
Rambutnya, tergerai hingga pundak. Ia tak perlu menata lantaran rambut itu terawat, sangat cantik jika menjuntai begitu saja.
Defan dan Dira keluar rumah, berjalan gontai menuju perparkiran di lantai basement. Keduanya sangat serasi, berbalut kain yang berwarna hitam, sangat senada dan selaras.
Tak berselang lama, Defan dan Dira sudah duduk di jok mobil. Mobil melaju kencang, meninggalkan kawasan kondominium 3 lantai tersebut.
Defan memarkirkan mobil saat tiba di hotel bintang lima. Keduanya keluar, saat berjalan, Dira mengalungkan kedua tangannya di lengan sang suami. Dira sangat cantik, membuat orang-orang yang dilintasi pangling dan terpukau akan kecantikannya.
"Selamat malam, reservasi atas nama siapa?" sapa seorang Pelayan di ambang pintu restoran yang berada di lantai teratas.
Restoran mewah itu memang sengaja berada di lantai paling paling atas, menonjolkan view pemandangan kota medan dari atas sana. Terlihat gedung-gedung serta rumah-rumah yang berdiri dengan lampu yang menyala.
"Defan Sinaga." Defan membuat lengkungan tipis dikedua sudut bibir membalas senyuman sang pelayan.
"Silahkan, pak!" Pelayan berjalan, mengiringi pasangan muda, mengantarkan hingga ke meja yang berada tepat di sisi kaca, sudut ruangan.
Terlihat jelas pemandangan sekitar dari dalam kaca. Dira dan Defan bisa menyaksikan dari lantai paling teratas. Keduanya duduk manis sembari menunggu kedatangan pelayan yang akan mengantarkan makanan yang sudah dipesan oleh Defan saat reservasi tadi siang.
"Foto, yuk!" ajak Dira, membuat lengkungan lebar di sudut bibir, ia ingin moment istimewa tersebut diabadikan termasuk dalam postingan di media sosial.
Defan pun mengangguk, mempersiapkan diri untuk mengambil beberapa jepretan menggunakan kamera di ponsel Dira. Sejak mengajak suaminya untuk foto bersama, Dira sudah menyodorkan ponsel genggam pada sang suami.
"Smile!" Defan memberi aba-aba, lalu berselfie ria dengan istrinya, beberapa foto berhasil disimpan dalam memori ponsel istrinya.
"Kirim sama abang, ya, yang!" titah Defan, mengerlingkan mata, Dira hanya mengangguk pertanda menyetujuinya.
Dira mengirimkan foto-foto mesra, terlihat Dira dan Defan tersenyum saat dalam sorotan kamera, dari sudut meja, kedua tangan saling menggenggam di samping lilin yang menyala terang.
Belum ada makanan yang tersaji, meja masih bersih tertata. Sebuah vas bunga kecil juga penataan menghiasi meja.
"Udah, bang!" Dira masih sibuk menatap ponsel, memberanikan diri untuk kali pertama memposting fotonya dengan Defan berduaan di media sosial miliknya.
"Duh, kalau banyak yang tanya gimana, ya? Ah, bodo amatlah, suamiku ini!" gumam Dira, menatap lekat ponsel, lalu memposting beberapa foto di akun miliknya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Defan. Setelah hampir dua tahun hiatus di media sosial, teman-teman virtualnya pun dikagetkan dengan foto mesra yang baru saja terpampang nyata di akun miliknya.
Kolom komentar langsung dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang menjurus pada perempuan yang duduk dihadapannya. Sontak saja, ponsel itu terus berdering, memunculkan notifikasi komentar dari teman-teman kuliah, SMA, SMP, bahkan SD yang masih terhubung di media sosial bersamanya.
__ADS_1
Defan sibuk membaca komentar yang terus muncul. Membuatnya semakin pusing untuk menjawab pertanyaan agar menghilangkan rasa penasaran dari teman-temannya.
"Kenapa, bang?" ucap Dira, saat melihat wajah suaminya tiba-tiba kusut.
"Ehm ... pusing, abang!" keluhnya, seraya menutup layar ponsel.
"Pusing kenapa? Perasaan tadi baik-baik saja!" Tiba-tiba ponsel Dira ramai dengan pesan chat yang baru masuk ke dalam grup. Ketiga sahabatnya sudah heboh mengirimkan foto screenshoot hasil postingan Defan bersama dirinya. Dira mengira teman-temannya hanya meledek postingan yang baru saja ia unggah.
Jenny
Perhatian! Ada yang baru publikasi!!
