
"Astaga, sampai lupa kita, tujuan kita memang uang ini tapi kita sampai lupa nasib penipu itu selanjutnya," seloroh Defan terkekeh kecil.
Kedua pria itu kembali lagi masuk ke dalam penjara sebagai tempat penyekapan penipu itu, lalu Defan berpikir sejenak apa yang pantas dilakukan untuk penipu seperti pria itu.
"Lebih baik lepaskan saja dia, yang terpenting uang ini sudah kembali," ucap Defan, niat baiknya memang disambut oleh sang penipu.
Reza tersenyum bahkan mengucapkan terima kasih berkali-kali, sudah kapok rasanya jika ia berurusan dengan preman seperti Rudy orang yang sangat ganas.
"Setuju kan kalau dia dibebaskan?" tanya Defan pada mertuanya, Sahat pun mengangguk, ia merasa kasihan juga melihat rekan kerjanya diperlakukan seperti itu.
"Bebaskan sajalah dia. Jangan lupa kau bertobat, Lae!" tegas Sahat.
Reza mengangguk penuh keyakinan, lalu ia meminta maaf berkali-kali pada Sahat. "Maafkan aku Lae, aku tidak bermaksud untuk menipumu!" lirih pria itu, tertunduk penuh penyesalan.
"Baiklah kalau begitu kami pamit dulu, ya, Bang," kata Defan seraya menitip pesan agar nanti setelah kepergian mereka barulah penipu itu dilepaskan.
Sebab, ia khawatir akan diteror oleh orang tersebut sebelum kakinya beranjak dari rumah preman.
"Okelah, Pak hati-hati!" pesan Rudy, lalu menutup kembali penjara yang digunakan untuk menangkap orang tersebut.
Ia juga mengantarkan Defan dan mertuanya karena untuk menyusuri rumah bawah tanah sangatlah sulit.
Rudy mengantarkan kedua orang itu sampai ke tempat parkiran, barulah ia kembali lagi ke rumah untuk melepaskan penipu yang sudah menjerat keluarga Dira.
Defan mengantarkan mertuanya hingga di depan rumah, lalu dia kembali lagi ke kondominium miliknya untuk bertemu sang istri. Rasanya begitu lama ia berada di luar hingga merasakan kerinduan pada wanita itu.
****
"Aku pulang," teriak Sahat, dari ambang batas pintu, Rosma menghampiri dan melihat saat suaminya sedang menenteng dua tas besar.
__ADS_1
Rosma berjalan tertatih menghampiri suaminya dengan senyum yang lebar, lalu Sahat mengangkat kedua tas itu dengan bangga. Sebab, satu tas berisi uang mereka sedangkan satu tas lagi milik keluarga korban lain.
Rosma segera mengambil satu tas untuk diamankan dan disimpan ke dalam lemari. "Pak betul ini uang kita, kan?" tanya Rosma saat ia mengambil alih satu tas untuk disimpan dengan aman di rumah itu.
"Iya, ini tas kita, isinya uang yang 100 juta itu, coba dihitung saja," titah Sahat karena ia belum yakin kalau dalam satu tas berisi hanya uang untuk keluarganya saja.
Rosma menghamburkan uang itu ke atas ranjang lalu menghitung secara gepokan yang tertera tulisan lima juta untuk satu gepok.
Benar saja uang itu, terisi 100 juta yang merupakan hasil uang mereka. Rosma langsung mengamankan uang, memasukkan ke dalam lemari sesuai dengan rencana awal.
Lalu, ia terkekeh dan merasa bersemangat kembali setelah mendapatkan uang tabungan mereka. "Lain kali Bapak jangan tergiur lagi sama orang-orang penipu kayak gitu, lagipula jangan habiskan uang ini untuk kepentingan nggak jelas apalagi berjudi, main togel ataupun yang lainnya," tegas Rosma, menatap nanar manik suaminya.
