
Seorang dokter residen melakukan penanganan. Memeriksa keadaan jantung dan pernapasan Dira menggunakan stetoskop. Semua masih berjalan normal.
Dokter tersebut, kemudian membangunkan Dira yang melemas. Lalu, memberikan segelas air mineral untuk diminum.
"Dok, perutku sakit! Rasanya seperti keram tapi sakit kali," lirih Dira, menatap perut yang mulai kebiruan akibat hantaman tepian jurang.
"Baik, bu, akan kita periksakan dulu," kata dokter residen tersebut.
Dokter meminta agar perawat membawakan USG, memeriksakan apa yang terjadi di dalam perut wanita itu.
Saat menatap layar USG, dokter residen itu langsung merujuk agar Dira ditangani oleh dokter kandungan. Ia memerintahkan perawat membawa Dira kepada dokter yang bertugas.
Dengan kepala tertunduk, dokter residen mendekati Defan. "Mohon maaf sekali, pak. Istri bapak ditangani oleh dokter kandungan. Karena hanya dokter kandungan yang bisa melakukan penindakan untuk yang dialami bu Dira," ungkap Dokter Residen.
"Memangnya istri saya kenapa, Dok?" Defan sedikit termenung memikirkan pembicaraan sang dokter.
"Apa bapak tidak tahu kalau istri bapak sedang hamil?" sahut Dokter.
Defan menggeleng, menatap sang dokter dengan tatapan nanar. Ia tak menyangka kalau Dira benar-benar mengandung anaknya.
"Hamil?" beo Defan, mengulang perkataan sang dokter.
"Iya, pak! Biar nanti dokter kandungan yang menangani bu dira dan menjelaskannya." Dokter itu kemudian pergi.
Di kursi tunggu, ketiga sahabat Dira langsung menghampiri Defan seraya bertanya-tanya.
"Apa kata dokter, bang? Dira kenapa?" lontar Carol, sangat khawatir.
"Entahlah! Abang juga nggak tahu, katanya Dira hamil." Defan menyugar rambutnya lantaran merasa sangat frustasi.
Kalau saja ia tahu lebih awal tentang kehamilan Dira, rasanya tak mungkin untuk membawa Dira liburan ke tempat berbahaya seperti tadi.
Buliran bening berhasil lolos dari pelupuk mata Defan. Dengan kaki melemas, ia duduk di kursi tunggu, menunggu hasil dari penindakan dokter kandungan selanjutnya.
"Hamil? Jadi si Dira keguguran?" celetuk Jenny frontal, hingga terdengar ke gendang telinga Defan.
__ADS_1
"Keguguran?" Defan menoleh ke arah tiga perempuan remaja itu, lalu berdiri dengan rasa syok yang menghampiri.
"Jadi si dira akan keguguran?" tanyanya dengan rasa syok yang mencengangkan.
"Nggak tahu, bang! Kita tunggu saja kepastian dari dokter," balas Carol, sedikit memberi ketenganan pada situasi itu.
"Pantas saja si dira makannya banyak kali, mungkin karena dia hamil." Shinta mulai membuka suaranya setelah dari tadi memilih diam saja.
"Iya, pantas dia berubah, ternyata karena lagi hamil," bisik Jenny, tak ingin meningkatkan kekhawatiran Defan.
*****
Dira telah dipindahkan ke dalam satu ruangan. Satu dokter kandungan yang bertugas langsung memeriksakan kondisi Dira. Ia meminta pada perawat agar memanggilkan suaminya untuk segera datang.
Dokter kandungan itu memeriksakan kehamilan dira. Melalui USG transvaginal, sebuah alat dimasukkan ke dalam alat vital Dira untuk memastikan janin tersebut baik-baik saja.
Namun, hasil pemeriksaan berkata lain. Janin yang terkena benturan itu hancur sehingga tidak akan bisa berkembang.
"Mana, sus, suaminya?" kata dokter kandungan, setelah seorang suster masuk ke dalam ruangan.
"Saya, dok, suaminya!" Defan berdiri kaku di depan dokter.
Mereka melanjutkan berbicara di ruangan dokter yang ada di sebelah kamar Dira.
Sementara Dira, hanya termenung, melihat kepergian suaminya dan dokter kandungan tersebut.
"Apa yang terjadi, Dok?" cecar Defan, buru-buru ia ingin mengetahui keadaan janin yang ada di dalam perut Dira.
