Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
berani ambil?


__ADS_3

"Biarinlah, Jen, dia yang makan. Kalau nggak habis bisa buat besok hehe." Shinta memberikan pendapat.


Dira hanya terdiam, rasa perutnya mulai perih karena kelaparan sejak melihat tampilan menu-menu di layar ponsel.


"Ayo keluar, kita tunggu di ruang keluarga aja," ajak Dira pada ketiga sahabatnya.


Ketiga perempuan itu menurut saja, mengekori Dira yang sudah berjalan di depan. Namun, Jenny masih larut dalam pertanyaan besar dengan porsi makan Dira.


Ia masih tak percaya kalau Dira bisa menghabiskan tiga porsi pesanan tersebut. Lalu, Jenny pun berbisik-bisik pada dua sahabat lain.


"Yakin kelen, dia bisa habiskan tiga menu tadi? Banyak kali loh itu!" celetuk Jenny masih memikirkan hal itu.


Carol hanya menatap sinis pada Jenny. Masih saja memikirkan tentang makanan Dira.


"Kau nggak ingat ceritaku tadi sore? Dia makan ikan bakar satu lengan kita, bisa habis. Apalagi tiga porsi, pasti habis itu. Tenang aja kau!" sesal Carol bernada sinis.


"Ah nggak percaya aku." Jenny memalingkan wajah, menatap punggung Dira.


"Kita lihat aja nanti, Jen!" erang Shinta.


Mereka berempat duduk di ruang keluarga. Defan tak kunjung keluar, sebab ia tak mau membuat suasana dari keempat perempuan itu menjadi kaku dan segan untuk melakukan apapun.


"Kalau mau minum atau nyemil, ambil masing-masing aja! Di sini nggak ada pembantu, nggak ada yang melayani. Jadi layani diri kelen masing-masing! Anggap rumah sendiri!" Dira mengingatkan ketiga sahabatnya.


Kalau Carol, ia sudah mengerti. Sedangkan Jenny dan Shinta masih merasa sungkan. Oleh karena itu, Dira meminta agar Shinta dan Jenny tidak perlu sungkan lagi.


30 menit kemudian ...


Pesanan Dira akhirnya tiba, saat mereka berkumpul di ruang keluarga, Dira langsung mengambil pesanan dari dua pengantar yang berbeda. Pesanan pertama, makanan cepat saji yang dipilih ketiga sahabatnya.


Lima menit kemudian, pesanan chinesefood Dira tiba. Ia sangat semangat untuk segera makan.


"Abang, abang ... ayo makan," teriak Dira saat berada di meja makan.


Ketiga sahabatnya sudah duduk dengan rapih. Mereka mengambil piring masing-masing. Begitu juga dengan Dira, menyiapkan piringnya dan piring untuk sang suami.


Defan menutup berkas yang ia pelajari di dalam kamar. Setelah mendengar teriakan istrinya, ia cepat-cepat menghampiri. Sebab, ia tahu pasti Dira akan protes jika datang berlama-lama.


Defan melayangkan senyuman pada Dira dan ketiga sahabatnya. "Makan apa nih?"


Lalu, ia menarik sebuah kursi yang ada di samping Dira. Matanya melotot tajam saat melihat begitu banyak makanan tersaji di meja makan.

__ADS_1


"Kok banyak kali pesanan kalian?" seloroh Defan, memelototkan makanan cepat saji dan chinesefood yang harumnya memenuhi ruangan.


"Itu kan pesana n istri abang. Tanya aja sama dia, kalau kami makan ayam goreng ini ajalah!" sahut Jenny ceplas-ceplos karena ia belum percaya Dira bisa menghabiskan semua makanan itu.


"Oalaah, kerjaan si Dira udah kutebak sih. Ayo, kita makan!" Defan mengambil burger, kentang dan ayam goreng. Lalu menyantapnya dengan lahap.


Sama halnya dengan ketiga sahabat Dira, mereka juga menyantap makanan yang sama dengan Defan.


Sementara Dira, ia mulai memakan kwetiaw goreng seafood, menyantapnya dengan waktu singkat.


Jenny yang sedang menganga pun terheran saat melihat Dira makan secepat kilat. "Dir, nggak salah kau itu?" cemooh Jenny saat melihat makan dengan rakus.


"Memang gitu dia," timpal Carol.


"Maklumi ajalah istri abang ya, hehe," kekeh Defan.