*Jenny mengirimkan gambar*
Carol
Waww!! Akhirnya! Sahabat kita diakui nih! Cieeeehhh ...
Shinta
Wah, ketinggalan aku! Gila sih, suami idaman kali!!!
Jenny
Carol
Udah cukup umur shayy!!
Shinta
Mau calon suami kek gitu juga lah!!
Dira mengecek ponselnya yang terus bergetar. Pesan itu dibaca satu-persatu. Tak lupa, ia mengunduh foto yang dikirimkan oleh Jenny. Sontak ia juga terkejut, lalu langsung meluncur ke akun media sosial suaminya.
Foto terakhir Defan sebelum memposting dirinya bersama sang istri, hanyalah foto seorang diri. Kini, beranda postingan itu dihiasi wajah Dira yang cantik.
Dira membaca satu-persatu komentar yang memenuhi kolom postingan tersebut. Pantas saja, suaminya tiba-tiba berwajah kusut. Banyak sekali akun wanita yang mencela kehadiran Dira di sisinya.
__ADS_1
"Silahkan, Tuan!" ucap seorang pelayan, menuangkan sampanye ke dua gelas yang telah disiapkan di atas meja.
"Terima kasih!" balas Defan, seraya mengambil gelas, lalu meneguk perlahan menikmati sampanye di gelas itu.
Pelayan bergegas pergi, meninggalkan sepasang suami istri. Dira yang sibuk dengan ponselnya, tidak sadar sudah ada minuman di meja.
"Yang, ngapain sih? Minum dulu, kau kan sudah cukup umur. Sudah bisa mencoba minuman alkohol ini! Aku sengaja pesan minuman yang paling enak, sekaligus mengajari cara meminumnya!" jelas Defan, mengerling penuh godaan.
Dira menoleh, menatap lekat suaminya. Mengedarkan pandangan, hanya minuman yang tersaji di dalam meja. "Minuman apa ini, bang?" tanya Dira, karena dia tak mendengar ucapan suaminya tadi saat berbicara panjang lebar, sebab ia fokus membaca semua komentar yang memenuhi postingan suaminya.
"Astaga! Abang udah jelasin tadi loh! Itu alkohol, biar kau tahu rasanya dan cara minumnya. Angkat gelas dan kita bersulang!" titah Defan, mengangkat gelas, menyodorkan ke depan wajah Dira.
Perempuan itu mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya.
ting ...
Suara denting gelas yang beradu membuat keduanya tersenyum. "Sesaplah pelan-pelan, Nikmati aromanya, rasakan minuman itu hingga menjelajah di kerongkonganmu!" terang Defan mengucapkan dengan kata-kata lebih puitis sehingga hiperbola terdengar di telinga sang istri.
"Ah, abang lebay!" kekeh Dira, tersenyum geli melihat suaminya yang mengucap kata-kata yang aneh saat terdengar di telinga.
Dira mencium aroma sampanye tersebut, menyesapnya perlahan, sekali teguk membasahi bibir tipisnya. Lalu, sesapan kedua, sampanye itu membasahi lidahnya, terasa manis tetapi sedikit kecut.
Sensasi yang aneh!
Dira larut dalam pikiran sembari meminum sampanye di dalam gelas. Tak terasa, setengahnya sudah berpindah ke kerongkongan. Ia ingin merasakan sampanye jika diminum banyak dalam sekali teguk.
"Yang, buru-buru kali! Nikmati minumnya!" protes Defan, lalu menirukan cara minum sampanye yang benar.
"Pengen tahu rasanya dulu, bang! Kelamaan kalau sekali teguk cuma secuil," imbuh Dira, lalu mengekori suaminya untuk menyesap sampanye tersebut.
"Gimana? Enak?" Defan menatap lekat istrinya, pusingnya seketika menghilang. Ia merasa bahagia saat bersama sang istri menikmati minuman alkohol kesukaannya.
Dira mengangguk, lalu menghabiskan isi sampanye yang tersisa. Sedikit rasa pusing mulai mendera tetapi membuatnya merasa ketagihan.
"Tambah lagi dong, bang!" ujar Dira, memerintah suaminya agar mengisi gelas, Defan pun menuruti, mengangkat botol sampanye, menuangkan sedikit ke dalam gelas Dira.
"Sikit kali pun, bang!" sergah Dira, saat isi sampanye tak ada setengah dari isi pertama yang dituangkan oleh pelayan.
__ADS_1
"Nanti kau pusing, yang! Mabuk! Kita belum makan loh, perutnya masih kosong!" hardik Defan.