
"Dir! Dira ..." lirih Defan tapi ia sangat sungkan membangunkan istrinya.
Defan mencoba mengendurkan pelukan erat istrinya. Namun, usahanya sia-sia. Dira malah semakin erat memeluk tubuh Defan seolah-olah menganggap dirinya sebuah bantal guling.
Defan terjerat dalam dekapan hangat Dira. Sesuatu dibawah sana mulai bergerak karena tubuhnya bergejolak dalam dekapan istrinya.
"Astaga! Sial! Ini nggak boleh terjadi!" umpat Defan merintih kesal karena istrinya terus menggodanya secara tidak sadar.
Defan terus saja menahan hasratnya didalam pelukan hangat itu. Rasa sesak yang ia rasakan dalam dekapan istrinya menghilang. Tubuhnya mulai menggeliat dalam pelukan itu.
"Ah! Sial!" pekik Defan kian kesal karena dada montokk Dira mengapit diwajahnya.
Defan buru-buru melepaskan dekapan itu sebelum pikirannya memuncah menyerang tubuh perempuan itu. Hatinya terus mengingatkan agar tak menyentuh tubuh gadis mungil yang mendekapnya begitu erat.
Dengan sekuat tenaga, Defan berhasil lolos dari dekapan istrinya. Ia buru- buru memakaikan piyama Dira yang masih terhempas diatas ranjang.
Perlahan, ia memakaian baju piyama. Mengancingnya dengan telaten. Lalu, Defan memakaikan celana piyama yang panjang itu. Setelah tubuh Dira tertutup rapat dengan pakaian piyama, Defan merasa lega.
Huuuuuhh
Defan setengah berteriak mengeluarkan nafas berat yang ia tahan sejak tadi. Namun, hasratnya tak bisa ia keluarkan. Kepalanya pusing tak terhingga setelah melenyapkan rasa kejantanannya yang tak bisa terpenuhi.
Defan membaringkan tubuhnya disamping tubuh Dira. Memejamkan matanya perlahan. Sayangnya, ia tidak bisa tertidur karena yang teringat dipikirannya adalah tubuh seksi Dira.
Dengan rasa penasarannya, Defan mendekati tubuh itu. Lagi-lagi ia merasa nyaman ketika mendekap tubuh Dira dengan lembut.
Ia cium pucuk kepala Dira dengan menundukkan kepalanya. Namun, rasa penasarannya terus memuncak. Ia mulai membelenggu Dira. Ia raih kepala Dira yang sedang asik terlarut dalam mimpinya.
Kemudian, ia mencium bibir tipis milik istrinya itu. Perlahan dan perlahan ia semakin mulumatnya lebih dalam. Entah mengapa rasa kehangatan dari pagutan bibir itu tak bisa ia lepaskan.
Dengan terpaksa Defan menghentikan aksinya. Ia tak mau semakin terbuai dengan rasa penasarannya. Ia terus saja mendekap istrinya agar bisa tertidur pulas melupakan rasa keinginannya untuk menyetubuhi gadis kecil itu.
*******
Kring-kring ada sepeda-sepedaku roda tiga ...
__ADS_1
Suara dering ponsel Defan membangunkan pasutri itu di pagi hari. Jam enam pagi, ponsel Defan berdering begitu keras. Memekik ditelinga kedua pasangan suami istri itu.
Dira membuka matanya yang masih terasa berat. Mengintip jam yang menempel dinding. Begitu terkejutnya ia setelah melihat jamnya sudah berada diangka 6. Dira mau beranjak, entah mengapa seperti ada yang menahannya.
Tangan kekar sedang membelenggunya dalam dekapan pria dihadapannya. Ia membulatkan bola matanya, terkejutnya kalau sekarang sedang berada dalam dekapan suaminya. Rasa malu sekaligus bingung bergejolak dalam pikirannya.
Ia melepaskan pelukan erat itu. Dan akhirnya berhasil. Dira berlari ke kamar mandi. Ia buru-buru mandi. Saat membuka bajunya, ia kembali meneliti pakaian yang berada dalam balutan tubuhnya.
Apa aku sempat menggantinya semalam? Tapi rasaku tidak! Aku yakin ketiduran semalam!
Dira larut dalam pikirannya. Ia menatap lekat piyama yang terpakai dengan rapih. Karena dikejar oleh waktu, Dira buru-buru melepaskan pakaian itu.
Mandi bebek khas ala Dira. Selesai dalam secepat kilat. Hanya jebyar jebyur saja agar badanya terbasuh. Terutama wajahnya.