Lalu, Dira membuka bungkusan kedua tanpa memperdulikan obrolan keempat orang yang ada di meja makan. Kali ini, ia menyantap mie goreng sapi dengan anggun. Namun, karena rasa tak sabaran, akhirnya ia mempercepat tempo kunyahan, dan makan dengan rakus lagi.


Jenny pun menggeleng melihat kerakusan Dira. "Barulah percaya aku, Rol," celetuk Jenny terkekeh geli.


"Hahahah." Carol tertawa terpingkal-pingkal lantaran Jenny baru percaya dengan ucapannya.


Terakhir, Dira membuka bungkusan nasi goreng ayam setelah menghempaskan bungkusan mie goreng dari atas piring.


Perutnya belum terasa kenyang setelah menghabiskan dua menu mie. Kini, menu terakhir itupun tak ia tawarkan pada tiga teman lainnya.


"Cuma speak ajalah memang tadi si Dira, ya? Katanya kita boleh ikut makan, buktinya dia menghabiskan sendiri makanan itu," cecar Shinta tertawa kecil.


"Jangan percaya kau, kalau dia bilang gitu," balas Carol.


"Yaudah, kalian lanjut makan, ya! Abang sudah selesai. Jangan sungkan!" tandas Defan mengingatkan. Lalu, beranjak dari kursi, meninggalkan Dira dan ketiga temannya.


Dira cuek saja menghabiskan nasi goreng yang tersisa. Sebelum Dira selesai makan, ketiga sahabatnya sudah selesai lebih dulu.


"Nggak nyangka kali akulah," dengus Jenny seraya menggelengkan kepala.


Mereka berempat masih di meja makan. Dira langsung bersendawa padahal baru saja menghabiskan makanan itu. Suara sendawanya sangat menggelegar sehingga ketiga sahabatnya ikut terkejut.


"Alamak, Dir-Dira, untunglah bang defan nggak malu punya istri kayak kau. ck!" sesal Shinta berdecak penuh keheranan.


"Hehehe!" Dira menyandarkan tubuhnya pada kursi, kaki ia selonjorkan agar semua isi di perut turun ke bawah.

__ADS_1


"Lapar kali aku loh," kelit Dira, mengelus perutnya yang tampak membuncit.


"Kau lihatlah perutmu itu, buncit kali," ejek Jenny.


"Biarinlah! Udah ada yang punya kok," desis Dira tak mau kalah.


"Walaupun udah ada yang punya, tetap harus jaga penampilan lah," ujar Shinta sok bijak.


"Iyah, nanti suamimu diambil orang." Jenny pura-pura menakuti.


"Siapa yang berani ambil? Kelen dua? Hahahah," racau Dira tertawa terbahak-bahak.


"Hussh! Udah malam, ribut aja kelen dua. Kalau udah beres ayo tidur! Besok kita harus bangun jam 3 pagi loh," kata Carol mengingatkan.


"Bentar lagilah, belum turun nasiku we!" Dira menatap jam di dinding dapur, masih jam 8 malam.


Akhirnya, mereka bersantai sejenak di meja makan. Setelah 10 menit, semuanya membubarkan diri, masuk ke kamar masing-masing.


"Pasang alarm, Rol! Bangunin aku kalau kau nggak lihat aku jam 3 pagi," ucap Dira beranjak pergi.


Mereka berempat memisahkan diri. Dira ke kamarnya, ketiga sahabatnya juga ke kamar tamu.


Saat di kamar, Defan mulai menggoda Dira. "Sayang, makannya di kurangi lah! Nanti nggak seksi lagi loh."


"Emang kalau nggak seksi lagi, apa nggak cinta gitu?" ketus Dira menatap tajam.


"Nggak juga sih tapi nggak enak dilihat yang lain. Sahabatmu aja sampai terkejut lihat kau makan."


"Ssshhh!" Dira menempatkan jari telunjuk di bibir suaminya agar pria itu bungkam.


"Udah tidur aja bang! Besok kita harus bangun jam 3 pagi." Dira memeluk pria yang sudah berbaring di ranjang.


Keduanya tidur saling berpelukan. Meski Defan sedikit menjaga jarak agar tak tergoda dengan tubuh yang mulai sedikit berisi itu.


******


Tok ... Tok ...


Carol menggedor pintu kamar Dira sebelum jam 3 pagi. Sebab, tidak ada tanda-tanda kemunculan wanita itu.


"Dir, bangun! sudah mau jam 3 pagi loh!" teriak Carol dari depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2