Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
jangan nafsu lagi!


__ADS_3

"Sayang, kau kenapa sih hari ini? Ada-ada saja tingkahmu. Ngapain pula kau pakai handuk kecil, padahal di lemari kan ada handuk yang lebar," protes Defan, bergeleng-geleng merasa ada yang aneh pada istrinya.


"Cuma ini yang ada di kamar mandi, bang. Handuk lebar mungkin sudah abang pakai tadi," kata Dira dengan cueknya.


Ia berjalan gontai, mondar-mandir ke arah lemari, ke meja rias sampai membuat Defan heran bukan kepalang. Namun, melihat tubuh yang seksi itu, Defan sedikit mencebikkan bibirnya dengan rasa kesal.


Sebab, istrinya itu tak berpikiran tengah menyadarkan sesuatu di bawah sana saat melihat tubuh moleknya terekspose sempurna.


"Sayang, ih ... risau kali abang lihat kau mondar-mandir dari tadi. Pusing abang, yang di bawah pun ikut pusing," keluh Defan menunjuk ke sela pangkal paha.


"Bentar, bang! Aku baru mau pakai baju nih, apa tadi abang maksud?" imbuh Dira yang menunduk mencari piyama miliknya tanpa menoleh ke arah pria itu.


Namun, melihat istrinya yang menunjukkan bokong semok serta area keintiman pun terekspose, membangkitkan hasratnya sebagai seorang lelaki.


"Sial!" umpat Defan setelah sesuatu di bawah telah memanjang sempurna.


"Istriku kenapa sih? Nggak ngerti apa, cara dia begitu membangkitkan nafsu suaminya sendiri," batin Defan seraya menyugar rambut lantaran frustasi melihat tingkah Dira.


"Kenapa bang?" tutur Dira polos, sebab suaminya dari tadi menggerutu tidak jelas.


Dira langsung memakai dalaman miliknya. Ia hempaskan handuk kecil yang melilit bagian pucuk gunung kembar hingga area perut bawah.


Lalu, dengan santai mengenakan piyama berwarna abu-abu, sepasang dengan piyama yang dipakai suaminya.


"Yang? Shaaayaaaang?" panggil Defan, sedikit dengan nada menggoda.


"Apa sih, bang? Pakai mendesa*ah-desah segala," desis Dira.


Defan langsung berlari mendekati gadis kecil itu. Memeluknya dari belakang, saat perempuan itu hendak memakai celana.


Tiba-tiba, Defan bergelayut manja, menyandarkan kepalanya di atas dada sang istri, lalu tangannya mencegah pemakaian celana itu.


"Ih, abang kenapa sih." Dira semakin kesal melihat tingkah suaminya. Entah apa yang menyambar pria itu, tiba-tiba berperilaku manja hendak mengajaknya melakukan aktivitas suami istri.


"Ihh, masa nggak ngerti sih! Kan kau duluan yang goda-goda abang." Defan mengeleng-gelengkan kepalanya di dada sang istri.

__ADS_1


"Geli tahu bang, awas dulu. Belum juga berpakaian lengkap aku." Dira mendorong tubuh suaminya yang terus saja bergelayutan di dada.


Dengan cepat, Dira langsung memakai celana piyama miliknya. Tanpa memperdulikan suaminya, ia langsung duduk di tepian ranjang setelah semua terpakai.


Defan pun mengejar kepergian sang istri. Ia langsung memeluk wanita itu, tidur dalam pangkuannya.


"Abang, kenapa sih? Dari tadi aneh!" sesal Dira yang melihat tingkah suaminya.


"Masih sore loh ini," timpal Dira lagi.


"Mumpung masih sore, yuk!" ucap Defan seraya mata mengerling.


"Ayuk, apanya?" Dira terdiam menunggu jawaban lelaki itu.


"Itu, masa nggak tahu sih," gerutu Defan, menggaruk-garuk kepala yang bersandar di paha sang istri.


"Emang nggak tahu aku," balas Dira polos.


"Astaga, sayang! Jadi tadi kau sengaja bertingkah begitu atau emang nggak sengaja?" papar Defan mendongak ke atas, melihat wajah yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu.


"Hmm ... tadi kau berlenggak-lenggok pakai handuk kecil itu ngapain? Bukannya sengaja goda-goda, abang?" cecar Defan menatap sinis.


