Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Mood boosterku


__ADS_3

Ia ikut berjalan hingga pintu rumah pun tertutup rapat.


"Yaudah, ayo!" ajak Defan seraya mulai berjalan.


Namun, Dira merasa khawatir kalau suaminya sudah sangat lelah seharian penuh, sehingga ingin mengurungkan niat untuk keluar rumah.


"Bang, capek nggak kalau harus nyetir lagi? Kalau misalnya capek, mending kita pesan dari aplikasi online aja," saran Dira.


"Enggak kok! Abang justru semangat kalau jalan samamu, kau itu adalah mood boosterku, ecieeee..." canda Defan seraya terkekeh dan menunjukkan cengiran kuda.


"Ish, bisa aja Abang Defan," kekeh Dira meski lawakan suaminya terasa garing.


Keduanya memasuki lift, menuju perparkiran di lantai basement, lalu mereka keluar mencari makan malam hanya di sekitaran kondominium terutama yang ada di pinggiran jalan. Defan dan Dira tidak segan-segan untuk mencicipi makanan pinggiran jalan karena itu terasa nikmat dibandingkan harus makan di restoran mewah yang mahal.


"Abang di situ aja deh." Dira menunjuk salah satu gerobak tempat jualan nasi goreng, lalu Defan pun menghentikan laju mobil.


Kemudian, ia memarkirkan secara sembarangan mobil itu di pinggir jalan. Mereka berdua keluar dari mobil berjalan menuju gerobakan penjualan nasi goreng.


"Mau apa?" tanya Defan, sebelum menyampaikan pesanannya.


"Aku mau nasi goreng dan mie goreng yang pedas, Bang!" pesan Dira pada suaminya lalu ia duduk mencari meja yang kosong untuk mereka tempati.


Sementara Defan menyampaikan pesanan kepada penjual nasi goreng, ia memesan dua nasi goreng dan satu mie goreng dengan level yang pedas.


Kemudian, ia duduk lagi berhadapan dengan sang istri, di kaki lima itu ternyata cukup ramai banyak orang-orang yang menyantap nasi goreng, sekilas makanannya tampak menggiurkan saat si penjual nasi goreng membawakan beberapa piring kepada para pembeli.

__ADS_1


Hanya membutuhkan waktu 10 menit, pedagang sudah membawakan pesanan Defan dan Dira, keduanya melahap makanan itu hingga tandas karena merasakan perut yang lapar.


Sama seperti Dira yang menahan lapar, sebab tadi Defan juga buru-buru pulang hingga tidak ingat untuk makan malam. Ia juga tidak sempat mengajak mertuanya makan karena sudah merasa lelah.


"Tuh kan, Bang makanan kaki lima memang yang paling paling enak sih," puji Dira, setelah menghabiskan satu piring nasi goreng, kemudian berlanjut untuk menyantap mie goreng yang dibagi dua dengan suaminya.


"Iya sih, padahal harganya murah tapi kenapa rasanya nikmat sekali," beber Defan, sekaligus berpikir dan larut dalam pikiran karena sudah berkali-kali istrinya sering mengajak makan di pinggir jalan tetapi tidak ada makanan yang zonk, semuanya terasa nikmat.


"Itulah kelebihan makanan kaki lima, Bang selain makanannya enak, harganya juga murah," ujar Dira seraya mengangkat kedua jempol.


"Kayaknya kita harus sering-sering makan di kaki lima dari pada restoran yang mahal karena bisa menghemat biaya di dalam rumah tangga kita," canda Defan seraya terkekeh kecil.


"Cocok tuh, Bang sepakat!" balas Dira dengan menunjukkan cengiran kuda yang khas.


Setelah menyelesaikan makan malam, Defan dan Dira kembali lagi ke kondominium, lalu mereka Dira membasuh wajah sebelum terperanjat ke atas ranjang. Sementara Defan langsung mandi membersihkan diri, ia ingin menagih jatah jatah malam ini pada istrinya.


