Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
mie gomak


__ADS_3

Dira yang mendengar teriakan samar-samar akhirnya membuka mata. Ia mencium bibir suaminya, membangunkan dengan lembut.


"Bang, bangun! Buruan siap-siap! Kita mau berangkat. Sudah hampir jam 3 loh." Dira menggoyangkan tubuh pria itu, setelah melepaskan dekapan. Namun, pria itu tak juga terbangun.


"Abang! Bangun!" teriak Dira sampai mengejutkan Defan.


"Hah? Kenapa, sayang?" ujar pria itu, seraya mata masih menyipit.


"Bangun! Kita mau berangkat, mandi dulu nggak?" balas Dira.


"Hm ... malas mau mandi jam segini, langsung ganti baju aja." Defan beranjak dari ranjang, menuju lemari. Mengambil sepasang baju kasual untuk dipakai berangkat menuju Toba.


Sama halnya dengan Dira, dirinya juga langsung mengganti baju kasual agar memudahkan untuk berjalan-jalan. Mereka berdua keluar kamar bersamaan. Di ruang tamu, ketiga wanita remaja telah menunggu kedatangan mereka dengan barang bawaan masing-masing.


Ada yang sudah menenteng jaket agar nantinya tak peru mengeluarkan lagi dari dalam tas. Ada yang memakai topi rajut dan syal, bahkan masih ada yang santai dengan wajah terkantuk-kantuk.


"Ayo, bang, Dir." Jenny berjalan terombang-ambing karena rasa kantuk yang tak tertahankan.


Mereka berlima langsung menaiki mobil yang berbeda kali ini. Biasanya Defan menggunakan mobil sedan audi.


Kali ini, Defan mengeluarkan mobil jeep wrangler rubicon keluaran terbaru. Mobil itu sengaja Defan pakai untuk petualangan mereka yang dimulai hari ini.


"Wah ... keren kali mobil ini," puji Carol saat Defan membuka cover yang menutupi mobil, ia sengaja menyimpan di parkiran, dan dipakai khusus untuk bepergian jauh.


"Iya, ya!" sahut Jenny takjub, sampai matanya terbuka lebar, rasa kantuk juga seketika menghilang.


Setelah itu, mereka semua naik ke dalam mobil. Defan fokus menyetir setelah rasa kantuk menghilang.


Untungnya, Defan sangat fasih tentang jalanan terjal menuju Danau Toba. Mereka hanya perlu berhati-hati, lantaran di sana masih sangat rawan serta jalanan berada di tepian jurang.


Oleh karena itu, Dira tetap terjaga meski rasa kantuk masih menyelimuti. Ia tak ingin suaminya meleng saat mengendarai mobil tersebut.


"Bang, mampir ke minimarket dululah. Mau beli cemilan biar nggak ngantuk," ujar Dira, menatap suaminya dengan datar.


Defan hanya mengangguk. Tak jauh dari posisi mereka, Defan langsung memarkirkan mobil itu di halaman minimarket. Beruntung, ada minimarket yang masih buka selama 24 jam.

__ADS_1


Ketiga teman Dira malah tertidur di belakang. Sementara, Dira bersama suaminya masuk ke dalam minimarket, membeli cemilan serta minuman kemasan untuk menemani semasa perjalanan beberapa jam ke depan.


"Yang, beli minuman kopi, biar abang nggak ngantuk," imbuh Defan.


Dira memasukkan beberapa jenis minuman kopi agar suaminya tinggal memilih. Snack-snack favorit juga di masukkan ke dalam keranjang.


Setelah semua belanjaan mereka pilih, Defan melakukan pembayaran, lalu mereka berdua masuk lagi ke dalam mobil.


Selama 4 jam menyetir, akhirnya tiba di sekitar Danau Toba. Namun, mereka masih melakukan penyeberangan menaiki kapal feri. Selama perjalanan itu, ketiga sahabat Dira masih tertidur pulas tanpa mengetahui keberadaan mereka.


Saat terbangun, hari telah terang, ketiganya keluar dan sudah berada di dalam kapal feri. "Eh, bangun-bangun, ayo keluar," ujar Dira saat mereka memasuki kapal feri.


Ketiganya langsung membelalakkan mata, menatap Dira dengan mata yang masih menyipit. Tak lama, mereka membulatkan bola mata.


