Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
berkas hilang


__ADS_3

Dira mengelus pucuk kepala suaminya dengan lembut, sesekali ia juga melihat tayangan tv yang tak jelas siarannya.


"Kayaknya kita mending ke kamar lagi deh," tutur Defan mengerling.


"Kenapa, bang?" sahut Dira belum mengerti maksud pria itu.


"Ehmmm ... karena kalau disini, bukan kita yang nonton tv malah tv yang nonton kita," kekeh Defan.


"Bentar lagi deh, aku sumpek di kamar terus, bang!" ujar Dira menatap lekat suaminya.


"Yaudah, aku ngalah. Tapi, ada yang mau aku tanyain, boleh?"


"Tanya apa, bang?" Dira pun menatap begitu serius.


"Kau emang benar hampir dua tahun ini pakai KB?" Defan menengadahkan kepala, mata elangnya beradu dengan manik indah milik Dira.


"Iya benar, bang, tapi KBnya terakhir harusnya aku suntik akhir bulan kemarin. Aku lupa, mungkin sekarang udah nggak ada efeknya," jawab Dira mengerutkan dahi tampak seolah-olah sedang berpikir.


"Hmmm ... berarti hidup aku sebenarnya plot twist dong! Kalau tahu kau memang pasang KB, kita bisa anu-anu sejak lama," keluh Defan tersenyum kecut.


"Yeee, itu emang maunya abang! Makanya aku nggak pernah cerita kalau aku sudah KB," ungkap Dira mencubit pipi gemas suaminya.


"Tapi kan, kau KB untuk apa coba? Untuk aku kan?" cecar Defan semakin menatap kesal istrinya.


"Iya, sih! Untuk, abang! Itu hanya penjagaan sementara aja kok! Takut terjadi apa-apa sebelum aku lulus," imbuh Dira menyengir kuda.


"Lain kali, kalau mau melakukan sesuatu itu harus izin suami, ya! Oke?" lontar Defan mengecup cepat bibir mungil milik istrinya.


"Iya ... iya ... lagian itu sudah berlalu, bang! Ngapain juga abang protes lagi. Yang penting sekarang aku sudah nggak KB, jadi tetap bisa kasih cucu buat amang dan inang," balas Dira panjang lebar.


"Iya, sayang! Nggak masalah kok kalau kau langsung hamil atau tidak, yang penting aku menyayangimu!" seloroh Defan mengungkapkan perasaan untuk pertama kali.


"Yakin sayang? Bukan sayang yang lain kan?" cemooh Dira.

__ADS_1


"Sayang siapa lagi? Sayang aku cuma satu kok, Dira Tampubolon," kata Defan penuh penekanan. Ia pun mengangkat tubuhnya, meluma*t bibir kenyal istrinya.


Dira hanya bisa pasrah dengan kelakuan Defan yang semakin menjadi-jadi. Tak ada rasa malu ataupun sungkan. Ia terus saja menyerang Dira.


Pagutan bibir mereka terus menempel, bibir itu sangat kenyal sehingga membuat Defan ketagihan untuk terus menyesapnya. Kedua pasangan itu benar-benar tengah di mabuk asmara. Malam pun bahkan terasa begitu singkat bagi mereka.


"Di kamar aja, yuk, lanjutnya?" tawar Defan setelah melepaskan pagutan bibir mereka.


"Ih, nanti malam macam-macam lagi, abang!" ketus Dira menolak dengan tegas.


"Ah, ayo dong, sayang! Ciuman tadi sudah membius sesuatu dibawah sana!" Defan pun menunjuk ke arah pangkal paha.


"Apaan sih, bang!" Dira menepuk dada Defan dengan kepalan tangan. Ia bahkan masih malu-malu, tak siap dengan kelakuan Defan yang terus menginginkan hal itu.


"Ayo, dong! Kalau gitu, kita pindah ke kamar aja deh! Abang, janji nggak minta anu-anu." Defan mengangkat dua jari membentuk V sebagai perjanjian.


"Benar ya! Awas loh kalau abang maksa gituan lagi." Dira akhirnya beranjak setelah Defan sudah lebih dulu berjalan menuju ruang kamar.


Malam itu, sedang turun hujan dengan lebat. Cuaca semakin dingin, membuat keduanya ingin melakukan hal yang membuat mereka kecanduan.


