Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Jangan takut


__ADS_3

Dira dan Defan, sangat mesra bermain jetski berdua. Keduanya sampai lupa waktu. Defan juga mengajarkan istrinya untuk mengendarai jetski di atas air.


"Waww!" puji Dira, saat dirinya sudah lihai memajukan kemudi jetski dengan laju yang kencang.


Bermodalkan pelampung, Dira sebenarnya ngeri saat terombang-ambing di atas danau. Apalagi, ia tidak bisa berenang sama sekali. Sementara suaminya, justru terlihat keren mengenakan pelampung.


Defan juga tak takut jika tercebur ke dalam danau. Ia sangat ahli berenang, menurutnya pelampung juga sangat safety meski dirinya terseok oleh ombak.


Sementara anak Opung Matua yang perempuan dan menantunya, asik bermain air, berenang di tepi danau. Termasuk Rosma dan Melva, mereka berdua berbincang selagi berenang di tepian.


"Edak, bagaimana rasanya tinggal di Jakarta selama dua minggu?" ujar Rosma, berenang dengan gaya bebek lantaran dirinya memang tak pandai berenang.


"Biasa saja, dak! Lebih enak tinggal di sinilah! Kalau di daerah orang, kita nggak bisa ke mana-mana. Tetangga pun nggak saling kenal. Akh ... nggak enaklah, dak!" ungkap Melva, berenang gaya punggung, berbeda dengan Rosma, ia sangat pintar dan sangat menyukai berenang.


"Oalaah! Jadi ke mana aja tempat yang edak datangi?" tanya Rosma, penasaran. Ia belum pernah menginjakkan kaki ke ibu kota yang terkenal dengan padatnya jumlah penduduk dan gedung-gedung tinggi.


"Nggak banyaklah, Dak! Karena si Anggi sibuk kuliah. Sebelum ospek, kami sempat berjalan ke mall yang paling besar di Jakarta itu. Tempatnya besar kali, semua barang branded ada di sana!" beber Melva, antusias menjelaskan tentang tempat itu.


"Wah, seru juga lah, ya, Dak! Aku pun jadi ingin ke sana. Tapi siapa yang mau di datangi! Haha ..." canda Rosma.


"Gampanglah itu, Edak! Nanti kita bisa jalan-jalan ke sana. Pas liburan semester si Anggi. Sekalian kita liburan keluarga. Oh ... iya, kebetulan baru ingat aku, di rumah ada oleh-oleh buat Edak!" papar Melva.


Flashback ...


Setelah menginjakkan kaki di Jakarta, Melva dan Anggi langsung berlibur. Mengelilingi ibu kota. Berbagai tempat di datangi diantaranya, monas yang terkenal sebagai tempat bersejarah, Dufan dan Pantai Ancol, TMII, serta berbagai mall yang terkenal di sana.


Selama seminggu penuh, Melva dan Anggi sampai lelah mengelilingi daerah ibu kota. Ia juga membeli belanjaan yang banyak di mall, berbagai barang branded mulai dari baju, tas, sepatu, hingga perhiasan berlian.


Ketika ada yang bagus, tanpa pikir panjang, Melva langsung membeli dan melakukan pembayaran. Melva juga tak sungkan membelikan oleh-oleh barang branded untuk besannya serta menantunya.

__ADS_1


Setelah pulang ke Medan, Melva langsung memberikan tas seharga ratusan juta untuk Dira. Tas branded dengan model terkini, membuat Dira sport jantung. Baru kali ini, ia memegang tas seharga ratusan juta.


"Dir, pakai tas itu untuk acara penting-penting, ya!" pesan Melva, saat mengeluarkan seluruh barang bawaannya dari koper kecil, dan memberikan sebuah tas untuk Dira.


"Iya, Inang!" jawab Dira, mengulum senyum lebar di wajah.


Di dalam koper Melva, hanya berisi oleh-oleh dan belanjaannya. Sementara baju yang ia kenakan selama tinggal di apartemen Anggi, ditinggalkan begitu saja di dalam lemari.


Flashback off!!


Tak terasa, seluruh keluarga bermain hingga sore. Para lelaki membawa hasil pancingan untuk dipanggang di vila.


"Ayo, ayo, pulang!" titah Opung Matua, ia merasa pegal duduk setengah hari di kursi, menunggu hasil pemancingan.


