Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
mood buyar


__ADS_3

"Dan ... Aku pamit pulang dulu ya. Udah mau malam," pamit Defan beranjak dari tempatnya dijawab dengan anggukan dari wanita itu.


Dania hendak berdiri tetapi dicegah oleh Defan. "Udah kau istirahat aja! Aku sendiri aja keluar," tegur Defan karena melihat Dania tampak lemas.


"Hati-hati ya Def," pesan Dania setelah itu Defan pun berlalu. Ia meninggalkan rumah Dania, cepat-cepat rasanya ingin sampai ke rumah. Tubuhnya terasa kaku karena duduk seharian.


******


"Dir, aku kalau mau makan instant ke rumahmu ajalah ya?" usul Carol mengerling.


"Ah ... kau ini! Nanti kau dimarahin mamimu kalau tahu sering-sering makan mie instant!" cetus Dira.


"Kalau nggak kau kasih tahu, ya mana tahulah mamiku hahaha," kekeh Carol terbahak-bahak.


"Iyalah! Kapan juga aku ketemu sama mamimu, lagian udah lama loh aku nggak ke rumahmu Carol!" Dira dan Carol terus saja berbincang-bincang sampai lupa waktu.


Ceklek


Tiba-tiba suara dorongan daun pintu terdengar di gendang telinga mereka berdua. Dengan situasi rumah yang masih berantakan, bekas plastik cemilan serta mangkok masih berada diatas meja. Namun, Defan telah berdiri di depan kedua gadis itu.


Suasana semakin kikuk, Carol pun langsung salah tingkah ikut membenahi ruangan yang tampak amburadul.


"A–abang udah pulang?" Dira gugup, ia cepat-cepat membersihkan sisa makanan yang masih berserakan.


"Lanjutkan saja!" titah Defan, ia berlalu membiarkan kedua perempuan itu melanjutkan aktivitasnya.


Defan masuk ke kamar, segera ia membersihkan diri di kamar mandi. Sedangkan Dira dan Carol masih merapihkan segala kekacauan berkat tindakan mereka berdua.


Dira mencuci piring, sedangkan Carol membuang sampah serta membersihkan cemilan-cemilan yang tadi sempat mereka makan setelah selesai menyantap mie instant.


"Dir, udah selesai semua kan?" tanya Carol setelah mereka berdua kembali ke ruang tamu.


"Udah kok! Santai aja," jawab Dira lugas, ia pun masih mengedarkan pandangannya, dan ruangan itu sudah kembali seperti semula rapih dam bersih.


"Kalau gitu, aku pulang ya! Udah malam ternyata. Makasih loh makanannya!" ujar Carol merangkul Dira melangkah keluar rumah.


"Tenang! Nggak usah sungkan! Kalau pengen makan mie instant kesini lagi," seloroh Dira mengerling.


"Iya dong! Pastinya! Rumahmu kayaknya bakal jadi basecamp kita deh!" Carol menatap Dira dengan tatapan yang tak biasa, matanya tampak picik.

__ADS_1


"Ah kau ini! Jangan sering-sering jugalah! Nanti aku disemprot bang Def!" keluh Dira.


Mereka berdua berjalan gontai memasuki lift. Tak terasa ternyata sudah jam 7 malam. Keduanya terlalu asik mengobrol sampai lupa waktu. Akhirnya Dira mengantarkan Carol sampai ke lantai basement, dimana mobil Carol terparkir.


"Hati-hati ya!" Dira melambaikan tangannya saat Carol mulai memutar stirnya untuk keluar dari perpakiran.


Ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, melemparkan senyuman hangat bagi Dira sebelum meninggalkan lantai perparkiran. Setelah Dira melihat kepergian Carol dari kejauhan, ia akhirnya masuk lagi ke dalam lift.


Memencet tombol nomor 2. Namun, saat di lantai 1, lift itu terhenti dan terbuka. Ada seorang laki-laki yang membelakangi lift.


"Maaf, nggak masuk?" ujar Dira yang menunggu cukup lama di dalam lift.


Pria itu membalikkan tubuhnya, dia adalah teman sekelas Dira—Angga. Mereka bertemu lagi, padahal Dira sedang tak ingin basa-basi.


"Oh iya ... sorry lama." Angga pun masuk ke dalam lift, lalu ia memperhatikan Dira yang sedang mencoba menghindarinya. Menundukkan kepalanya agar tak terlihat oleh Angga.