Dira pun menurut saja ketika selimut itu sudah menutupi setengah badan. Namun, Defan menarik selimut dan membungkus mereka berdua. Di dalam selimut, keduanya saling mencumbu.


"Sini, abang peluk! Dingin loh!" Defan menarik tubuh mungil Dira ke dalam dekapan. Dada Dira yang menempel di perut Defan terasa begitu kenyal.


"Ih, geli-geli apa sih itu!" bisik Defan genit.


"Abang, jangan mulai lagi deh! Udah cukup, ya, tadi sekali aja untuk malam ini! Masih sakit tahu!" desah Dira merasa sesak di bawah selimut.


"Abang, buka aja ih selimutnya. Jadi panas nih, hawa tubuh, abang, tuh panas!"


"Iya, sayang!" Defan pun menyibakkan selimut dari kepala mereka.


Mereka berdua tanpa sengaja ketiduran setelah saling memeluk. Malam terasa begitu hangat dengan pelukan itu. Cuaca dingin pun seketika mengalah karena melihat dua sejoli yang tengah di mabuk asmara.

__ADS_1


Malam itu, tepatnya pukul 10 malam, ponsel Defan berdering.


Drrrt drttt


Panggilan pertama memang terabaikan, tak ada yang mendengar karena mereka diserang oleh rasa lelah setelah memadu kasih untuk pertama kali.


Drrrt drrrt


Panggilan kedua, ternyata Defan tak sengaja terbangun. Ia langsung mengecek ponsel yang ada di atas nakas. Panggilan dari asistennya, Juni.


"Halo, kenapa Jun?" tanya Defan dengan suara parau khas orang bangun tidur.


"Pak, maaf mengganggu malam-malam. Saya belum pulang kerja karena ada berkas yang hilang. Mohon maaf sekali, padahal bapak tidak masuk hari ini," jawab Juni gamang.


Ia tak mengatakan berkas apa yang menghilang dari kantor itu. Membuat Defan semakin bingung, tak mungkin juga malam-malam begini, ia meninggalkan istrinya seorang diri.


"Berkas yang mana, Jun?" tanya Defan memastikan.


"Itu yang kasus baru pak, kasus tentang pecurian susu di minimarket. Pelakunya ibu-ibu yang tidak mampu itu," jelas Juni semakin gamblang.


"Kapan sidangnya?"


"Besok pak, makanya saya jadi bingung. Besok kan bapak harus ke pengadilan. Sementara berkasnya tidak ada."


"Kalau gitu saya ke kantor sekarang. Apa mungkin saya membawanya? Nanti saya cek dulu di meja kerja saya yang ada di rumah," balas Defan, kemudian menutup panggilan itu.


Defan pun menjadi kalut, berkas itu sudah ia pelajari. Dia menangani kasus itu dari pihak si pemilik minimarket.


Artinya, Defan akan memenjarakan pencuri susu yang sudah mengambil barang dari minimarket. Namun, dalam berkas tersebut, Defan ingin agar kasus itu berakhir damai.


Defan langsung menuju ruang kerja. Di sana, tertata berkas-berkas kasus yang telah ia selesaikan. Ia mencari di laci meja, diatas meja bahkan di rak lemari. Tapi tak kunjung ditemukan. Sepertinya, Defan terpaksa harus menuju ke kantor malam-malam begini.


Tapi, ia merasa tak tega meninggalkan Dira seorang diri. Selama satu tahun kemarin, di rumah mereka memang tetap tidak ada pembantu, sehingga jika ia tinggalkan Dira hari ini maka tak ada yang menemani istrinya. Persoalan pembantu tidak dianggap penting bagi Defan dan Dira. Sebab, Defan dan Dira lebih sering makan di luar rumah.

__ADS_1


Untuk bebersih, mereka berdua melakukan secara bersama-sama, terkadang bergantian juga. Oleh karena itu, sampai sekarang Defan dan Dira sangat mandiri.


Tidak ada keluhan dari Dira lantaran jika ia lelah, suaminya langsung mengambil alih pekerjaan rumah. Defan begitu perhatian pada istrinya, ia bahkan tak tega jika membiarkan istrinya mengerjakan pekerjaan rumah hingga kelelahan. Meski ia sudah bekerja di kantor, Defan tetap meluangkan waktu untuk membantu Dira melakukan segala hal.


__ADS_2