
Niar hanya menyematkan senyum tipis di wajah. "Aku nggak mau ketahuan sama karyawan lain, kalau aku adalah adikmu! Apalagi ketahuan anak bapak CEO," jawab Niar, gamang.
"Loh ... jadi orang kantor nggak ada yang tahu kau anak pemilik perusahaan?" kekeh Defan, tertawa kecil melihat tingkah adiknya yang sok independent.
"No! Aku berusaha menyembunyikannya! Makanya aku nggak pernah mau menyapa kau!" sungut Niar, memutar bola matanya lantaran jengah dengan pertanyaan abangnya.
"Jadi bagaimana rasanya magang di kantor bapak sendiri?" ledek Defan, penasaran ingin mendengarkan pendapat sang adik.
"Biasa saja, seharusnya aku coba di perusahaan lain saja!" kilah Niar, sebenarnya ia merasa nyaman bekerja di perusahaan itu.
"Siapa pengacara yang menanganimu?" tanya Defan, ia juga tak pernah mendengar kabar Niar, oleh karena itu dengan kesempatan yang ada, dia menanyakan langsung pada orangnya.
"Bang Dante!" jawab Niar singkat.
"Oalaah! Si Dante rupanya, hati-hati cinlok!" ujar Defan, menggoda sang adik.
"Hahaha! Ada-ada aja kau, Bang!" kekeh Niar, tertawa lebar.
"Yeee! Dibilangin malah ketawa, buaya darat itu si Dante! Jangan sampai kau tergoda sama rayuannya!" Defan benar-benar mengingatkan adik keduanya, sebab tak ingin melihat adiknya itu merasakan sakit hati.
Niar langsung termenung mendengar perkataan Defan, memang selama bekerja, beberapa kali Dante merayunya. Namun, Niar adalah orang yang cuek dan tomboy, tidak ada dibenaknya untuk berpacaran apalagi mendengarkan rayuan gombal sang bos.
"Memang dia suka merayu aku tapi kucuekin aja sih!" desah Niar, menghembuskan nafas kasarnya.
"Hati-hati, itu masih awal-awal. Jangan sampai kau terjebak dalam rayuan maut itu," kekeh Defan, segera masuk ke dalam mobil bersama istrinya setelah berpamitan pada kedua orang tuanya.
***
Di jalanan macet ibu kota, Anggi tengah memaki kepadatan lalu lintas. Ia menaiki ojek online untuk menembus kepadatan lalu lintas.
Padahal sudah berangkat dari jam 6 pagi, hingga setengah tujuh pagi, belum berhasil tembus ke halaman kampus tercinta.
"Peninglah aku lihat jalanan ibu kota ini," gerutu Anggi, saat terjebak macet.
__ADS_1
Disaat yang sama, tak sengaja seorang pria memperhatikan Anggi. Laki-laki yang mengendarai motor CBR itu juga tengah terjebak kemacetan ibu kota.
Ia menelisik wajah perempuan yang berada di kursi belakang tepat berada di samping motornya, perempuan itu tengah gusar menempuh jalanan yang padat.
"Apa itu dia?" batin Jaki Ananda—Dosen yang pagi ini akan mengajar di kelas Anggi.
Jaki pun tersenyum, tanpa ia sadari Anggi telah mengisi ruang di hatinya. Moment yang tak sengaja saat Anggi menabrak dirinya, justru menjadi awal mula pria itu penasaran ingin lebih mengenal Anggi.
Jaki semakin yakin kalau ia bisa mendekati Anggi. Perempuan yang cuek bahkan sedikit gegabah.
Saat lampu kuning berganti hijau, semua kendaraan melaju cepat. Anggi sudah menggerutu, ia ingin segera sampai di kampus. Sebab, pagi ini ada kelas yang dikatakan bahwa dosen yang mengajar adalah seorang dosen killer.
"Aish!" decak Anggi, semakin kesal karena sudah dua minggu ini merasakan kemacetan ibu kota yang membuatnya jengkel.
Hingga 30 menit, Anggi akhirnya tiba bersamaan dengan Jaki yang memarkirkan motor di perpakiran kampus. Anggi berlari menyusuri lorong kampus, tepat pukul 7 pagi, Anggi seharusnya sudah berada di dalam kelas.
Jaki sengaja memperlambat jalannya, melihat Anggi yang berlari searah dengan ruangan yang akan didatanginya. Ia berjalan gontai, saat Anggi berlari dengan kencang agar tak terlambat, karena khawatir akan dikeluarkan oleh sang dosen killer dari dalam kelas.
