Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Mengguncang


__ADS_3

Defan mengernyitkan dahinya. Terkejut mendengar perkataan Dira yang menuduhnya seorang pedopil.


"Enak aja kau! pedopil itu suka anak kecil dibawah umur kaya balita! kalau kau bukan dibawah umur lagi. Mana ada anak kecil begini sudah mau menjadi istri orang," kesal Defan sambil mengacak-acak rambut Dira dan membuat Dira terpesona karena suka dengan perlakuan paribannya ini.


Kemudian Dira menatap tajam Defan. Karena tak terima dengan jawaban paribannya itu. Defan langsung menginjakkan gas dan melajukan mobilnya dengan kencang dan membuat Dira semakin takut.


"Abang pelan-pelan aja! aku belum mau mati," ketus Fira.


"Udah kau tenang aja, kita nggak akan mati. Aku sangat menunggu kau menjadi istriku," balas Defan sinis.


Dira memegang erat pegangan mobil agar tidak terayun-ayun karena laju yang kencang. Akhirnya Dira memilih diam saja daripada hal-hal aneh keluar dari mulut seorang pria dingin dan arogan seperti Defan Sinaga.


Defan membawa Dira ke mall terbesar di Medan. Baru kali ini Dira menginjakkan kakinya disalah satu mall yang besar seperti ini. Nyali Dira menciut dan ada rasa malu pada dirinya melihat fashion anak-anak yang masuk ke dalam mall begitu bagus dan terlihat mahal.


Beruntung saja Dira hanya mengenakan seragam sekolah miliknya bukan menggunakan baju sehari-harinya yang sudah lusuh. "Bang kenapa makannya disini? aku kan pakai seragam sekolah," tanya Dira.


"Udah masuk aja! jangan banyak bicara," Defan menarik tangan Dira dan menggandengnya dan masuk disalah satu restoran steik terkenal karena rasa dan kualitasnya.


Defan menarik satu kursi untuk Dira. Memperlakukan Dira selayaknya wanitanya. Dira tersipu malu karena mendapat perhatian dari paribannya yang arogan itu.


Seorang pelayan menyodorkan buku menu pada mereka dan menunggu untuk mencatat pesanannya.


"Kau tengoklah disitu, pilih apa yang mau kau makan," ucap Defan.


"Kalau saya pesan beef steak medium rare mbak dan minumnya es jeruk," Defan menyampaikan pesanannya pada pelayan resto.


Sementara Dira masih melihat-lihat buku menu. Ia menjadi pusing mau pilih menu apa, karena begitu banyak pilihan menu. Tapi dia belum pernah memakan menu seperti yang dipesan oleh Defan.


"Mbak samain sajalah sama pesanan abang itu. Tapi minumannya milkshake stroberi ya," kata Dira yang masih melihat-lihat buku menunya.


"Loh katanya kau makan steik. Tapi kenapa mesan sama seperti menu yang ku pesan?" Defan menjadi bingung dengan keinginan paribannya ini.


"Iya abang! aku pengen steik. Tapi menu yang abang pesan tadi belum pernah ku makan. Makanya aku mau coba juga. Aku penasaran," kekeh Dira.

__ADS_1


Defan menggelengkan kepalanya karena terkekeh dengan tingkah anak kecil didepannya itu.


Makanan itu langsung dicoba oleh Dira. Begitu terpesona Dira dengan cita rasa steik yang baru saja dia makan. Begitu meleleh di mulut. Tidak memerlukan tenaga untuk mengunyahnya.


Steik mahal pilihan Defan diancungi jempol oleh Dira. "Abang makasih ya! makanan tadi enak kali loh. Sekarang aku mau pulang, nanti mamak malah nyari aku. Kasian adik-adikku nggak ada yang jagain," ucap Dira mengajak Defan untuk mengantarkannya.


"Tunggu dulu! aku mau beliin kau sesuatu. Ayo kesana," ajak Defan. Sebenarnya Defan sudah meminta izin pada calon mertuanya, Rosma tadi, kalau hari ini selesai fitting baju ia akan mengajak Dira berjalan ke mall.


Seperti sedang melakukan pendekatan dengan calon istrinya. Defan ingin mengajak Dira makan hingga berbelanja.


"Bang ngapain kita kesini," tanya Dira penasaran karena mereka baru saja berdiri didepan salah satu butik terkenal dan mahal.


"Masuk! ambil yang kau mau," ucap Defan dingin. Lagi-lagi sikap dinginnya itu muncul dan membuat Dira kesal.


Tapi rasa kesal Dira hilang karena Defan baru saja menyuruhnya untuk mengambil barang-barang yang ia mau.


