
Malam itu, Dira dan Defan tidur dengan nyenyak. Pagi-pagi, aktivitas berjalan seperti biasanya. Hari ini, tidak perlu terburu-buru. Defan hanya pergi ke kantor, bekerja seperti biasanya.
Hari ke empat Dira melaksanakan ospek, dandanannya masih seperti kemarin. Setelah berpakaian lengkap, keduanya sarapan di meja makan.
Sebelumnya, Dira bangun subuh-subuh, menyempatkan diri untuk memasak nasi goreng, sekaligus belajar masak untuk suaminya.
"Yang! Kok asin sih! Emang nggak dicicipin pas masak?" seloroh Defan, memuntahkan isi mulutnya.
Melihat suaminya mengeluhkan masakan itu, moodnya tiba-tiba berubah. "Aku sudah susah payah masak loh, bang! Asin dikit doang, udah abang ejek!" ketus Dira, berwajah datar.
"Bu–bukan gitu, yang!" Defan segera meralat ucapannya, ia merasa tidak enak saat melihat ekspresi Dira yang jutek.
"Kalau di film-film, ya, se-enggak enak apapun masakan istrinya, pasti suaminya tetap makan dan muji masakannya!" ucap Dira dengan lugas.
"Hah? Hahaha!! Itu kan di film-film, Yang! Kalau di kisah nyata, ya, aslinya kayak gini! Kalau nggak enak, suaminya bilang nggak enaklah!" balas Defan, tertawa terbahak-bahak, sebab istrinya ibaratnya sudah menjadi korban sinetron.
Namun, tawanya malah mendapat balasan tatapan judes. Dira bahkan merajuk, seolah-olah suaminya mengejek dan menertawai masakannya yang tidak enak.
"Udah ah! Jadi nggak mood!" desah Dira, beranjak dari kursi, nasi goreng yang ia masak pun belum tersentuh.
Dira berjalan membawa tas selempang, meninggalkan suaminya yang masih berada di meja makan .
"Yang! Ayang ... ih malah ngambek pula dia!" Defan mengejar kepergian istrinya, membawa barang-barangnya sekaligus berangkat kerja.
Sebab, Dira sudah berjalan keluar rumah tanpa mengajak dirinya. "Salah lagi!" gerutu Defan membatin.
Ia berlari, mengejar kepergian Dira yang sudah berada di depan lift. Dira buru-buru menekan tombol pintu lift, untung saja butuh waktu hingga lift tiba di lantai 2.
Defan akhirnya berhasil mengejar sang istri. Memeluk istrinya dari belakang lalu mengecup ceruk leher Dira dengan mesra.
"Maaf, yang! Abang janji bakal makan masakanmu walaupun nggak enak!" lirih Defan, malah membuat Dira semakin menggerutu.
Lift terbuka, Angga yang berada di dalam lift membulatkan bola matanya, melihat adegan mesra antara Defan yang sedang memeluk Dira. Melihat ada sosok seseorang dari dalam lift, Defan langsung melonggarkan pelukan tersebut.
Saat masuk ke dalam lift, suasana menjadi kaku dan dingin. Angga pun tak berani bertanya, situasi tadi sudah cukup baginya untuk menjelaskan hubungan antara Defan dan Dira.
__ADS_1
Dira juga merasa bodo amat, dia diam saja selama berada di dalam lift. Lagi pula, ia masih merajuk pada suaminya.
Terserahlah! Dia tahu atau enggak! Lagian kami sudah sah jadi suami istri!
Dira larut dalam pikirannya sendiri, ia berjalan dengan acuh saat lift sudah terbuka lebar. Defan bertingkah seperti biasanya, berlagak cool meski sudah terciduk oleh teman Dira.
Tidak ada sapaan, suara, obrolan atau apapun itu. Ketiganya sama-sama cuek, membiarkan kejadian tadi segera berlalu. Defan segera masuk ke dalam mobil. Saat ia membuka kunci mobil, Dira sudah lebih dulu masuk ke dalam.
Di dalam mobil, ia menatap istrinya yang bersikap dingin. Padahal hanya karena masalah sepele tapi Dira terlihat marah besar.
"Yang, udahlah marahnya! Gara-gara gitu doang, abang minta maaf!" jelas Defan, menggenggam tangan Dira yang diletakkan di atas pahanya.