****


Rosma tampak memikirkan ulang kata-kata Dira—Boru Panggoarannya. Oleh karen itu, Rosma mengusulkan pada suaminya untuk menyimpankan sebagian uang sebagai bekal nanti akan digunakan oleh Parulian untuk biaya kuliah.


"Pak, tahun ini kan si Parulian bakal lulus SMA, jadi kita harus menyiapkan uang tabungan untuk kuliah, jangan sampai nanti dia tidak sampai memasuki jenjang kuliah," pesan Rosma, mengingatkan.


Meski sudah selesai menyantap makan malam tapi meja makan masih terasa ramai. Bahkan, anak keduanya itu juga mendengar obrolan kedua orang tuanya secara terang-terangan. Ia semakin merasa mampu bisa meraih bangku kuliah.


"Oh ... aku baru ingat kalau si Parulian bakal kuliah. Sepertinya hari-hari kita akan semakin berat, kau harus menghemat biaya hidup agar uang itu sampai saat masa kuliahnya," titah Sahat saat pada istrinya.

__ADS_1


"Iya, kita harus mulai menghemat tapi pengeluaran kita sangat banyak, dalam setiap bulan bahkan mencapai 10 juta itu pun kalau ada pengeluaran mendesak, tapi setiap bulannya entah mengapa selalu ada saja pengeluaran kita," ungkap Rosma menatap lekat sang suami.


"Kalau begitu, kita masukkan saja setengah uang itu untuk tabungan berjangka, sisanya kita putar otak untuk menggunakan uang sebagai modal usaha. Mungkin kau bisa membuka usaha sembako di depan rumah kita karena di sini memang belum ada yang menjual sembako," saran Sahat.


Sejak lama, Sahat memantau permukiman di kampung itu, bahkan belum ada terlihat tempat usaha untuk menjual sembako.


"Ide yang bagus, Pak mungkin saja itu peluangnya bagus di daerah sini, beda sama lingkungan di rumah kita dulu," jawab Rosma, mengulum senyum tipis.


Rosma pun mulai matang memikirkan untuk usaha baru mereka. Saat memperkirakan budget awal untuk membuka usaha tersebut dan ia sudah mulai merinci pengeluaran yang akan mereka gunakan untuk sementara waktu, mereka akan membuka usaha sembako kecil-kecilan yang paling banyak dicari oleh warga sekitar terutama seperti beras, telur, ,minyak goreng dan lain-lain


"Yaudah, Pak mulai besok kita akan cari grosiran yang akan bisa memasok bahan sembako untuk membuka warung kecil-kecilan, sepertinya rumah ini sangat cocok sih. Apalagi berada di tengah-tengah permukiman warga," jelas Rosma, semakin yakin dengan usaha baru yang di mininati oleh suaminya.


"Iyalah, bagus itu biar peluang pendapatan kita, semakin tinggi karena gaji bapak kan sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk 2 hingga 3 tahun ke depan. Karena kalau uang tabungan itu habis, bisa-bisa si Parulian tidak akan bisa kuliah," sambar Sahat.


****


ceklek...


Baru aja Defan keluar dengan mata berbinar dari kamar mandi, saat istrinya tengah berbaring di atas ranjang. Ia menelisik tubuh molek istrinya dengan tajam. Lalu, mulai mendekati wanita itu.


"Sstt ... jauh-jauh sana." Dira langsung tahu maksud suaminya yang mencoba mendekati.


Defan mencoba menggoda lewat kode-kode yang terus dilayangkan pada ustrinya, ia meminta jatah malam ini karena rasanya sudah sangat lama ia tidak bercumbu dengan istrinya dan sepertinya ini momen yang tepat karena ia telah merasakan kelelahan. Satu-satunya jalan untuk merilekskan tubuh adalah berhubungan dan menyentuh tubuh sang istri.


"Sayang, ayolah!" ajak Defan seraya mengerlingkan mata.

__ADS_1


__ADS_2