
Defan panik melihat istrinya yang terjatuh. Ia meraih badan Dira dan menyandarkan dipundaknya, menunggu aba-aba dari keluarga apakah diperbolehkan untuk dimasukkan ke kamar.
"Defan kok diam aja kau? Bawalah dia ke kamar," ucap Melva panik melihat kondisi Dira yang telah pingsan karena kelelahan seharian mengadakan pesta pernikahan adat batak.
Sebelumnya Dira sudah beristirahat seperti biasanya sebelum acara pesta pernikahan digelar. Namun karena ia dipaksa bangun lebih pagi untuk merias wajah, ia merasa sangat lelah.
Tidak hanya itu, ia juga dituntut untuk mengikuti prosesi adat yang begitu panjang, bagi anak yang masih berusia tujuh belas tahun, ia belum terlalu mengerti prosesi itu.
Dira hanya mengikuti perintah apa saja yang harus ia lakukan selama prosesi adat. Tarian manortor yang wajibkan ia harus berdiri seharian pada prosesi pesta adat batak juga membuatnya sangat kelelahan.
Bahkan sebelumnya ia juga sudah memberikan peringatan pada Defan kalau tubuhnya sudah terasa sangat lemas. Tapi Defan terlalu cuek, memaksanya harus mengikuti proses adat terakhir yaitu dialap jual di rumah suaminya.
"Iya ma! Defan tunggu perintah. Nanti kalau Defan bawa sendiri malah dimarahin karena acara aja belum dimulai," jelas Defan yang mengangkat tubuh Dira perlahan, menggendongnya dengan lembut, membawanya ke kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh keluarga Defan
Kamar pengantin malam ini yang berada di rumah mertuanya. Setelah malam pertama nanti, mereka diperbolehkan untuk pindah ke rumah sendiri.
Defan mengangkat Dira perlahan, meminta pembantunya untuk menyiapkan minyak angin serta air putih. Beberapa makanan juga sudah dibawakan oleh para pembantunya, berjaga-jaga kalau saja Dira terbangun dan kelaparan.
Ia berada disamping Dira sepanjang malam, memijit-pijit tubuh Dira dengan minyak angin yang telah disiapkan.
Dira belum juga terbangun dari tidurnya. Mungkin karena tubuhnya terasa nyeri dan tidak bertenaga sehingga ia tertidur dengan lelap untuk mengisi kembali tenaganya.
Sama halnya dengan Defan, sebenarnya dia sudah sangat lelah. Tetapi harus menjaga Dira, tetap terjaga menunggu hingga Dira tersadar.
Sementara acara dialap jual tetap berjalanjut meski para pengantin tidak berada disana. Perwakilan memberikan sambutan dan proses pertanda bahwa pengantin wanita sudah dibawa ke rumah ini. Acara itu juga ditutup dengan kegitan makan malam bersama.
Defan yang daritadi menunggu Dira belum juga tersadar, banyak hal yang sudah dia lakukan mulai dari memijit Dira, meminta agar pembantunya menghapuskan make up yang masih terias tebal diwajah Dira, makan malam disamping istrinya, hingga menggantikan baju istrinya dengan malu-malu meski Dira belum terbangun.
Sambil berjaga disamping Dira, ia mengusap-usap kepala istrinya begitu hangat. Memandangi wajah cantik milik paribannya. Wajah yang begitu polos, Defan belum tersadar dengan perasaannya saat ini.
Ia belum begitu mencintai paribannya, yang ia tahu masih hanya rasa biasa seperti perlakuannya kepada adiknya. Setelah mencoba terjaga sepanjang malam.
Akhirnya karena mata Defan sudah tak sanggup menahan kantuk serta rasa lelah yang memuncak, ia memilih unguk membaringkan badannya disamping Dira dan tertidur lelap.
Sepanjang malam ia mencoba terjaga tetapi tak sanggup juga. Akhirnya Defan memilih untuk beristirahat sejenak diatas ranjang yang empuk.
__ADS_1
Kamar yang digunakan oleh Defan dan Dira sebenarnya hanyalah kamar tamu yang ditata sedemikian rupa untuk digunakan pengantin baru. Defan tidak ingin kamarnya diacak-acak hanya untuk kepentingan semalam saja. Diganti isi ruangan dan didekor sehingga merusak seisi kamarnya.
Makanya Defan meminta mamanya agar menggunakan kamar tamu saja, karena kamar itu dirias ala-ala untuk pengantin. Dekoran mewah itu juga nantinya akan dibuka setelah melewati malam pertama.
Masuk dini hari tepatnya pada jam empat pagi, Dira terbangun dari tidur panjangnya. Ia melihat sekelilingnya, kamar yang tidak ia kenal. Ia terkejut melihat Defan yang tidur disampingnya.
Dira belum tersadar penuh, tetapi tubuhnya sudah memiliki tenaga. Ia mengambil air minum yang berada diatas meja nakas disebelahnya dan meneguknya dengan sekali minum.
Air langsung habis, dahaganya mulai menghilang. Kemudian dia kembali melihat sekelilingnya, ia memuji dekor cantik yang mewah untuk pengantin baru sepertinya.
Namun dia teringat sesuatu sebelum kejadian pingsan, saat itu dia masih diacara terakhir yang harusnya diikuti oleh kedua pengantin. Tapi kini dia sudah berada didalam kamar dan melewatkan acara tersebut.
Saat sebelum pingsan, ia masih menggunakan gaun pengantinnya yang terakhir. Gaun yang dipakainya saat acara resepsi menyambut para tamu. Dira melihat dirinya yang terduduk diatas ranjang.
