
"Bang, tadi kawanku nanya loh, kita jadi kan hari sabtu liburan?" tanya Dira to the point.
"Liburan, ya? Hmm ... jadi kok. Packing aja barang-barangnya dari sekarang, biar nggak ada yang kelupaan. Jangan lupa, barang abang juga tolong disiapkan ya, sayang?" pinta Defan.
"Iya, abang suamiku!! Terus, kita mau berangkat jam berapa? Kawan-kawanku sih ngusulin subuh, bang. Jadi pas sampai di sana sudah pagi, kita bebas mau ke mana aja," imbuh Dira memberikan usul.
"Hmm ... gitu ya, nanti kita bicarakan lagi di rumah, ya, sayang? Abang masih kerja! Pokoknya jadi kok kita berangkat." Defan mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
"Bang, Bang—" ucapan Dira terhenti saat mendengar nada tut dari speaker telepon itu.
"Ih, kebiasaan deh abang! Suka kali matiin tiba-tiba, belum juga orang beres bicara," gerutu Dira, berguling-guling di atas ranjang.
Dira langsung memulai panggilan grup. Tak lama kemudian, wajah Carol muncul di layar, disusul dengan kemunculan wajah Jenny, hingga terakhir kali adalah wajah Shinta.
"Ada kabar apa nih? Tumben tiba-tiba panggilan grup," celetuk Jenny, memicingkan mata yang terlihat dari layar.
"Kabar baik tentunya, Jen!"sambung Shinta, ikut meramaikan.
Kedua perempuan itu senang sekali untuk berheboh-heboh ria. Bukan Jenny dan Shinta namanya jika mereka tidak seheboh biasanya.
"Tenang kelen di situ, belum pun aku bicara, udah ribut kali kelen dua," racau Dira, mengomeli dua sahabatnya.
Sementara, Carol hanya diam mengamati, menunggu kabar dari orang yang memulai panggilan grup itu.
"Cepat, Dir, jangan lama kali bicaranya," singgung Carol, tak sabaran.
"Iya, iya. Jadi gini, we! Abang Defan pokoknya sudah setuju kalau dua hari lagi kita berangkat. Nah, kelen siapkan lah barang-barang yang mau dibawa. Soal keberangkatan, tadi udah ku usulkan berangkat subuh. Cuma abang belum kasih kepastian jam berapa kita berangkat," pungkas Dira panjang lebar.
"Asikkk!!." Jenny dan Shinta mengucap secara kompak. Bahkan mereka terkikik geli dengan tingkah mereka yang sangat kompak itu.
"Baguslah, apa kami nginap di rumahmu aja besok, Dir?" usul Carol.
__ADS_1
"Kok nginap di rumahku?" tanya Dira kebingungan.
"Biar lusa berangkatnya nggak perlu jemput ke sana–ke mari loh! Makan waktu tahu, kalau jemput-jemput kami lagi," sergah Carol dengan ide cemerlang.
"Betul juga tuh, Dir. Kami tidur di kamar tamu, satu kamar pun bisa kami bertiga," lanjut Jenny menimpali.
"Hmmm ... nantilah itu, ku tanya malam ini sama bang defan. Aku nggak bisa langsung jawab iya, karena kepala keluarga di rumah ini kan suamiku. Bukan aku hehe," tampik Dira terkekeh.
"Iya, yaudah kau tanyalah sama suamimu. Maksudnya, kalau kita berangkat subuh, misalnya jam 3 pagi, kan jadi nggak repot mau jemput ke rumah kami lagi. Kita langsung cus! Berangkat!!" ungkap Carol tersenyum lebar.
"Hmm ... gitu, ya? Besok lah ku pastikan, ya, we? Nanti malam ku tanya lagi suamiku. Yang pasti kelen siapkan lah barang bawaan. Jangan lupa banyak bawa jaket, dingin pasti di sana." Dira langsung mematikan panggilan grup tersebut.
Wajah Dira menghilang dari pandangan ketiga sahabatnya. Namun, Carol, Jenny dan Shinta masih tersambung pada panggilan grup. Mereka meracau kesenangan.
"Eh, cepat kali si Dira itu matikan teleponnya," keluh Shinta.
