Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
preman


__ADS_3

Setelah sibuk berbincang hingga lupa waktu bahkan TV yang menyala pun tidak diperdulikan lantaran mereka berdua merasa sangat saling merindukan, momen itu dirasakan oleh keduanya.


"Sering-seringlah mamak datang ke sini biar ada kawanku di rumah karena sepi kali loh rumah ini!" pinta Dira, dengan raut wajah memelas.


"Kayak mana mau sering-sering ke sini, ada adik-adikmu yang harus Mamak urus!" urai Rosma.


"Udah besar-besar kok mereka, bawa aja siapudan kita ke sini biar ada yang meramaikan rumah ini!" sahut Dira.


"Kapan-kapan lah itu!" jawab Rosma datar.


Setelah menyelesaikan perbincangan, Dira bergegas mandi karena sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Begitupula dengan Rosma, mereka harus berangkat menuju kediaman sang mamak.


Dira dan Rosma akhirnya berangkat, tak lupa ia sudah menyiapkan semua barang bawaan yang untuk dipakai saat kuliah nanti. Lalu, ia memesankan satu taksi online untuk mengantarkan mereka kediaman keluarga Dira, sebelum ia tiba di kampus.


Di dalam mobil, mereka masih melanjutkan pembicaraan yang tadi tertunda lantaran harus buru-buru bersiap-siap untuk segera berangkat.


"Bagaimana si Parulian, Mak? Sebentar lagi dia akan lulus SMA, apakah dia akan melanjutkan ke jenjang kuliah?" tanya Dira, menatap lekat sang mamak, ia penasaran pada adiknya lantaran mereka hanya terpaut usia yang berbeda hanya 1 tahun saja.


"Nggak tahu lah Mamak soalnya Bapakmu kan belum ada gajinya, habis buat bayar hutang!" jelas Rosma.


"Jadi dia langsung kerja?" balas Dira.


Namun, Dira tak setuju bila adik keduanya itu harus merelakan masa kuliah meskipun kedua orang tuanya tidak memiliki uang. Seharusnya sang Bapak harus berusaha keras untuk menguliahkan anaknya sehingga mendapatkan pendidikan yang layak hingga mendapatkan jenjang karir yang bagus nantinya.

__ADS_1


Padahal, sang bapak sudah tak menanggung Dira semenjak mulai SMA hingga kini memasuki masa kuliah. Namun, mengapa untuk memberikan pendidikan untuk anak keduanya tetap tidak bisa?


"Ya, mau gimana lagi dibuat karena kita tidak ada uang. Mungkin dia bisa kerja dulu atau nanti bisa sambil bekerja setelah mendapatkan uang sendiri baru melanjutkan kuliah!" tutur Rosma.


"Jangan seperti itu harusnya, Mak! Apalagi dia anak laki-laki, sudah seharusnya dia mendapatkan pendidikan yang tinggi karena nantinya dia menjadi tulang punggung keluarga, harus menafkahi istri dan anak-anaknya. Apalagi sekarang sudah mulai susah mencari pekerjaan jika hanya lulusan SMA saja," sergah Dira.


"Tapi kau tahu sendiri, Mamak nggak bakal bisa mebiayai dia karena memang untuk uang kebutuhan sehari-hari aja sulit, bahkan masih meminta padamu. Masa Mamak harus juga meminta padamu untuk menguliahkan dia," kilah Rosma, menatap penuh sesal, karena itu bukanlah kemauannya.


"Suruhlah bapak segera melunasi hutang-hutang. Atau nanti kalau memang uang yang diambil oleh penipu itu bisa kembali, biarkan itu menjadi tabungan untuk bekal si Parulian kuliah," sahut Dira, memberikan pendapatnya.


"Kau tahu sendirilah Bapakmu bagaimana sikapnya, diiming-imingi sedikit saja udah langsung tergiur apalagi kalau memang uang itu masih ada pasti dia akan gunakan untuk hal-hal lain!" sambung Rosma.


