
Dengan rasa kesal yang memuncak, Dira terpaksa keluar rumah. Sebab, jika bertahan di rumah, tidak ada satupun makanan yang tersisa untuk mengisi perutnya.
Sebelum keluar dari rumah, Dira sudah menghempaskan bunga itu di meja dapur. Tak ada niatan untuk menghirup aroma bunga mawar merah yang tertata pada buket.
"Sayang, jangan merajuk gitulah! Abang, kan sudah minta maaf. Harus apalagi yang abang lakukan?" tanya Defan menatap lekat perempuan itu di dalam lift.
Namun, Dira tak berkutik. Hanya diam mematung menunggu aksi suaminya. Dengan polos, Defan melangkahkan kaki, mendekati wanita itu.
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir Dira, agar ia segera memaafkan. Dira langsung menghapus bekas ciuman yang mendarat di bibir tipisnya.
"Ih, kok gitu sih!" Defan jadi merasa serba salah, semua yang ia lakukan di mata Dira salah.
Saat Defan melayangkan kembali ciuman itu di dalam lift. Ciuman yang lebih lama dari yang pertama. Bahkan, ia melum*at benda kenyal itu. Memainkan lidahnya menjelajahi rongga mulut Dira, tanpa memerhatikan dimana mereka berada. Anehnya, tak ada penolakan dari perempuan itu. Tiba-tiba ....
Ting
Suara lift terbuka. Defan langsung melepaskan pagutan yang membuat dirinya begitu bersemangat. Sementara, Dira semakin kaku, takut ada orang yang melihat kelakuan mereka saat pintu lift terbuka.
"Ah, sial!" umpat Defan lirih, ia pun bergegas keluar di lantai basement. Kemudian, tak jauh dari perparkiran, ia memencet tombol kunci agar pintu mobil terbuka.
"Ayo, sayang!" ajak Defan, diekori oleh Dira masih dengan rasa kesal.
"Mau makan apa?" Defan tak ingin salah lagi untuk kesekian kalinya.
"TERSERAH!"
"Duh, abang bingung deh! Semuanya yang abang lakuin serba salah. Kau maunya apa?"
Dira pun terkejut dengan penuturan sang suami. Mode merajuk yang ia buat seketika buyar ketika lelaki itu menanyakan maunya apa? Seketika ia menjadi takut pada pria tersebut.
Namun, Dira tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Ia tetap saja memasang wajah penuh amarah.
Karena tak ada jawaban dari perempuan itu, Defan mengaitkan jari jemarinya dengan jari jemari Dira. Mengeratkan genggaman itu di dalam mobil yang masih terparkir.
"Maafin abang, ya, sayang!" Defan menghujani ciuman di punggung tangan Dira penuh kelembutan.
Dira sampai menoleh kepada lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Bahkan, Defan tak mau melepaskan genggaman tangan walau ia mulai menyalakan mesin mobil.
"Lepasin, bang! Bahaya kalau nyetir sambil pegangan tangan gitu!" ucap Dira dengan ketus.
__ADS_1
"Enggak mau! Pokoknya sampai gadisku mau maafin aku, baru aku lepasin!"
Defan melajukan mobil, tangan itu tetap ia kaitkan dengan erat. Sangat romantis di mata Dira, meski ia juga ketakutan kala Defan tengah mengoper gigi mobil dengan posisi tangan yang terus digenggam.
Defan melajukan mobil dengan kecepatan sedang seraya mengulur waktu kebersamaan mereka. Sesekali, ia juga menoleh ke kanan-kiri, mencari tempat makan untuk disinggahi.
"Sayang?" panggil Defan, seraya mengecup punggung tangan Dira.
"Hmmmm."
"Masih marah?"
"Enggak!" Nada bicara Dira pun masih sangat ketus.
"Enggak tapi kok ketus kali sih," gerutu Defan, yang fokus pada jalanan.
Satu tangan memegang kendali stir, satu tangan menggenggam tangan Dira yang tak jauh dari gigi mobil.
"Hmmmm." Dira masih menjawab hanya dengan gumaman saja.
"Ayo, dong! Jangan marah lagi! Makan disitu aja mau?" Defan mengarahkan pandangan ke sisi kiri saat laju mobil melambat.
