
"Aku hari ini mau makan banyak! Mumpung ditraktir si Dira," ucap Shinta penuh keangkuhan seraya merangkul pundak Dira.
Siang itu, mereka baru istirahat pertama. Dira yang sudah berjanji untuk mentraktir ketiga sahabatnya itu, ia langsung dikerumunin setelah bel berbunyi.
Dira melirik jam tangannya, istirahat pertama mereka jam 12 siang. Perutnya bahkan sudah terasa sangat lapar.
"Ayo buruan!" ajak Dira dengan semangat menggebu.
Mereka berempat berjalan beriringan hingga koridor sekolah tak lagi memiliki ruang untuk jalan anak lainnya.
"Minggir! Makan jalan kali pun kelen," sinis salah satu anak yang melintas.
Dira dan Carol maju kedepan, mereka membuat dua baris, khawatir anak-anak lainnya juga protes. "Nanti pulang sekolah kumpul yok?" ajak Carol karena telah lama mereka tidak memiliki waktu berempat.
"Iya, si Dira semenjak mau menikah sampai udah menikah nggak ada pernah waktu sama kita," sindir Jenny memutar bola matanya merasa jengah. Ia menatap tajam sahabatnya itu, entah apalagi alasannya untuk mengelak.
"Kayanya—"
"Eits!! Nggak ada kata kayanya-kayanya," sela Shinta memotong pembicaraan Dira.
Dira menatap sinis ketiga temannya. Tapi ia sudah memiliki janji pada suaminya kalau mereka akan mengecek rumah pemberian mertuanya hari ini.
"Sorry! Tetap nggak bisa hari ini," sesal Dira tertunduk.
"Ada rencana apalagi kau?" cetus Carol menepuk bahu Dira pelan.
"Aku udah ada janji hari ini. Gimana dong?" Dira menatap haru ketiga sahabatnya. Ia sebenarnya tidak ingin menolak ajakan teman-temannya, tetapi Defan lebih dulu mengajaknya untuk mengecek rumah mereka nanti.
"Sama suamimu ya?" cecar Shinta.
Dira mengangguk lemah sekaligus merasa sesal. "Maaf," lirihnya tertunduk.
"Slow dong! Kaya nggak ada waktu lain!" tegas Jenny menggulum senyum lebarnya. Ia mengerti kalau sahabatnya bukan lagi anak kecil seperti mereka yang bebas pergi kemanapun ia mau.
"Emang kau mau kemana?" lontar Carol penasaran.
Dira berpikir sejenak, bila ia ungkapkan untuk mengecek rumah maka teman-temannya mengira ia sengaja pamer lagi.
"Ehmmm ... bilang ga ya?" ledek Dira seraya berlari mendekati kantin yang sudah ada didepan mata mereka.
__ADS_1
Ketiga sahabatnya ikut mengejar kepergian Dira. Sampai akhirnya mereka terduduk di salah satu meja di sudut ruangan.
"Mau pesan apa aja nih?" tawar Dira pada tiga sahabatnya. Ia mengedarkan pandangannya, meneliti satu-persatu apa saja yang menarik untuk mengisi perutnya yang kosong.
"Aku mie goreng," seru Jenny.
"Aku ... Kwetiaw goreng deh," timpal Shinta.
"Kalau aku apa ya? Aku bingung hehe ... Itu aja deh, pop ice sama nasi goreng," sambung Carol.
"Oke! Kalau gitu aku pesan ke sana. Nggak ada tambahan lagikan?" tutur Dira.
Ketiganya menggeleng kompak. Dira akhirnya beranjak dari kursinya, ia memesan makanan sesuai permintaan mereka. Kemudian ia menambahkan pesanan untuk dirinya sendiri yaitu bakmi ayam.
Setelah bu kantin mencatatkan pesanannya, Dira melakukan pembayaran agar nantinya tidak lupa. "Makasih bu." Dira menunduk mengulas senyumnya.
Kemudian ia menghampiri ketiga temannya yang sedang asik memainkan ponselnya masing-masing. "Tunggu bentar, lagi dibikinin sama bu kantin," ujar Dira ketika mendapat sorotan tajam dari tiga temannya.
"Eh Dir ... Kami masih penasaran, kau mau ngapain rupanya nanti janji sama bang Defan," celetuk Jenny mengingatkan.
"Oh itu ... Aku diajak cek rumah yang akan jadi tempat tinggal kami nanti," jawab Dira jujur.