Dira memang tidak setuju jika adik keduanya tidak melanjutkan masa perkuliahan. Sebab ia tahu, pedihnya jika berkumpul dengan teman-teman saat membahas masa kuliah yang ujungnya belum diketahui. Meskipun kini ia sudah memiliki suami yang kaya raya tapi tak menampik jika dirinya juga harus meminta lagi pada suaminya untuk membiayai adik keduanya.


"Nanti coba kubicarakan dulu sama Bang Defan kalau memang tidak ada biaya untuk kuliah si Parulian. Nanti aku minta Bang Defan bantu tapi syaratnya si Parulian harus menyicil uang kuliahnya jika sudah bekerja nanti!" sela Dira.


"Ya, lebih baik begitu, Boru biar sedikit meringankan beban Mamak dan Bapak," tambah Rosma.


Dira mengangguk tapi ia kemudian larut dalam pikiran, menganggap bahwa dirinya dan keluarganya hanya menjadi beban untuk suaminya. Tak sedikit pun, ada yang dilakukan Dira untuk membantu keuangan suaminya padahal Defan sendiri tak pernah berpikiran demikian. Bahkan pria itu senang jika bisa membantu keluarga Dira dan menyenangkan hati istrinya.


***


Defan sudah dari tadi duduk di meja kerja, ia masih fokus untuk menyelesaikan pekerjaan. Tapi tiba-tiba ia teringat harus memerintahkan orang suruhan untuk mencari penipu yang sudah berani menjebak mertuanya.

__ADS_1


"Jun, tolong ambilkan kartu nama preman yang pernah saya urus kasusnya. Waktu itu, kalau tidak salah, kartu namanya saya berikan padamu!" titah Defan.


Untung saja, Defan memiliki kenalan seorang preman yang paling terkenal di kota medan. Ia mengingat preman yang pernah meminta bantuannya menangani kasus perdata beberapa bulan yang lalu.


Meskipun sidang perkara kecil yang ditanganinya tetapi sangat membantu sang preman. Karena merasa dibantu, preman itu berjanji akan memenuhi apapun permintaan Defan. Termasuk jika mencari seseorang yang sulit untuk ditemukan.


Juni berjalan membawa selembar kartu nama, lalu memberikan pada Defan. Pria itu meraihnya, kemudian menghubungi nomor telepon yang tertera di sana menggunakan nomor ponsel pribadinya.


"Halo, Bang aku Defan—pengacara yang pernah menangani kasus, Abang!" ucap Defan saat sambungan telepon itu telah terhubung dan diterima oleh sang preman.


Awalnya sang preman enggan menjawab telepon dari nomor yang tidak dikenal tetapi ia merasa curiga pada nomor tersebut, khawatir dari orang penting yang belum pernah menghubunginya.


"Oh ... Pak Defan, apa kabar? Ia saya ingat pengacara yang menangani kasus saya tanpa minta bayaran itu kan?" balas Preman dengan ramah.


Padahal, nyatanya preman itu sangat garang dan galak jika bertemu dengan orang-orang sekitar tapi sikapnya sangat berbeda saat ia berbincang dengan Defan, karena Defan tak meminta bayaran sepersen pun untuk kasusnya karena dianggap hanya kasus kecil.


"Kabar baik, Bang! Jadi gini, aku langsung to the point aja, jadi aku lagi nyari seseorang nih, yang berani menipu mertuaku," ungkap Defan, seraya menyandarkan kepala di kursi kebesaran.


"Jadi aku mau minta bantuan sama abang supaya mencarikan orang ini di penjuru pulau Sumatera ini atau entah dia berada di pulau lain!" tandas Defan, yang sangat akrab berbincang dengan sang preman.


"Oh ... gampanglah itu, Pak nanti saya akan bantu carikan, saya butuh foto wajah dan tentang biodata orang itu!" sosor sang preman, sangat antusias bila mendapatkan perintah dari orang yang sudah memberi pertolongan padanya.


"Oke, Bang! Nanti aku bakal kirimkan foto dan biodatanya melalui pesan di WhatsApp!" sahut Defan.

__ADS_1


"Iya, baiklah, Pak nanti langsung saya akan kerahkan orang-orang suruhan saya untuk mencari orang itu!" kecam sang Preman.


__ADS_2