Setelah memastikan Anggi masuk ke dalam kelas, Jaki pun akhirnya masuk.
"Pagi, Pak!" sahut mahasiswa kompak, hanya Anggi yang tak menjawab lantaran masih mengatur nafasnya yang terengah-engah karena berlarian pagi-pagi.
Anggi terdiam, kala menatap pria yang pernah tertabrak olehnya. "Dosen itu?" gumam Anggi, meneliti penampilan dosen muda yang berdiri gagah di depan kelas.
Sang dosen tersenyum ke arah Anggi, ia tahu sedang diperhatikan oleh perempuan itu.
"Dia sengaja tersenyum padaku?" batin Anggi, seraya memicingkan mata.
Namun, pikiran Anggi yang bertanya-tanya tentang pria itu segera buyar. Sebab, Jaki akan memulai mata kuliah yang akan diajarkan.
"Hari ini, saya akan mengajarkan tentang pengantar ilmu hukum. Tahu apa pengertian ilmu hukum?" tanya Jaki pada seluruh mahasiwa.
Kebiasaan Jaki pun dimulai, ia menunjuk Anggi untuk menjawab pertanyaan yang terlontar.
__ADS_1
"Saya, pak?" tanya Anggi, seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu! Tolong jelaskan apa pengertian ilmu hukum!" desak Jaki, meringis dengan kecut saat mulai melatih mahasiswa yang mendapatkan perhatian sejak dari pertemuan pertamanya.
Untung saja, Anggi adalah perempuan yang cerdas. Materi seperti itu sudah berada di luar kepalanya. Anggi berdiri untuk menjawab pertanyaan sang dosen, sesuai dengan permintaan Jaki tentunya.
"Ilmu hukum merupakan batasan yang diberikan terhadap kajian ilmu hukum. Sedangkan hukum sendiri adalah kumpulan peraturan yang terdiri atas norma dan sanksi-sanksi," jelas Anggi, lugas.
"Bagus! Jadi defenisi ilmu hukum itu sendiri apa?" cecar Jaki, belum puas dengan jawaban mahasiswanya.
"Intinya ilmu pengetahuan yang objeknya mengenai hukum!" tambah Anggi, kembali.
"Benar sekali!" ujar Jaki, seraya menghentakkan bolpoin yang ada di tangan.
Selama dua jam berlangsung, seluruh mahasiswa dicecar oleh sang dosen. Mau salah atau tidak, mahasiswa harus menjawab pertanyaan seadaanya sesuai pengetahuan mereka.
Di saat kelas ini, Jaki bahkan sudah memberikan setumpuk tugas untuk mahasiswanya sebelum membubarkan kelas tersebut.
"Saya ingin semua mahasiswa membuat makalah tentang ilmu hukum. Di pertemuan selanjutnya akan dikumpulkan," titah Jaki, dengan tegas.
*****
Di dalam kelas jurusan kedokteran, pembelajaran berlangsung kondusif. Dira bahkan bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh dosennya.
Hari itu, pada minggu ketiga sejak mulai masuk kampus, Dira bersama seluruh mahasiswa kedokteran sudah mendapatkan tugas dari dosen.
Tugas kelompok sengaja diminta oleh dosen. Dira terpaksa bergabung dengan Jenny dan Angga yang dibentuk menjadi satu kelompok.
"Kenapa sih kita harus satu kelompok sama si Angga?" bisik Jenny, tapi Dira langsung mengangkat kedua tangannya karena dosen yang mengatur anggota kelompok tersebut.
"Pertemuan selanjutnya, saya ingin semua tugas kelompok dikumpulkan. Jika ada yang tidak mengumpulkan, akan diberikan nilai nol!" tandas Dosen, berlalu pergi keluar ruangan.
Hari itu, dosen memberikan tugas untuk membuat makalah tentang fungsi organ. Sengaja dibuat dalam bentuk kelompok, sang dosen ingin melihat sistem kerjasama antar mahasiswa.
__ADS_1
Angga pun mendekati Dira dan Jenny, setelah dosen keluar dari ruangan. "Kapan mau dikerjakan? Di rumah atau di kampus?" cecar Angga, tanpa basa-basi.
Jenny dan Dira saling menatap. Mereka juga bingung untuk menjawab pertanyaan Angga. Pria itu ternyata cukup rajin untuk mengerjakan tugas kampus, ia sengaja tidak ingin mengulur-ulur waktu yang berujung hingga melupakan tugas dari dosen.