
"Ada, Ma! Tapi susah ngikutin gaya hidup mereka yang tinggi," sahut Anggi.
"Gaya hidup tinggi yang kayak mana? Kau kan banyak uang, nggak usah kau khawatir kehabisan uang. Bergaul lah sama kawanmu tapi ikutin pergaulan yang baik jangan yang bebas. Nikmati saja hidupmu dan masa mudamu selama kuliah karena kita merasakan masa muda hanya satu kali!" ucap Melva, dengan bijak.
"Enggak lah sayang, Ma!" tolak Anggi.
***
Defan dan seluruh rombongan segera menuju pasar malam terdekat di kota itu. Meski berada di pusat kota, ternyata masih ada pasar malam yang digelar di sebuah lapangan yang luas.
Kebetulan sekali, malam itu sangat cerah dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, berbeda dengan kondisi di Jakarta seperti yang dirasakan oleh Anggi tengah dilanda hujan deras.
Setelah menginjakkan kaki di pasar malam, Defan dan Jefri layaknya orang yang kebingungan, menatap dengan takjub pasar malam yang luas dengan berbagai permainan yang bisa mengisi kekosongan waktu mereka.
Sementara Dira dan sahabatnya sedang heboh mencari arena permainan yang bisa dicoba. Salah satunya yang menarik perhatian mereka adalah bianglala, mereka akan mencoba untuk pertama kali.
Penasaran, Dira bersama sahabatnya ingin melihat pemandangan kota medan saat malam hari dari atas bianglala.
Selain Dira dan sahabatnya, termasuk Defan juga penasaran ingin mencoba berbagai wahana di sana. Rupanya, dalam rombongan itupun, Diki tetap saja ikut bergabung meski mengendarai mobil pinjaman bengkelnya sendiri. Tapi, sebelumnya Diki sudah mengajak Shinta untuk pergi bersama.
Melihat mobil Diki yang sudah berganti jenis, Shinta pun tergiur untuk mencoba menaikinya. Sehingga, ia setuju untuk pergi bersama Diki menuju pasar malam.
Dira meminta pada suaminya agar mereka diizinkan untuk menaiki bianglala. Defan pun membeli tiket untuk wahana itu. Bianglala memang membuat mereka penasaran, tak sedikit pengunjung yang menaiki wahana itu, bahkan antriannya cukup panjang.
"Aku pengen naik itu, kayaknya seru deh!" Dira menunjuk Bianglala yang berputar secara melambat.
Defan pun mengangguk untuk menuruti keinginan istrinya. Ia membeli tiket serta memberikan uang saku untuk teman-teman Dira, karena hari ini adalah perayaan kemenangan Defan.
__ADS_1
Lalu, Defan meminta rombongannya berbaris dalam antrian, sementara dirinya membeli tiket. Tak lama setelah Defan kembali, antrian mereka sudah berada paling Defan.
Ia menyerahkan tiket itu pada orang yang menjaga wahana. Dalam satu wahana bianglala, diisi berpasangan, hanya bagian Jenny, Diki dan Shinta yang berisi tiga orang.
Bianglala berputar mengitari arena dari ketinggian yang tidak diketahui berapa meter. Semua orang-orang menikmati pemandangan yang indah dimalam hari selama 10 menit lamanya.
Setelah merasa puas menaiki bianglala, semuanya turun untuk mencoba wahana-wahana lain yang ada di sana.
"Bang, ayo kita nonton trek kereta (motor) tong setan, yang keretanya muter-muter dalam bentuk tong dengan 360 derajat. Kayaknya seru deh!" ucap Dira, mengedarkan pandangan, melihat kerumunan yang ada di arena tersebut.
"Emang tong setan itu apa sih? Dia naik kereta di dalam tong gitu?" lontar Defan, seraya menggaruk-garuk tengkuknya.
"Iya naik kereta, nanti dia mutar-mutar dalam tong berbahan kayu!" balas Dira.
"Ah ... kalau gitu juga Abang bisa!" decit Defan enteng.
"Ayolah kita lihat!" ajak Dira lagi.
Defan dan Dira akhirnya berpisah dari rombongan, mereka pergi ke trek balapan motor yang memutar dengan putaran poros 360 derajat.