Mereka semua keluar, melihat pemandangan Danau Toba saat berada ditengah-tengah. Air danau yang berwarna kehijauaun, bersih, dan banyak ikan-ikan memang menarik perhatian.


Tak heran, banyak touris wisatawan lokal dan mancanegara yang jauh-jauh datang berkunjung ke danau toba. Setelah melakukan penyeberangan, mereka tiba di daratan.


Lalu, mereka melanjutkan perjalanan. Tujuan utama adalah Samosir Vila Resort. Vila yang berada di tepian Danau Toba itu tak perlu merepotkan para pengunjung.


Dari dalam Vila, pemandangan yang didapatkan adalah bukit, jadi sangat indah dan menyejukkan. Belum lagi, suasana di sana sangat dingin.


Dira bersama suami dan ketiga teman-temannya sudah memakai jaket tebal agar tak merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.


Pagi itu, Dira sangat antusias untuk sarapan. Perutnya sudah terasa lapar, padahal semasa perjalanan ia sudah memakan banyak cemilan.


"Abang, aku pengen mie gomak. Mie di sini khas, apalagi bumbunya pakai andaliman! Ayo beli dulu," rengek Dira, saat semua barang telah tersimpan di dalam vila.


"Kenapa nggak dari tadi sih. Tadi kan bisa mampir beli dulu, makan di kamar," gerutu Defan, sangat malas sekali rasanya harus mengeluarkan mobil lagi.


"Please!!" Dira memasang wajah memelas sehingga suaminya merasa tak tega.


"Kalian bertiga mau ikut keluar lagi?" tawar Defan saat ketiga sahabat Dira tengah menikmati pemandangan.


"Ikut!" teriak ketiganya kompak.

__ADS_1


Dengan rasa malas, Defan diekori keempat wanita remaja itu langsung berjalan keluar vila. Menghampiri mobil yang terparkir di halaman. Ketiganya langsung mencari pedagang mie gomak di sekitar vila.


"Abang, itu ramai, biasanya kalau ramai pasti enak." Dira menunjuk salah satu pedagang di pinggir jalan.


Meski masih pagi, pedagang itu bahkan sudah dikerumuni oleh pembeli yang bolak-balik berdatangan. Bahkan, pembelinya tak habis-habis.


Defan bersama keempat wanita itu terpaksa harus mengantri demi mendapatkan satu piring mie gomak khas Samosir.


"Pesan 5 bu," ujar Defan setelah mendapat giliran antrian.


Dira sudah tak sabar menyantap makanan khas tersebut. Walaupun mie gomak banyak ditemukan di Medan tetapi rasanya berbeda.


Mie yang digunakan para pedagang di daerah Toba itu jelas berbeda. Mereka memiliki mie lidi yang khas dan rasanya sangat nikmat. Terlebih, bumbu kuah santan yang dibalut sambal andaliman menguatkan rasa mie gomak tersebut.


Pedagang langsung mengantarkan lima pesanan mie gomak untuk Defan dan empat wanita yang asik mengobrol. Dengan semangat menggebu, Dira langsung menyantap mie gomak yang kuahnya masih terasa panas.



...mie gomak...


Satu mangkok mie gomak, dengan kuah santan kental berwarna kuning, dilengkapi sayur jipang dan sambal merah andaliman membuat kuah menjadi agak kemerahan serta satu telor rebus melengkapi sarapan Dira, suami dan teman-temannya, pagi itu.


Dira menyeruput kuah segar yang terasa pedas dengan cita rasa sedikit manis serta getaran pedas dari rasa andaliman. Semakin semangat Dira, setelah menghabiskan satu porsi mie gomak.


Lalu, ia meminta agar pedagang membawakan satu porsi lagi karena ia belum merasa kenyang. "Bu, satu lagi."


Seketika, Defan dan teman-teman Dira menoleh. Ada juga yang menggeleng-geleng.


"Satu porsi udah banyak kali loh, Dir! Masa belum kenyang juga," protes Shinta.


"Ssttt! Biarin aja!" sambung Jenny, lalu tertawa penuh kegirangan.


Tak berselang lama, pedagang membawakan satu porsi tambahan. Dira dengan lahap menghabiskan mie gomak itu sampai ia kekenyangan.


"Mantap kali memang mie gomak ini." Dira mengacungkan dua jempol, membuat Defan tersenyum lebar diikuti oleh ketiga teman lainnya.

__ADS_1


__ADS_2