Ketiga sahabatnya itu menjadi heboh. Mereka menyeru sehingga membuat kebisingan dalam ruangan kantin.
"Enak dong! Please kita bisa main kesana ya?" usul Shinta menatap binar berharap Dira mengizinkannya.
"Hu'um! Bolehlah! Biar bebas, apalagi kalau bang Defan kerja, kalian bisa tiap hari ke rumahku hahahah," timpal Dira terkekeh.
"Iya juga ya! Pasti seru nih," lontar Jenny.
"Eh dimana rumahnya Dir?" cakap Carol semakin penasaran.
"Nggak jauh kok dari sekolah kita. Itu kata amang simatuaku sih. Kan aku baru mau cek nanti," akunya.
"Loh emang rumahnya dari simatuamu?" cecar Shinta.
Dira mengangguk seraya tersenyum lebar.
"Udahlah! Memang banditnya si Dira ini. Udah punya ATM nasabah prioritas, sekarang rumahpun dikasih mertuanya! Kau sangat beruntung sobat." Carol menepuk bahu Dira dengan keras.
__ADS_1
"Awwww!" pekik Dira kesal.
"Pelan-pelan dong Carol! Kau ini ngatain aku daritadi bandit-bandit! Emangnya aku bandit jalanan cih," decit Dira semakin sebal.
"Kau memang bandit Dir, bisa-bisanya kau dapatkan laki-laki kaya seperti bang Defan," serang Jenny.
"Dir ... Dir ... Mimpi apalah kau dulu sampai bisa mendadak jadi orang kaya," kelit Shinta tak mau kalah.
"Jadi kelen semua nggak terima?" sosor Dira memasang wajah penuh amarah.
Suasana tampak menegang tetapi ketiga teman-temannya itu tiba-tiba terbelalak setelah saling memandang satu sama lain.
"Justru kami senang! Huhhhhhhh," teriak Carol diikuti oleh kedua sahabatnya yang lain sampai meja kantin menjadi korbannya karena terus digebrak-gebrak oleh tiga orang gadis itu.
******
"Ini pak kameranya." Psikater itu menyodorkan kamera milik Defan yang dititipkannya sebelum dokter masuk ke ruangan bersama Shaira.
Defan dengan sigap meraih kamera itu. Membuka isi file di dalamnya. Ia merasa lega setelah melihat satu rekaman berisi wajah Shaira. Ia nyalakan rekaman itu, lalu menggulum senyum lebar di wajahnya.
"Terimakasih dok! Tanpa bantuan dokter saya tidak akan bisa mendapatkan rekaman ini." Defan mengulurkan tangannya dan diraih oleh sang dokter. Mereka berjabat tangan saling melempar senyum.
"Pak, Shaira masih perlu dirawat disini. Saya masih harus menanganinya. Dia mengalami trauma yang sangat berat," keluh Psikiater itu.
"Nggak masalah dok. Tolong tangani Shaira. Rawat dia sebaik mungkin agar mentalnya membaik. Dan dia bisa berbaur dengan anak-anak seusianya," tutur Defan.
"Kalau begitu saya pamit dulu dok," sambung Defan.
Dokter itu mengangguk, dia pun kembali masuk ke dalam ruangan dimana Shaira berada.
Defan mendekati kedua orang tua Shaira. Di sana, ia juga berpamitan pada mereka.
"Pak, Bu, saya pamit dulu. Shaira harus dirawat. Ibu dan Bapak tidak perlu memikirkan biayanya. Cukup pikirkan saja bagaimana Shaira cepat pulih dan membaik," jelas Defan mengulurkan tangannya sebagai bentuk perpisahan mereka.
"Terimakasih pak Defan." Ayah Shaira meraih uluran tangan itu, menjabat tangannya dengan senyum di sudut bibirnya.
"Oh ya, besok sidang berlangsung. Bapak dan Ibu bisa menghadirinya atau salah satu dari kalian juga bisa," tandas Defan seraya pamit undur diri.
"Baik pak!" sahut Ayah Shaira melambaikan tangannya pada pengacara itu.
__ADS_1
Defan berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Sesekali ia mengecek jam ditangannya. Baru jam 12 siang, ia akan mampir untuk makan siang dulu sebelum balik ke kantornya.
Dalam perjalanannya, Defan tersenyum sumringah. Ia tak takut lagi menghadapi sidang esok. Bukti terkuat dalam persidangan itu telah ia miliki.