Ia langsung mengambil seragam sekolahnya yang menggantung di dalam lemari. Membawanya ke kamar mandi dan memakainya dengan cepat.
"Abang bangun!" teriak Dira terburu-buru mengemasi buku pelajarannya ke dalam tas.
"Bang Defan! Bangun udah jam 6 lewat 10 menit!" teriak Dira.
"Apa? Jam berapa?" cecar Defan membelalakkan matanya.
Defan pun beranjak dari kasurnya. Ia langsung mandi. Tak memakan waktu yang lama, hanya 5 menit Defan sudah menyudahi ritual mandinya. Ia langsung mengambil kemeja dan celana bahan dari lemari. Memakainya dengan cepat.
Sementara Dira sudah berada di meja makan sejak lima menit yang lalu. Ia tak mau diomeli oleh mertuanya karena terlambat. Apalagi tadi malam mereka pulang sangat malam.
"Mana Defan, Dir?" ucap Melva penuh selidik, mencari jejak putranya.
Di meja makan semua sudah berkumpul terkecuali Defan. Defan menuruni anak tangga melangkah gontai.
"Tuh Inang orangnya." Dira menunjuk wajah Defan yang sedang turun dari anak tangga.
Setelah semua orang menoleh ke arah Defan, ia langsung berlari dan duduk tergesa-gesa di kursi makannya.
"Ayo makan," ujar Desman setelah memimpin doa untuk sarapan mereka pagi ini.
__ADS_1
*Hening
Semua memulai sarapannya tepat waktu. Jam 6 lewat 15 menit, semua sudah berkumpul di meja makan. Denting suara piring dan sendok beradu pagi itu. Seperti sudah menjadi kebiasaan bagi mereka saat menyantap makanannya.
Setelah selesai sarapan, Anggi dan Niar berpamitan. Disusul oleh Dira dan Defan. Desman pun berangkat seorang diri seperti biasa disupiri oleh supir pribadinya.
"Bang, tadi malam abang yang gantikan bajuku?" cecar Dira membuat Defan semakin kikuk.
Jika mengingat kejadian tadi malam, pikirannya kembali kotor. Tubuh perempuan yang duduk disampingnya itu terus saja terbayang dalam pikirannya.
"He'em!" Defan tetap fokus pada stir dan jalanan didepannya tanpa menoleh ke arah Dira.
"Kok abang yang gantiin sih! Kebiasaan abang! Emang ngga malu lihat tubuhku," keluh Dira dengan suara bergetar karena dia sendiri malu mempertontonkan tubuh nakednya pada pria itu.
"Biasa aja kok," jawab Defan datar.
"Hah?" Dira terperangai mendengar penuturan suaminya.
"Iya! Biasa saja anak kecil! Kan aku udah lihat semua yang ada di dalam sana!" tutur Defan dengan tenang bernada dingin.
"Apasih," gerutu Dira merasa malu pada suaminya. Salah lagi ia pagi-pagi mempertanyakan hal tak pantas itu pada suaminya.
"Udah sampai tuan putri," sambar Defan saat menghentikan laju mobilnya di depan sekolah Dira.
Dira terperangah mendengar kata-kata yang terucap dari mulut pria itu.
Hah? Tuan putri? Nggak salah tuh bang Defan! Tumben sok manis dia!
Dira larut dalam gumamannya seorang diri. Lalu keluar mobil tanpa permisi pada suaminya.
"Dir, tadi malam nggak merasakan sesuatu yang aneh kan?" celetuk Defan mengingatkan momen tadi malam saat pagutan mulutnya ******* lembut bibir kenyal milik Dira.
Dira menggeleng lemah dan menjawabnya tanpa sadar. "Maksudnya gimana bang?"
Defan hanya melempar senyum seraya mengerling pada gadis kecil itu. "Oh kalau gitu, yaudah masuk sana!" titah Defan tersenyum tipis. Dira menutup pintu mobilnya dengan pikiran yang terus bertanya-tanya.
__ADS_1
Ia berjalan meninggalkan mobil itu, sesekali menoleh ke belakang memastikan mobil itu sudah pergi atau belum. Nyatanya, Defan baru menginjakkan pedal gasnya setelah memastikan Dira masuk ke halaman sekolahnya.
Sebelum ia meninggalkan sekolah Dira, ia mengecek ponselnya. Disana tertera panggilan tak terjawab dari sahabatnya—Dania.