Selama beberapa jam, ia berhasil menangkap tiga ekor ikan mas sebagai penghuni di danau toba. Sementara anak lelaki dan menantunya, berhasil mendapatkan ikan bahkan kepiting air tawar.


Semua hasil penangkapan ternyata cukup banyak, mencapai satu ember besar. Para anak perempuan dan menantunya mengeksekusi hasil penangkapan itu.


"Siapa yang mau panggang ini?" tanya Melva, setelah membersihkan ikan hasil pancingan.


"Aku aja, Mam! Nanti dibantu sama lae-lae," jawab Defan, setelah membersihkan diri.


"Nah, ambillah!" Melva menyodorkan satu ember besar ikan, yang sudah dibumbui khas masakan ikan bakar.


Defan mengajak Parulian dan adiknya untuk membantu membakarkan ikan. Di halaman vila, mereka asik memanggang. Sebenarnya, Defan bisa saja meminta pada pelayan vila agar membakarkan ikan tersebut.


Namun, ia ingin menikmati moment kedekatan dan kebersamaan ipar-iparnya serta cucu opung matua yang lain.


Sementara itu, para tetua sedang menikmati kopi hangat serta cemilan ubi goreng yang disediakan pihak vila sebelum menghidangkan menu utama untuk makan malam.

__ADS_1


****


Dira bergabung dengan mamak, mertua, namboru dan inang udanya di halaman rumah. Memakai jaket yang tebal menikmati keindahan malam, pemandangan yang langsung menangkap danau toba dari depan vila.


Ia juga menyaksikan suaminya sibuk membakar ikan seraya bercanda gurau.


"Dir, sudah bersih kan?" cecar Melva, membuka obrolan malam dengan suasana yang dingin.


Dira awalnya belum mengerti maksud pertanyaan mertuanya. Namun, satu-satunya pertayaan itu menuju pada masa nifas yang berlangsung selama 40 hari lalu.


"Sudah, Inang!" jawab Dira, sedikit lambat karena harus memikirkan pertanyaan mertuanya.


"Baguslah, gaskan nanti! Biar cepat jadi, gausah pikirkan yang aneh-aneh, nggak perlu takut kejadian itu terjadi lagi!" papar Melva, tanpa memfilter ucapannya.


Dira pun termenung, sebenarnya ia bingung dengan mertuanya terlalu frontal mengucapkan kata-kata seperti itu. Terlebih, mamak, namboru dan inang udanya harus mendengarkan perkataan tersebut.


"Iya, Dir! Jangan takut keguguran lagi, ya! Inang uda juga dulu pernah keguguran anak pertama tapi dua bulan kemudian, langsung isi lagi kok!" ucap Inang Uda Dira—Matari.


"Memang nggak semua pernah mengalami itu. Tapi kebanyakan perempuan sudah pernah mengalaminya, itu hal biasa. Tidak perlu diratapi lama-lama, sudah kehendak Tuhan!" imbuh Namboru Dira—Bestan.


"Iya, Inang Uda, Bou! Dira mengerti, Dira masih berusaha sama bang defan. Mudah-mudahan kami segera memiliki anak, doakan lah!" pinta Dira, bernada lemah lembut.


"Kau kan baru sekali, Dir! Waduh ... bou dulu sampai tiga kali keguguran, sakitnya bukan main! Perut keram, keluar darah, pinggang sakit, terus kehilangan anak berkali-kali, sampai direpeti mertua bou lah! udah nggak bisa terkatakan lagi rasanya kayak mana!" timpal Devi, membuat semua orang menoleh padanya.


"Loh, kau dulu keguguran berkali-kali dek?" tanya Melva, menatap lekat adik perempuannya.


"Iya loh, kak! Masa kakak lupa sih!" sungut Devi, padahal kejadian itu sudah lama tapi masih dikenang karena terasa memilukan.


"Oalaah, lupa aku! Tahun berapa itu?" sergah Melva.

__ADS_1


"Entahlah, Tahun 90an kurasa! Waktu program hamil anak pertama. Kan heboh kali dulu keluarga kita, apalagi keluarga suamiku. Dikira mereka aku penyakitan," beber Devi.


"Oh ... iya, baru ingat aku! Memang heboh kali dulu. Untung kau berhasil buktikan, kalau kau perempuan normal. Lihatlah anakmu udah 4 besar-besar!" seloroh Melva.


__ADS_2