
Defan langsung kembali ke kamar. Di sana, ia menatap gadis kecilnya telah tertidur pulas. Rasa lelah terlihat di wajah. Defan langsung menarik selimut yang tampak acak-acakan karena terus bergeser. Ia menyelimuti tubuh Dira agar lebih hangat.
Namun, setelah itu, Defan langsung bergegas mengganti baju dengan kemeja dan celana panjang. Ia mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas nakas. Sebelum pergi meninggalkan Dira, Defan mencium dahi perempuan itu sangat lembut.
"Aku pergi sebentar, ya, sayang!" bisik Defan, tak ingin membangunkan Dira.
Ia berlari keluar rumah, sudah jam 10.30 malam, Defan berada di lantai basement. Disana, ia langsung memutar kemudi stirnya dan menginjak pedal gas agar mobil itu melaju keluar dari parkiran.
Tak sampai 10 menit, Defan sudah berada di lobi S.N.G Lawfirm. Kantor sudah sangat sepi, entah mengapa Juni masih bersedia lembur hingga menjelang tengah malam.
"Jun, sudah kau cari ke semua tempat?" kata Defan setengah berteriak saat menarik daun pintu ruangan.
"Sudah pak tapi tidak ditemukan dimana pun. Terakhir kan bapak yang pegang?" jawab Juni mengedarkan pandangan. Menatap Defan yang masih tergesa-gesa saat tiba di ruangan itu.
Juni masih menuntaskan masa magang. Tinggal beberapa bulan lagi, akan rampung dan ia bisa menjadi seorang pengacara seperti Defan. Selama setahun terakhir, Juni sangat membantu pekerjaan Defan dalam menangani kasus.
Kerjanya cekatan, mampu menganalisis kasus dengan cepat, dan membantu Defan menyelidiki bukti-bukti. Tak heran, jika Defan mengapresiasi kinerja Juni.
Namun, ruangan Defan dan Juni tetap menyatu. Tidak ada ruangan khusus bagi Juni, oleh karena itu selama setahun terakhir Juni sangat mengagumi Defan sebagai bos. Kinerja Defan sangat acungi jempol. Mampu menghasilkan pundi-pundi dari hasil kemenangan dalam menangani berbagai kasus.
******
Dira tiba-tiba terbangun dari tidur. Ia meraba ranjang di samping, tidak ada tanda-tanda tubuh Defan berbaring di sana. Dira mulai membulatkan bola matanya, menatap ranjang dan seisi ruangan.
Defan benar-benar pergi dan tidak kelihatan. Akhirnya, Dira beranjak dari kasur, mencari sosok suaminya di dalam kamar mandi. Namun, tidak ada juga.
Ia bahkan sampai keluar kamar, mencari di semua tempat tapi suaminya benar-benar menghilang.
"Bang Def? Abang? Abang, dimana?" teriak Dira mengedarkan pandangan. Dira pun kembali ke kamar, saat itu sudah jam 12 malam, Defan tidak ada di rumah. Ia mengambil ponsel yang ada di atas nakas.
Menghubungi suaminya dengan panik. Karena tak ada izin darinya sebelum meninggalkan rumah.
"Halo, Abang di mana sih? Kok pergi nggak bilang-bilang," gerutu Dira saat telepon itu sudah diterima.
__ADS_1
"Maaf, sayang, abang lagi di kantor. Nggak tega mau bangunin kau tadi. Ada berkas kerjaan abang yang hilang. Bentar lagi abang pulang, ya!" jawab Defan menenangkan setelah keluar dari ruangan untuk menjawab telepon Dira.
"Harusnya, abang bangunin aku lah! Jangan ngilang gitu aja!" Dira pun menjadi kesal pada pria itu.
"Iya, maaf, sayang. Abang, tadi buru-buru. Udah dulu, ya. Kau tidur aja, bentar lagi abang sudah di rumah." Defan mematikan sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Dira.
"Abang! Abang—" Dira hanya terdiam setelah mendengar nada tut dari seberang telepon. Ia hanya menatap layar ponsel yang mulai gelap dengan rasa kesal.
Kebiasaan Defan mulai kumat, baru saja tadi mereka berdua bermesraan. Kini sudah membuat Dira berang lagi.
*****
Defan kembali mencari berkas itu. Ia memang mengingat kalau besok pagi ada jadwal sidang dengan kasus itu. Semua sudah berada di luar kepala sehingga meski berkas itu menghilang, Defan tetap bisa melanjutkan sidang perkara tanpa berkas tersebut.