Namun, Angga sangat penasaran dengan sosok perempuan yang ada di dalam lift. Ia terus mencoba menatap Dira hingga wajah Dira pun tak sengaja ia kenali.


"Kau Dira kan?" tanya Angga seraya memergoki Dira yang menutupi wajahnya terus-menerus.


Lantaran merasa terdesak, akhirnya ia pun menunjukkan wajahnya. "Hehe iya," lirih Dira seraya menunjukkan cengiran kudanya.


"Lagi bertamu," jawab Dira singkat.


"Oh ..." Mereka berdua pun terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing.


"Kau tinggal sama orang tua disini?" celetuk Dira, ia pun langsung mendapatkan tatapan tajam dari pria itu.


"Engga," jawabnya singkat tak mau mempublikasi kehidupan pribadinya.


"Oh. Sendiri?" tutur Dira semakin penasaran.


Ting


Suara lift berbunyi, pintu lift itupun terbuka lebar.


"Nggak keluar?" tanya pria itu tanpa menjawab pertanyaan Dira. Ia malah menatap Dira yang hanya menggunakan baju rumahan seperti orang yang sedang tidak berkunjung.


"Oh iya! Aku duluan ya Ngga!" pamit Dira mengulas senyum dibibirnya.

__ADS_1


"Eh, kau kok bertamu pakai baju rumahan?" cecar Angga yang memelototi tubuh Dira dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Ehmmm ... pijam baju teman tadi. Soalnya udah dari siang disini. Udah ya, aku pergi dulu." Dira pun berlari menghindari Angga.


"Sial! Ngapain sih pakai ketemu tuh orang!Di sekolah ketemu, disini ketemu lagi," gerutu Dira.


Ia baru saja masuk ke dalam rumah, pandangannya mengedar keseisi ruangan. Tapi tak juga ditemuinya Defan.


Lalu, ia masuk ke dalam kamar, ternyata kamar mandi masih terkunci. "Gila! Udah selama itu, bang Defan masih di kamar mandi aja," gumam Dira menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.


Tak berselang lama, Defan pun keluar menggunakan handuk putih. Ia berjalan gontai mengambil baju rumahan yang ada di lemari.


Setelah bercermin dan memakaikan bajunya, ia mendekati Dira. "Dir, maaf abang tadi nggak bisa sama kau pulang," lirih pria itu tertunduk.


"Nggak apa-apa bang! Si Dania lebih butuh abang." Dira enggan memanggil perempuan itu dengan panggilan hormat sebagai kakak, ia lebih memilih mengucap namanya saja karena Dania tidak ia anggap sebagai kakaknya meski umur mereka terpaut sangat jauh.


"Loh kok gitu?" balas Defan menatap lekat istrinya.


"Iya ... kan buktinya seharian nempel-nempel suami orang terus. Kalau nggak butuh apa namanya? Masa nempelin suami orang," berang Dira meluapkan kekesalannya.


"Bukan gitu Dir, Dania itu sudah nggak punya sosok ayah. Sekarang mamaknya pun ikut pergi. Jadi nggak ada tempat dia bersandar," terang Defan mengklarifikasi kejadiannya.


"Oh gitu ... yaudah makanya aku bilang dia butuh abang. Yaudahlah nggak usah dibahas. Bikin mood buyar aja," pekik Dira memalingkan wajahnya dari suaminya. Ia pun langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. Malas sekali rasanya menceritakan persoalan tentang Dania.


"Udah makan?" lontar Defan dengan dingin.


"Udah." Dira tetap membungkus dirinya dengan selimut.


"Abang lapar loh, seharian belum makan," beber Defan. Ia memang tak sempat makan karena seharian menemani Dania.


"Masak mie instant aja! Tadi juga aku makan itu," ucap Dira dengan ketus.


"Yah ... kau lagi merajuk ya?" timpal Defan setelah mendengar nada sinis istrinya.


"Nggak tuh!"


"Kalau gitu, tolong masakin abang mie instant dong," pinta Defan dengan memelas meskipun wajahnya tak terlihat oleh Dira. Sebenarnya tubuhnya merasa sangat lelah, seharian duduk menemani Dania dengan perut kosong.


Namun, ia mencoba tetap kuat dan bertahan. Walaupun di dapur rumah Dania banyak makanan tapi ia tak ada waktu untuk menyantapnya.

__ADS_1


__ADS_2