"Iya, Bapak sudah jelas tidak akan pernah melakukan hal seperti itu lagi, yang pasti bapak akan semangat bekerja untuk mencari uang demi masa depan keluarga kita. Bapak tidak ingin terus-terusan meminta bantuan dari Dira dan membelenggu keluarga ini dalam kemiskinan."
Entah mengapa, Sahat seakan tersadar. Ia juga tak ingin membuat Dira merasa malu ataupun sebaliknya.
"Ayo, kita makan, Pak kebetulan mamak masak banyak," ajak Rosma seraya memanggil kelima anak lelakinya agar mereka menyantap makanan bersama-sama.
Entah mengapa semua merasa girang dan bersemangat setelah uang yang hilang kini sudah kembali.
Sementara Sahat, langsung menyimpan satu tas lagi di dalam lemari yang sama, ia berniat besok membawa tas itu dan membagikan pada teman-temannya sebagai pemilik uang tersebut.
***
Mendengar suara kunci smart lock yang berbunyi, Dira langsung berlari menghampiri pintu utama, sejak tadi ia menantikan kehadiran suaminya, tepat saat jam 8 malam suaminya baru pulang ke rumah.
"Hai ... Sayang," sapa Defan sembari merengkuh pinggang istrinya dan mencium pipi, bibir hingga kening dengan lembut.
"Abang, kok lama kali sih pulangnya," protes Dira, setelah melonggarkan pelukan diantara keduanya.
__ADS_1
"Iya! Baru selesai ketemuan sama penipu itu, lalu tadi nganterin Amang dulu ke rumah. Jadi pulangnya larut malam begini," ungkap Defan, mengelus-elus pucuk kepala istrinya.
"Gimana hasilnya, apakah Bapak sudah mendapatkan kembali uangnya?" tanya Dira menatap lekat manik suaminya.
"Udah kok, untung saja uangnya kembali, hanya dipakai sedikit saja untuk makan oleh si penipu itu. Dia tadi sudah berhasil ditemukan jadi disekap oleh seorang preman. Tapi aku minta agar dia segera dilepaskan saja," tutur Defan panjang lebar.
"Syukurlah kalau begitu, aku sudah khawatir Bapak tidak bisa mendapatkan uang itu kembali. Terima kasih suamiku sudah membantu keluargaku untuk mencari penipu itu." Dira melayangkan kecupan hangat di bibir suaminya.
Alhasil, Defan tersipu malu, ia pun tersenyum dan menyengir saat mendapat satu ciuman. Namun tatapannya mengarah kepada hal lain, matanya mendelik lalu berkedip ke arah kamar.
"Apa?" tanya Dira, karena tak mengerti dengan maksud kode suaminya.
Padahal mereka masih berdiri di ambang batas pintu, saat itu Dira juga merasakan kelaparan karena sejak tadi ia belum makan apapun.
"Jatah malam ini," bisik Defan seraya terkekeh kecil.
"Ah, Abang udah mikirin jatah aja, aku lapar nih," keluh Dira sembari memegangi perutnya.
"Astaga, mau makan apa? Abang, lupa tadi mau beli makanan dulu sebelum pulang karena tadi buru-buru mau melihat istriku yang cantik," goda Defan sembari meremat dagu istrinya.
"Jadi kita makan apa dong?" Dira mengedarkan pandangan, tidak ada makanan apapun di dalam kulkas maupun di lemari.
Untuk sebungkus mie instan saja tidak ada sehingga Dira menahan rasa laparnya sejak tadi sore. Ia menunggu kepulangan suaminya, berharap dibawakan sebungkus makanan tetapi malah pria itu melupakan makan malam mereka.
"Jadi kita makan apa? Nggak ada mie instan loh, Bang," sergah Dira seraya menatap lekat suaminya.
"Yaudah, kita keluar aja, mumpung Abang belum ganti baju nih," sahut Defan, mulai melangkah gontai, lalu menarik handle pintu. Dira pun ikut mengekori suaminya dari belakang.
"Yaudah, kita makannya di dekat-dekat sini aja." Dira tetap keluar tanpa mengganti baju karena rasanya malas jika harus mengganti baju lagi.
__ADS_1