Dengan diam ia memperhatikan tubuhnya, ada sesuatu yang berbeda. Bajunya! Bajunya telah berganti.
Kini ia menggunakan sepasang piyama, entah milik siapa piyama ini. "Astaga! Siapa yang mengganti bajuku?" batinnya.
Dia beranjak dari atas ranjang, mendekati meja rias yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Ia ingin memastikan riasan diwajahnya. Dira berdiri didepan meja rias dan bercermin.
Ia mencari sebuah jam dinding, memastikan sekarang sudah jam berapa. Ia mencari diatas dinding tapi tak juga ditemukan. Tidak ada satupun jam dinding yang terpajang di kamar itu.
Namun ia melihat ada satu jam yang bisa dilihatnya, yaitu jam yang berada ditangan Defan. Ia mendekati Defan dan meraih tangan itu.
"Ternyata sudah jam empat pagi," batinnya.
Dira melepaskan tangan itu, mencari barang-barang miliknya yang ternyata tidak ada di dalam kamar. Seingatnya dia sudah membawa tas yang berisikan dompet hingga ponsel didalamnya.
"Dimana tasku! Semuanya tidak aku ketahui," batinnya lagi.
Semuanya terasa asing bagi Dira. Baru kali ini dia berada didalam kamar asing berdua dengan suaminya yang dingin dan arogan. Meski Defan belum terbangun, menyadari kalau Dira sudah tersadar dari tidurnya.
Dira yang tak tahu harus berbuat apalagi, memilih untuk kembali ke atas ranjang. Ia duduk diatas ranjang memerhatikan suaminya yang sedang tertidur sangat pulas.
"Mungkin dia juga capek seharian sama sepertiku," gumam Dira.
__ADS_1
Disebelah Defan ada nakas yang dipandangi oleh Dira, ia melihat diatas nakas itu terisi penuh dengan minyak angin, hingga ada sebuah piring berisi makanan. Tapi isi piring itu tidak tersentuh. Makanan itu awalnya untuk makan malam Dira, tapi ia tidak kunjung terbangun dari pingsannya.
Dira kembali melihat wajah tampan Defan. Tidur saja memperlihatkan wajahnya yang tegas tapi tampak arogan. Sekilas Defan terlihat sangat tampan, hingga membuat Dira tersenyum terkikik sendiri.
"Ganteng sih tapi tua," kekeh Dira. Ia senyum-senyum sendiri melihat paribannya yang tertidur lelap.
"Kenapa bisa ada orang tidur tapi tetap ganteng? Biasanya kalau tidur orang-orang ada yang mangap, ngiler dan semrawut. Kenapa dia berbeda?" batin Dira sambil tersenyum-senyum sendiri.
Dira mengingat dirinya kembali, semalaman tertidur, tentu Defan akan memperhatikannya saat tidur. Tiba-tiba ia menyeka sekitar mulutnya, ia takut kebisaan tidurnya yang mengiler itu dilihat oleh paribannya.
Beruntungnya saat diseka tidak ada bekas air liur disekitar mulutnya. Ia kembali tersenyum, tapi Dira tiba-tiba menepuk jidatnya. Ia teringat jika tertidur dia adalah salah satu dari orang-orang yang disebutkannya tadi. Mangap! Mangap adalah kebiasannya saat tertidur.
Ia mencoba senam wajah dengan huruf vokal. AIUEO yang terbentuk dimulutnya. Mulutnya memang terasa agak sakit, mungkin karena semalaman terbuka.
"Benar sepertinya aku tidur mangap!" keluhnya lagi.
Tapi dia merasa masa bodoh, karena saat itu dia hanyalah pingsan bukan tertidur. Dia membaringkan tubuhnya disamping paribannya. Ia sengaja tidur menyamping agar bisa menatap wajah Defan.
Karena sudah tidak bisa tertidur lagi, Dira hanya memandangi wajah ganteng Defan yang sedang tertidur. Setelah disadari oleh Dira, ternyata piyama yang dipakai oleh Defan mirip dengan piyama yang saat ini ia pakai. "Piyama couple rupanya," lirihnya pelan agar tidak membangunkan Defan.
Tiba-tiba tubuh Defan bergerak dan tidurnya berganti posisi menyamping. Wajahnya kini bertatap-tatapan meski mata Defan masih tertutup.
Dira hanya diam memandangi suaminya yang ganteng. Pria yang sering bersikap dingin dan acuh padanya. Pria itu kini sudah menjadi suaminya.
Malam pertama mereka tidur bersama tanpa Dira sadari karena ia sudah pingsan. Dira menatap tajam wajah Defan, dilihat bentuk wajahnya yang tegas, hidungnya yang mancung, dengan bibirnya yang tebal. Ia tidak berkumis maupun berjenggot. Jadi terlihat rapih dan sangat tampan.
Dira mengangkat tangannya, ingin memegang dan memastikan batang hidung Defan apakahh benar ia semancung itu. Semancung penglihatannya secara kasat mata. Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangannya, menghalangi tangannya yang hampir saja menyentuh wajah paribannya.
Ya! Defan sudah terbangun dari tidurnya dan menyadari kalau tangan Dira tepat berada didepan wajahnya. Secara spontan ia menangkis tangan Dira meski baru saja terbangun dari tidurnya.
Dira menatap mata Defan dan terdiam. Pria itu baru saja menatapnya dengan tajam. "Mengapa dia bisa langsung tersadar? Padahal baru bangun dari tidurnya," batin Dira.
Dira kemudian tersenyum pada Defan. memberanikan diri membuka suaranya dan menyapa pariban yang kini sudah sah menjadi suaminya.
"A...abang udah bangun?" tanyanya dengan terbata-bata.
__ADS_1