"Terserah," jawab Dira dengan nada melemah.
"Mau makan apa?" tanya Defan, setelah mereka masuk ke dalam antrean. Defan pun menatap ke arah depan mencari menu apa saja yang dijual oleh pedagang tersebut.
"Bakmi mau? Nasi goreng? Kwetiaw?"
"Semua aja sebut, bang!" dengus Dira, masih dengan nada kesal.
"Abang, kan cuma menawarkan, sayang! Jadi maunya apa?" Defan tengah menimbang-bimbang menu pesanan untuk dirinya.
"Bakmi!" jawab mereka berdua serentak.
"Duh, ilah sehati kali sih kita," goda Defan, mencubit dagu sang istri.
Dira pun hanya pasrah menerima segala perlakuan sang suami. Terlebih, banyak orang yang tengah memerhatikan mereka berdua. Dira memakai piyama, sedangkan Defan masih mengenakan stelan formal.
"Pak, Bakmi dua, ya ... Pakai pangsit!" ucap Defan, saat memesankan makan malam mereka.
"Baik, pak. Silahkan tunggu di meja." Pedagang itu mulai menyiapkan makanan. Antrean kala itu sangat panjang, butuh waktu setengah jam agar Dira dan Defan bisa menyantapnya.
__ADS_1
"Rame kali ya, sayang?"
"Hmmm." Sikap Dira masih sangat acuh, kesal lantaran suaminya itu tak pernah menepati janji.
"Silahkan dinikmati, pak, bu!" tutur seorang pelayan yang mengantarkan makanan.
"Terimakasih!" jawab Dira sembari melemparkan senyum khasnya.
"Gitu dong, senyum! Kan manis," goda Defan mengerlingkan mata.
"Yuk, makan!" lanjut Defan lagi.
Defan dan Dira langsung menyantap bakmi itu. Rasa yang khas mengalir di lidah dan tenggorokan. Patut saja jualan pedagang itu sangat laris.
Defan akhirnya mengerti apa yang menjadi daya tarik makanan itu. Rasanya begitu mewah, ketika di mulut, mie terasa sangat kenyal karena hasil homemade alias dibikin sendiri.
Kuah bakmi penuh cita rasa, terkesan manis dan asin sedikit terasa pedas meski para pembeli belum menambahkan sambal. Potongan ayam pun begitu empuk, serta pangsit sangat lembut dengan isi suiran ayam melimpah.
Dira menghabiskan bakmi itu hanya dalam lima menit. Seluruh isi bakmi telah berpindah ke dalam perut. Ia merasakan kekeyangan yang luar biasa walau porsi bakmi tidak terlalu banyak.
"Kenyang, sayang?" tanya Defan, basa-basi setelah melihat isi mangkok telah tandas.
"Mau nambah satu lagi," kata Dira begitu ketus.
"Yaudah, biar abang pesankan. Kau tunggu di sini aja!" Defan langsung beranjak meski makanan di mangkok belum habis.
Dira cuek saja ketika suaminya menawarkan diri untuk memesankan makanan selanjutnya.
"Padahal aku sudah kenyang!" gumam Dira, tak mengalihkan pandangan dari sosok pria yang sangat ia cintai.
Tak berselang lama, Defan kembali duduk di kursi, menghabiskan sisa bakmi yang masih berada di dalam mangkok. Kemudian, tak membutuhkan waktu lama seperti di awal mereka menungngu pesanan, seorang pelayan pun membawakan satu mangkok bakmi.
"Bungkus aja, bang!" titah Dira saat melihat isi mangkok suaminya telah kandas.
"Loh, katanya mau nambah? Kok dibungkus, yang?" ujar Defan, penuh tatapan selidik.
"Nanti aja makan di rumah, sudah malam." Dira beranjak dari kursi, lalu mengambil bungkusan dari pelayanan tadi.
"Ayo, bang! Cepat! Aku ngantuk!" Dira memberikan kantong plastik itu pada suaminya.
Defan pun menurut saja, ia membawakan bungkusan bakmi. Melakukan pembayaran, lalu segera menghampiri Dira yang menunggu sedari tadi.
__ADS_1
Mereka berjalan ke arah mobil beriringan. Defan masih saja menggoda istrinya agar tak bersikap acuh lagi.