Dira hanya diam, melirik sekilas, lalu memalingkan wajah dari tatapan Defan tanpa bersuara.
"Yang?" Defan menyalakan mesin mobil, meski tangannya menggengam tangan Dira. Ia melanjukan mobil, mengeratkan kaitan jari-jemari keduanya.
Sesaat fokus menyetir, Dira mencuri-curi pandang. Sebenarnya ia risih, sedang marah tetapi tangannya terus digenggam erat oleh suaminya. Namun, ia membiarkan saja lelaki itu berbuat semaunya.
"Yang, udah sampai!" ucap Defan, melepaskan kaitan, lalu mengulurkan tangan agar dicium oleh Dira.
"Aku kuliah dulu, bang!" pamit Dira, mencium punggung tangan dan pipi Defan.
Ia tak mau mencium bibir suaminya lantaran sedang merajuk.
"Iya, sayang, kalau ada apa-apa kabar—" Belum Defan menuntaskan ucapannya, Dira sudah tak kelihatan wujudnya.
Dira berlari menjauhi mobil audi yang terparkir di pinggir jalan. Defan hanya pasrah seraya bergeleng-geleng kepala.
"Perempuan maunya apa sih? Aku hanya berkata jujur tapi ngamuknya bukan main! Huh ... Memang laki-laki selalu salah dan perempuan selalu benar!" guman Defan, melajukan mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan depan kampus Dira.
*****
Di kantor, Defan bertemu dengan Dania saat hendak memasuki lift. Dania meracau, mengeluhkan sikap Defan yang semakin menjauh darinya.
"Def, udah nggak kau anggap lagi aku sebagai sahabatmu. Semenjak pindah ruangan, udah nggak pernah kau mampir ke ruanganku. Menyapa atau mengajak kemanapun tidak pernah. Apalagi semenjak ada si Juni itu, ke mana-mana kalian selalu berdua!" cibir Dania dengan suara cemprengnya.
__ADS_1
"Apa sih, Dan? Malu didengar orang-orang!" lirih Defan, melihat pantulan tatapan orang-orang di pintu lift.
Mata orang-orang yang berada di dalam lift tertuju pada mereka berdua. Menyorot dengan tajam, sekaligus saling berbisik satu sama lain.
"Kau kemarin ngajak si Juni makan berdua di resto mewah, ya? Kok aku nggak kau ajak sih!" protes Dania, entah dari mana dia mendapat info tentang kepergian Juni bersama bosnya.
Suara denting lift berbunyi, pintu terbuka tepat di lantai di mana ruangan Dania berada. Defan mendorong tubuh Dania agar segera keluar dari dalam lift.
"Defan!!!" teriak Dania kesal, menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
"Awas kau, ya, Jun!" ucapnya lagi mengumpat.
****
Di ruangan kantor Defan, lantai teratas, Juni tengah berseluncur di akun media sosialnya. Ia menatap notifikasi tanda like dari akun bernama Dania.
"Kepo kali sih nih orang!" umpat Juni, seraya menutup layar ponsel ketika ada suara tarikan pintu.
Ceklek
Defan muncul dari balik daun pintu. Menyapa Juni yang duduk santai di kursi kerjanya. "Pagi!" sapa Defan.
"Pagi juga, pak!" balas Juni, membuat lengkungan lebar di sudut bibir.
"Eh, Jun, kau cerita sama si Dania kalau kemarin kita makan di resto?" celetuk Defan, sembari menggantungkan jas dan meletakkan tas di meja kerja.
Juni menggelengkan kepalanya. Namun, ia teringat pada postingan yang disukai oleh Dania. Buru-buru, ia membuka ponsel dan melihat kembali postingan tersebut.
"Pantas saja dia protes ke pak defan, ternyata tangan pak defan terlihat difoto ini," batin Juni, menatap lekat sang bos yang baru saja duduk di kursi kerja.
"Ehm ... kayaknya dari postingan saya, pak!" ucap Juni.
"Postingan apa?" sahut Defan, menatap tajam asistennya.
"Ini, pak!" Juni menunjukkan foto yang ia posting di akun media sosial.
__ADS_1
"Astaga!" Hapus saja sekarang!" titah Defan, menyeringai pada asisten tersebut.