Sedangkan Carol dan Jefri pergi ke arena permainan yang lain yakni permainan wahana berhadiah, yaitu sebuah gelang yang dimasukkan ke dalam botol agar bisa memenangkan hadiah yang disiapkan oleh pihak penyedia booth di pasar malam.
Sedangkan Diki, Shinta dan Jenny malah berjajan-jajan ria menghabiskan uang saku pemberian Defan. Sebab, terlalu banyak kuliner yang diperjualbelikan di dalam pasar malam tersebut. Menggiurkan bagi Jenny dan Shinta, sementara Diki hanya mengekori dengan pasrah.
Salah satu kuliner yang dicoba yaitu gulali yang berbentuk kapas, cemilan itu kerap diminati remaja dan anak-anak, karena terasa manis seperti tengah menyesap permen.
Defan dan Dira sedang menyaksikan trek tong setan. Kepalanya pusing melihat para pembalap yang berlomba-lomba mengitari trek yang memutar dari atas hingga ke bawah. Permainan itu belum pernah dicobanya sehingga membuat Defan penasaran dengan arena balapan seperti itu.
__ADS_1
"Yah ..." seru Defan, saat pembalap pilihannya tersingkir dan terjatuh dari arena tong setan.
"Tuhkan seru, Bang. Biasanya banyak yang taruhan juga di sini, siapa yang jatuh berarti dia kalah. Siapa orang terakhir yang bertahan, dialah pemenangnya!" terang Dira.
"Oh gitu!" sahut Defan seraya manggut-manggut.
Defan bahkan bertepuk tangan memuji kehebatan para pembalap yang berani menguji adrenalin di atas arena tong setan. Hanya satu orang yang berhasil memenangkan taruhan karena orang pilihannya masih tetap bertahan mengitari trek tong setan dengan kecepatan yang semakin meninggi sehingga membuat penonton berseru menyorakinya.
Sementara Jefri dan Carol, tengah asik menggerutu karena mereka gagal memasukkan gelang ke dalam botol, padahal awalnya Jefri sangat optimis bahwa permainan itu sangatlah mudah.
Dengan rasa kesal, Jefri lagi-lagi membeli gelang untuk mencoba permainan itu. Dalihnya, dia tetap optimis bisa mendapatkan meski cuma satu hadiah yang diidamkan Carol yaitu hadiah boneka besar.
"Sudahlah, Bang menyerah saja!" seloroh Carol, yang sudah pasrah karena jarak antara botol dengan mereka yang hendak melemparkan gelang cukup terlalu jauh sehingga sulit gelang itu mengenai botol sesuai dengan sasaran.
"Jangan menyerahlah, Sayang! Coba sekali lagi deh!" saran Jefri spontan, memanggil kara sayang pada Carol, lalu ia melakukan pembayaran untuk mencoba permainan itu sekali lagi.
Tak lama Jefri pun kembali melemparkan gelang-gelang yang melingkar di tangan menuju botol yang berdiri di atas meja. Lemparan pertama meleset, lemparan kedua masih meleset juga, lemparan ketiga pun masih meleset juga, hingga lemparan ke empat ternyata mengenai pada sasaran. Namun hadiah yang ditawarkan tidaklah sesuai ekspektasi.
Jefri dan Carol hanya mendapatkan sebuah minuman kaleng karena sudah berhasil memasukkan gelang ke dalam botol tersebut.
"Yah ... kalau kayak gini sih mending kita langsung beli aja daripada buang-buang duit dan waktu!" keluh Carol.
"Hahaha ... namanya juga senang-senang!" kelit Jefri seraya tertawa terbahak-bahak.
"Ah, nggak seru tuh permainannya, pasti ada unsur penipuan! Kayaknya sengaja itu orangnya naruh botol dengan jarak yang sangat jauh," sela Carol.
"Ya, memang begitu aturannya, Sayang!" ujar Jefri, menekankan panggilan sayang untuk pacarnya.
__ADS_1
Alhasil, Carol pun menoleh, dengan cepat matanya menatap binar pria itu. Tak menyangka kalau ia akan dipanggil dengan sebutan sayang.