diizininnya pergi."


"Iya, iya! Sampai jumpa di rumah si Dira." Jenny tersenyum lalu melambaikan tangan.


*****


"Duh, nggak betul ini. Masa aku harus telepon mamak atau inang sih? Nanti aku sama bang defan nggak dibolehin liburan lagi! Apalagi dilihat mereka aku lagi sakit gini," lirih Dira, menimbang-nimbang pilihan yang ia buat.


Setelah 10 menit duduk di ranjang, rasa panas dan mual Dira menghilang. Tubuhnya mulai terasa enak, tidak ada rasa sakit lagi.


"Aneh kali sih, nggak minum obat, nggak ngapa-ngapain, masa sakitnya bisa hilang?" Dira kebingungan dengan tubuhnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2