"Kan tadi aku udah bilang, di kamar mandi nggak ada handuk yang besar. Cuma handuk itu aja! Aku nggak ada tuh goda-goda, Bang Defan!" kilah Dira, menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Astaga! Entah ini istriku yang polos atau aku yang nafsuan!" Defan mengacak-acak rambutnya, merasa frustasi.


"Hahahahah! Jadi abang dari tadi heboh nggak jelas karena nafsu lihat aku gitu?" ejek Dira seraya tertawa terbahak-bahak.


"Yaiyalah, sayang! Suami mana yang nggak nafsuan lihat istrinya, dada terekspose, area bawah terekspose, lenggak-lenggok bak model. Argghhhh!" cicit Defan, lalu mengulurkan tangan, mencubit dagu sang istri dengan gemas.


"Oalaaah!! Ya, mana aku tahu kalau abang ternyata malah nafsu lihat aku mondar-mandir. Hahaha." Dira mentertawai suaminya itu dengan sangat polos.


"Jadi terus gimana nih?" tanya Defan menatap sang istri dengan mata berbinar, ia masih berharap mereka melanjutkan momen ke adegan ranjang yang panas.


"Gimana apanya?" Dira pun meluruskan kaki, lantaran terasa keram ditindih oleh kepala pria itu.

__ADS_1


"Ehmm, ituan loh! Masa nggak ngerti lagi sih?" lontar Defan sedikit mendesak.


"Oh, itu, ya? Yaudah, ayo!" kata Dira dengan semangat menggebu.


"Serius nih, beneran mau?" Defan membenarkan posisi, lalu merebahkan diri di ranjang, tepatnya di samping Dira.


"Iya, seriuslah suamiku!!" Dira langsung berbaring, mengenyampingkan tubuhnya, menatap lelaki itu dengan senyum lebar.


Setelah mendapat izin dari sang istri, Defan langsung menyambar Dira. Meski masih sore, keduanya lanjut melakukan penyatuan. Babak pertama hari ini pun berakhir sempurna.


Defan berhasil meluapkan hasratnya yang sempat tertunda karena istrinya yang polos itu. Kini, Defan senyum-senyum sendiri setelah mendapatkan kemauannya.


Keduanya masih berbaring di ranjang usai melakukan penyatuan. Dira bersandar pada lengan kekar pria itu, sementara Defan terus-terusan mencium pucuk kepala istrinya dengan lembut.


"Sayang, kau merasa ada yang .aneh nggak sama dirimu sendiri?" tutur Defan membuka topik pembicaraan mereka.


"Aneh kenapa, ya, bang?" Dira mendongakkan kepala, menatap pria itu penuh tanda tanya.


"Kau merasa nggak, akhir-akhir ini makanmu banyak kali loh. Terus, kalau abang perhatikan, badanmu sedikit berisi sekarang," urai Defan dengan pendapatnya.


"Gimana nggak berisi kalau makannya aja banyak," timpal Dira.


"Iya, makan banyak itu kenapa? Biasanya kau makan porsi biasa aja kok. Sekarang makannya sebakul," ledek Defan.


"Jadi, abang nggak suka lihat aku makan banyak? Terus karena tubuhku berisi, abang jadi nggak cinta lagi sama aku?" sesal Dira menggerutu.


"Bu–bukan gitu maksud abang loh, yang! Maksud abang itu, kayak ada yang aneh gitu loh," jelas Defan dengan kata-kata yang tidak bisa dicerna oleh istrinya.


"Anehnya tuh gimana sih, bang? Aku nggak ngertilah apa maksud abang!" Dira meraba-raba tubuh suaminya, mengelus dada sembari larut dalam pikirannya sendiri.


"Entahlah, abang juga bingung mau menjelaskan kayak gimana. Mandi, yuk?" ajak Defan, sebab tubuh mereka masih belum dibersihkan.


"Enggak ah, tadi kan aku udah mandi loh bang! Masa mandi lagi, malas mau gerak." Dira masih pada posisinya, menyanggahkan kepala di lengan sang suami.


"Yaudah, cuci bersih aja, yuk. Abang bantu deh bersihinnya." Defan terus menatap istrinya dengan tatapan penuh damba.

__ADS_1


"Yaudah, aku lagi malas kali nih. Tapi ingat! Jangan nafsu lagi loh kalau pas ngebersihin itunya," sindir Dira menatap tajam ke arah suaminya.


__ADS_2