"Biarkanlah dia, pasti mau siap-siapin barang tuh. Banyak barangnya sama barang suaminya," ujar Jenny, sok tahu.
"Eh, jadi serius kita nih nggak perlu bawa uang?" imbuh Shinta, matanya berbinar kalau membicarakan uang, sebab tak perlu biaya dikeluarkan saat berjalan bersama pasutri yang kaya raya itu.
"Iya, betul tuh. Bawa aja untuk jaga-jaga. Mana mungkin semua biaya dikeluarkan suami si Dira," ungkap Jenny, mulai bijak.
"Kau bawa berapa kira-kira, Jen?" sambar Shinta memastikan.
"Hmm ... aku bawa 200 ribu sudah cukuplah! Itu pun buat jaga-jaga aja, nanti merepet mamakku kalau kuminta banyak-banyak hehe," kilah Jenny terkikik geli.
"Iya, akupun galau, mamakku nggak mau ngasih uang selama kita libur ini. Jadi nggak pernah jajan aku, di rumah pun nggak ada cemilan," cibir Shinta.
"Bah, jadi kau sehari-hari di rumah aja? Nggak jajan, nggak ngapa-ngapain, apa nggak bosan kau, Shin?" cecar Jenny.
"Bosan kali aku, makanya pengen cepat-cepatlah masuk kuliah." Shinta menggaruk-garuk tengkuknya yang terasa gatal.
__ADS_1
"Udahlah itu we, bentar laginya kita kuliah. Sabar kelen." Carol menatap seraya melayangkan senyum lebar.
"Ya, kau enak sabar, uang mamak, bapakmu banyak! Mau jajan pun suka-sukamu. Kalau kayak kami ini, mana sebebas kau," desah Shinta menatap sinis ke arah Carol melalui ponsel.
"Hehe, yaudahlah ... intinya sekarang kita siap-siap aja! Jangan ada yang kelupaan, siapa tahu besok kita jadi menginap di rumah si Dira, biar nggak dadakan kali loh," sahut Carol.
"Iya, iya, udahlah, kita matikan panggilan grup ini ya?" timpal Jenny, memencet tombol merah, mematikan sambungan telepon.
"Iya, bye Carol," ucap Shinta, lalu mematikan sambungan itu juga saat mereka sisa berdua.
Carol hanya melayangkan senyuman, setelah panggilan terputus, ia langsung mengambil ransel, memasukkan baju, celana, jaket, dalaman serta kebutuhan lainnya untuk dibawa. Sama halnya dengan Jenny dan Shinta.
******
Di dalam kamar, Dira dari tadi asik memilih-mulih baju yang akan ia bawa untuk honeymoon kedua bersama suaminya. Eh, apakah benar honeymoon kedua? Padahal honeymoon pertama mereka tidak melakukan apapun?
Dira membuyarkan pikiran yang larut tentang honeymoon saat berkemas. Lalu, ia memasukkan semua barang ke dalam koper kecil.
Satu koper cukup mengisi baju Dira dan Defan yang menyatu di dalam. Dira melipat dengan rapih, agar koper itu muat. Terutama saat mengisi jaket-jaket tebal, butuh effort yang besar saat Dira melipat dengan lipatan yang kecil.
Haahhh
Dira menarik, lalu membuang nafas kasar. Ia cukup berkeringat hanya memacking barang-barang bawaan. Baju-baju yang pernah terposting dalam media sosial, sengaja tak ia bawa lagi untuk dikenakan saat liburan.
Ia lebih memilih baju kasual, celana jeans, kaos biasa untuk berlibur pada dua hari mendatang. Setelah semua lengkap, Dira akhirnya merebahkan diri di atas ranjang.
Tak terasa sudah siang hari, saatnya Dira mengisi perut yang mulai memunculkan bunyi krok-krok pertanda perutnya tengah lapar.
Baru saja, Dira hendak beranjak dari kasur. Ponselnya tiba-tiba berdering.
Drrtt Drtt
__ADS_1
Getaran ponsel itu mengalihkan padangan. Ternyata, ada satu panggilan dari pria yang sudah sangat ia cintai.
"Iya, suami, ada apa?" tutur Dira, kembali merebahkan diri di atas ranjang, menatap langit-langit.