Defan meminta salah satu pelayan untuk membantu Dira membawakan baju pilihannya dan mencobanya di kamar ganti. Sedangkan Defan memilih duduk bersantai di sofa sambil menunggu Dira memperlihatkan baju yang dia coba.


Celana jeans dan crop top, sangat cocok ditubuh jenjang Dira. Tapi ketika dia perlihatkan pada Defan, Defan terang-terangan menolaknya dan meminta untuk mencoba baju lainnya.


"Baju yang terlalu seksi," batin Defan. Dia tak suka calon istrinya itu menarik perhatian laki-laki lain karena baju memperlihatkan perut datarnya yang berkulit putih bening itu.


Kali kedua Dira menunjukkan baju yang dia pakai. Baju yang dipakainya kali ini adalah rok span selutut dan kaos putih polos. Baju itu memancarkan tubuh seksi milik anak 17tahun itu.


"Astaga Dira!! kau mau kemana pakai baju itu? terlalu keliatan lekuk tubuhmu," sindir Defan membuat Dira menjadi tidak percaya diri dengan baju yang dia pakai.


Akhirnya Dira mencoba baju lainnya. Kali ini dia memilih baju sederhana, jeans kullot dengan kaos oversize putih polos. Terlihat sederhana tapi sangat cantik, meski seperti remaja pada umumnya.


"Bolehlah!" kata Defan saat melihat setelan ketiga yang dipakai Dira.


Dira juga mencoba baju lainnya, ada beberapa pilihannya yang disetujui oleh Defan dan itu dia beli. Sebelum mereka membayar belanjaannya, Defan meminta Dira untuk mengenakan pakaian pertama yang dia pilih untuk dipakai saja menggantikan seragamnya. Kullot jeans dan kaos oversize polos putih membuatnya semakin terlihat jenjang.


"Cantik banget anak ini. Udah kaya perempuan dewasa," lirih Defan pelan agar tidak terdengar oleh Dira.

__ADS_1


"Apa kata abang tadi? aku nggak dengar jelas," tanya Dira memastikan ucapan Defan.


"Nggak ada," ketusnya.


"Ih abang ini nggak jelas," balas Dira yang saat ini sangat senang karena telah dibelanjai oleh Defan.


Defan begitu perhatian, dia mengambil alih tentengan yang dipegang oleh Dira dan membawanya. Dira berhenti ditempat permainan anak-anak dan menarik tangan paribannya itu.


Banyak permainan yang menarik perhatiannya salah satunya yaitu foto box. "Bang! yuk kita foto box. Mengenang hari ini," ajak Dira.


"Nggak ah, udah kaya anak ABG aja saya," tolak Defan dengan formal. Dia malu dilihat oleh para pengunjung lain.


Tapi Dira memaksanya, menariknya dan kemudian masuk ke dalam studio mini foto box. Dira juga menarik belanjaannya dan meletakkannya dibawah.


Lalu Dira menyentuh layar foto box dan memilihkan untuk 12 set foto. Nantinya foto itu akan dibagi dua, enam milik Dira dan enam fotonya lagi milik Defan.


Defan yang kaku dan dingin tidak terbiasa mengikuti keinginan anak remaja seperti Dira.


"Abang senyumlah kalau foto! sekali-kali bergaya! jangan kaku gitu!" pinta Dira yang tidak bisa dipenuhi oleh Defan.


Berkali-kali foto, gaya Defan seperti itu saja. Gaya kaku, diam tanpa senyum dengan ekspresi datarnya. Gaya itu membuat Dira kesal.


"Abang ini kalau dibilangin susah! Gayalah sikit abang. Ihhh," ketus Dira.


Karena jepretan foto hampir mulai, akhirnya Dira berinisiatif memeluk tubuh Defan agar menunjukkan ekspresinya yang lain. Momen saat ia memeluk paribannya itu berhasil diambil.


Ekspresi kaget dan wajah panik Defan saat dipeluk Dira membuat Dira terkekeh. Dia tertawa keras meledek Defan yang kaku.


Satu lagi jepretan terakhir, Dira mengambil alih lagi. Kali ini aksi anak remaja ini membuat Defan semakin shock. Dira tiba-tiba mendekat dan mencium pipi Defan.


Defan tidak bisa berkutik, tapi wajah kocaknya karena terkejut sudah berhasil diambil pada jepretan foto box itu. Dira benar-benar membuat Defan grogi. Anak kecil itu baru saja mengguncang hati Defan.


^^^"Kau ini masih kecil berani cium-cium abang," ketus Defan dengan dingin sambil memalingkan wajahnya yang agak memerah karena malu menerima ciuman dari Dira. ^^^

__ADS_1


__ADS_2