"Pak, bagaimana?" tanya Juni setelah merasa menyerah dan frustasi.
"Pulang saja! Semua bahan sudah ada diluar kepala saya. Mungkin kita coba besok mengikuti sidang tanpa berkas," jawab Defan singkat.
"Kau ikut saya saja, nanti saya antarkan sampai rumah. Sudah tengah malam begini, tidak enak anak gadis berkeliaran tengah malam," ucap Defan saat berjalan beriringan dengan sang asisten.
"Baik, pak!" Juni mengekori Defan. Meski ada rasa tak enak berduaan dengan bosnya tersebut. Namun, karena situasi tidak mendukung kepulangannya, dengan terpaksa Juni menerima tawaran Defan untuk pulang bersama.
Setibanya di perparkiran, Defan membukakan pintu untuk Juni. Perempuan itu pun merasa sangat istimewa, bosnya begitu perhatian padanya. Bahkan, Defan menghalangi kepala Juni dengan tangannya agar tidak terbentur bagian sisi penutup pintu.
Satu hal yang Juni ingin ketahui, apakah diusia mapan pria itu, benarkah dia sudah memiliki istri? Juni tak pernah mengetahui status Defan. Meski mereka satu ruangan bersama, Juni tak pernah melihat sosok istri Defan yang menyambangi ke kantor ataupun ketemu di luar kantor.
"Pak, terimakasih sudah mau mengantarkan saya!"
*********
Dira sedang termenung menunggu kehadiran Defan. Tak ada pesan maupun panggilan dari suaminya. Setelah memasuki jam 2 pagi, akhirnya Dira memberanikan diri untuk menghubungi Defan.
Drrrtt Drtttt
__ADS_1
Ponsel Defan yang sengaja ia simpan di depannya pun di lirik oleh Juni. Satu panggilan dilewatkan oleh Defan.
Jam dua pagi begini, siapa yang berani nelpon bapak itu? Dira namanya, apa dia istri pak Defan?
Juni bergumam seorang diri, sesekali menoleh pada wajah tampan di samping. Meski wajah itu tengah frustasi memikirkan persidangan esok, entah mengapa wajah Defan sangat memikat bagi Juni.
Drrrtt drrrt
Telepon milik Defan bergetar kembali. Juni akhirnya memberanikan diri untuk mengeluarkan suara. "Pak, ponselnya dari tadi bergetar."
"Oh ... ya!" Defan pun menjawab panggilan Dira dengan gugup. Ia sengaja mengabaikan panggilan Dira saat pertama tadi lantaran Dira pasti mengamuk.
"Iya, Dir? Kenapa?" jawab Defan dari seberang telepon.
"Abang, di mana sih? Udah jam 2 pagi loh, belum pulang juga," ucap Dira setengah berteriak.
"Bentar lagi, tunggu aja. Ini sudah di jalan," jawab Defan singkat lalu memutus sambungan telepon.
"Istri, bapak?" celetuk Juni singkat.
"Iya." Defan pun meletakkan telepon itu, lalu fokus kembali menyetir.
Sementara Juni sedang menggerutu seorang diri. "Sialan! Ternyata benar kalau pak Defan sudah punya istri. Tapi kenapa nggak pernah dibawa ke kantor?" gumam Juni memalingkan wajah ke arah jendela kaca mobil di sisi kiri.
"Sudah sampai Jun, besok jam berapa sidangnya?" tanya Defan, sebelum perempuan itu keluar mobil.
"Besok jam 9 pagi pak, saya langsung ke pengadilan saja? Atau berangkat dari kantor bersama bapak?" tutur Juni menatap lekat bos idaman itu.
"Besok kita sama-sama aja!" Siapa tahu berkasnya ketemu di kantor," jawab Defan singkat lalu mempersilakan Juni untuk keluar mobil.
"Baik, pak! Terimakasih banyak sudah mengantar saya," pamit Juni lalu melangkahkan kaki keluar mobil. Ia bahkan melambaikan tangan pada pria itu.
"Gila, beruntung kalilah cewek yang jadi istri pak Defan, perhatian gitu. Sama orang lain aja perhatian, apalagi sama istrinya," batin Juni lalu masuk ke dalam kost-kostan dua lantai tempat ia tinggal.
__ADS_1