"Maaf sekali, pak! Karena benturan, janin yang ada di dalam perut pasien hancur. Tidak bisa berkembang lagi, kita harus segera mengangkatnya," ujar Dokter Kandungan, dengan perasaan kecewa.
"A–apa? Jadi benar istriku hamil?" Defan menyugar rambutnya dengan rasa kesal sembari membuang nafas kasar.
"Iya, pak! Usia kandungan istri bapak mau memasuki 4 minggu, hampir mau satu bulan. Jadi kemungkinan belum diketahui kalau istri bapak sedang mengandung. Tapi seharusnya istri bapak sudah merasakan mual," tambah Dokter menjelaskan.
"Memang beberapa hari ini, istri saya sering mual dok, makannya juga banyak. Tapi kami tidak kepikiran kalau dia hamil. Mungkin karena baru kehamilan pertama, kami tidak tahu kalau tanda-tanda itu adalah citi-ciri sedang mengandung seorang anak." Defan menjelaskan panjang lebar setelah mengingat kilas balik yang sering dilakukan oleh istrinya.
__ADS_1
"Ya, ciri-ciri orang hamil memang seperti yang bapak sebutkan. Oleh karena itu, kami harus segera melakukan tindakan, janinnya harus dikuret, jika dibiarkan justru akan membahayakan rahim istri bapak."
"Tapi, Dok! Apa istri saya sudah tahu kalau dia hamil?" tanya Defan dengan tatapan nanar.
"Kami belum memberitahukannya, pak! Kita harus lakukan tindakan dulu daripada istri bapak syok dan trauma, akan mengganggu psikisnya dan penindakan jadi gagal," terang sang dokter.
"Kalau begitu, lakukan saja, dok! Yang terpenting istri saya selamat, tidak ada masalah apapun."
"Baiklah, kalau begitu bapak tandatangani surat penindakan kuret, ya, pak! Untuk hari ini, langsung kita tindak setelah mendapatkan persetujuan bapak!"
Dokter itu menyodorkan selembar surat untuk persetujuan penindakan Dira. Kemudian, ia meminta perawat memindahkan Dira ke ruang operasi.
Bahkan, Dira langsung dibius dan mendapatkan penanganan saat sudah tak sadarkan diri. Janin berusia hampir 4 minggu langsung diangkat dari rahim Dira.
Defan dan ketiga sahabat Dira hanya menunggu proses kuretase selesai. Tidak memakan waktu yang lama, 15 menit Dokter sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Dira langsung dipindahkan ke ruang rawat inap. Defan dan ketiga sahabat Dira langsung masuk ke dalam ruangan setelah di perbolehkan oleh dokter.
"Ditunggu saja, ya, pak, bu. Nanti setelah biusnya hilang, bu dira akan sadar." Dokter dan perawat meninggalkan pasien dan para pengunjungnya dari ruangan.
Wajah Defan sudah tak karuan, ia menggegam tangan Dira serta menatap istrinya dengan tatapan nanar. Sangat menyakitkan baginya mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Apalagi sampai Dira mengetahui kalau ia sudah ditinggalkan oleh anak mereka yang statusnya belum diketahui oleh kedua orangtuanya sendiri.
"Bang, istirahat dulu aja! Biar aku yang jagain Dira," kata Carol, saat menghampiri Defan.
Pria itu menggelengkan kepalanya, ia tetap ingin berada di samping Dira, hingga perempuan itu membuka mata.
"Kalian istirahat aja, kalau Dira sadar nanti kita bisa pulang tapi lihat kondisinya nanti," papar Defan mengarahkan.
Carol kembali ke tempat duduk, sofa panjang untuk menunggu pasien yang sedang terbaring lemah di brangkar.
Dengan bersandar pada sofa tersebut, ketiganya mencoba tidur dan beristirahat sejenak sampai Dira terbangun dari biusnya.
Defan bahkan ketiduran saat menunggu istrinya. Tangannya masih menggenggam erat penuh kehangatan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Dira akhirnya tersadar. Ia mengedarkan pandangan, menatap ruangan VIP yang luas, ketiga sahabatnya tengah tertidur pulas. Sementara suaminya menggenggam tangan dengan erat.
Tangan Dira yang dipasangkan infus langsung ia angkat, mengelus pucuk kepala Defan sehingga dia terbangun dari tidurnya.